CASTELLO VS JANE

CASTELLO VS JANE
Bab 12



Bab 12


Lima belas menit kemudian, Julian keluar dari fitting room dengan ekspresi wajah yang tak dapat dideskripsikan.


"Ada apa?" tanyaku.


Julian pun mengambil langkah mendekat, duduk langsung. "Maaf, aku sampai tak bisa berkata-kata. Kalian tahu?"


"Memangnya kenapa?" tanya Erin.


"Castello..., Castello memiliki badan yang..., Diluar dugaan!" Julian menggelengkan kepalanya.


"Maksudnya gimana sih? Apa ada yang aneh dengan tubuhnya? Apakah *********** membesar seperi wanita pada umumnya?" ujarku dengan dahi yang berkerut.


"Bukan..., Jane! Justru kotak-kotak!"


"Jadi maksudmu Castello memiliki tubuh sixpack?" tanyaku lagi tak percaya.


"Kau benar, seratus buatmu, Jane. Dadanya yang bidang, kakinya yang kokoh, dan..," Julian membungkuk membisikkan sesuatu, "anunya, wow... Ckckck, tak bisa digambarkan," lanjutnya lagi sambil tersenyum gila.


"Ih.. Julian! Sadar. Kau kan lagi membicarakan sahabatku. Aku tidak ingin mengetahui ukuran anunya," tukasku jijik.


"Kau pasti ingin tahu kalau kau melihatnya."


Aku bersandar di kursi, melipat kedua tanganku sambil berpikir. "Jadi?"


"Sungguh seksii*" sahut Julian.


"Tak heran, karena dirinya memang suka berolahraga," timpalku.


"Awalnya aku tidak percaya. Kalau dia memiliki bokong yang sekencang itu, Bahkan kau adalah sahabatnya yang sudah seperti kakak beradik. Memangnya kau tidak pernah melihat dia habis mandi?" tanya Julian.


"Lupakan hal itu. Penampilannya selama ini telah mengalihkan perhatian kita, tapi kini tidak lagi. Tunggu sampai kau lihat penampilan barunya! Sudah siap, Castello?" Seru Julian.


Castello mencungulkan kepalanya, "Jujur, aku masih belum yakin soal ini."


"CK, jangan terlalu lama berada di dalam sana. Tidak ada yang akan melihatmu selain dirimu sendiri yang terpantul dari cermin. Cepat, keluarlah!" perintah Julian.


"Celana ini terlalu ketat dibagian belakangku. Kurasa ini tidak baik untuk peredaran darahku."


"Castello, kau pasti terlihat keren," ujar Erin menyemangatinya.


"Castello, kenapa kau tidak langsung keluar saja dulu? Memangnya apa yang akan terjadi?" Aku langsung menyela.


Dengan perlahan ia membuka pintu fitting room, dan berjalan pelan ke arah kami. Ia memutar tubuhnya pelan dengan canggung. Kakinya dibaluti dengan jins yang sangat pas untuk bokong*nya. Pandangan kami pun terfokus akan hal itu. Sedangkan atasan yang ia kenakan saat ini, kaus putih polos yang menonjolkan otot sixpacknya dengan jelas.


Aku mendongkak ke atas menuju arah kacamata dan gaya rambut yang dimilikinya. Itu harus dipermak juga. Tapi untuk saat ini, aku tidak kecewa dengan penampilannya. Justru aku bangga seakan mendapatkan jackpot yang tiba-tiba sahabatku bisa saja menjadi model dadakan untuk sebuah majalah.


...****************...


Baiklah. Kami semua beralih tempat menuju salon yang terkenal sekaligus, yang memiliki penghargaan dan pencapaian fantastis di antara salon-salon lainnya. Aku sendiri agak terintimidasi saat berada di sana, padahal rambutku tidak seperti rambut yang dimiliki Castello. Semua yang berada di sana sungguh terlihat begitu sempurna tanpa cacat sedikit pun.


Baru saja satu detik memasuki salon ini, aku langsung meraih topiku lalu memakaikannya dan sedikit merapikan rambut yang tak tertata. Setelah berbelanja sepanjang pagi, Erin dan Julian pun memercayakan tugas ini kepadaku, sebelum kami berkumpul kembali nanti sore. Kami dipersilahkan untuk duduk di bagian belakang salon, di tempat kami menunggu dengan sabar.


"Percuma saja menutupinya... Aku sudah melihat akar rambutmu sewaktu masuk tadi," ujar seseorang sambil mengangkat topiku dan sepasang tangan mulai menggerayangi rambutku seakan sedang memeriksa kutu di kulit kepalaku.


...****************...


tbc