
Bab 30
“Aku merupakan pria tua yang beruntung berada di samping wanita yang paling cantik di ruangan ini,” kata seseorang sampai saliva yang hampir menetes dan langsung duduk berdekatan denganku. Untung saja aku menjauh dan mendempetkan kursiku ke arah Castello. Aku hanya menanggapi senyuman dengan canggung ke arah pria tua itu.
Seorang pebisnis terkenal, David Curtez, yang tahun lalu juga ia menghadiri acara ini dan kejadian yang tidak enak dipandang. Dirinya dengan bebas menyentuh bokongg kepala keuangan dari perusahaan Silver Stone. Wanita itu bergerak cepat menghadap dirinya, lalu menampar dengan kuat pipinya. Setelah berkelit dengan David Curtez, wanita itu menyerah dan pergi meninggalkannya.
Aku seraya mengambil sebuah buku menu, lantas menyodorkan ke arah Mr. Curtez. “Ini.., Anda cari menu?” Berharap buku menu itu memberinya pesan jelas-jelasnya kepadanya. Dugaanku salah besar. Ia membuangnya, lalu mendorong kedua sikunya ke meja dan menyorongkan tubuhnya ke arahku. Kalau sampai aku menemukan orang yang menata posisi duduk di sini, aku akan mencekik lehernya.
“Kau adalah salah satu wanita humas yang cantik di Peaman Brown, kan?” Mr. Curtez menarik saputangan dari sakunya dan mengelap keringat dari alisnya yang mirip akar-akaran.
“Aku memang bekerja di bagian humas, tapi aku belum pernah mendeklarasikan bahwa aku sebagai wanita humas,” jawabku dengan tatapan yang merendahkannya. Aku tak bisa menahan diri meskipun ia adalah salah satu klien kami.
“Apa kau seorang sekretaris?” tanyanya.
“Aku hanya seorang staf senior di sana.”
“Hahahahha.., kit adapat wanita yang bersemangat.” Mr. Curtez pun mengalihkan pandangannya ke arah Bob Dennah, seorang bos perkapalan, yang duduk di sebelah kirinya. “Apa kau menyukainya?”
Aku memandang ke arah Castello untuk memberikan sebuah kode, tetapi tepat di sampingnya ada seorang wanita yang sedang mengobrol dengannya. Aku hanya bisa menundukkan kepalaku. Sedangkan Mr. Curtez mengambil sebotol wine merah dan menuangkannya begitu saja ke dalam gelasku sebelum menuang ke dalam gelasnya sendiri.
“Ayo, kita mabora,” ajak Mr. Curtez sambil menyiku lenganku.
Aku pun menolaknya secara halus. “Maaf, aku tidak minum wine merah.”
“Oh, ya?” Mr. Curtez sedikit terkejut dan mengeluh. “Harus, Wine merah sudah terbukti secara ilmiah bisa memberikan orgasmee lebih kuat kepada wanita.”
Melihat keadaan itu, Bob dengan gerak-geriknya yang tak nyaman mulai beringsut ke sana-kemari, antara ingin menyelamatkanku atau tidak,tetapi dirinya belum menemukan cara yang pas untuk melerai tanpa adanya keributan.
Mr. Curtez tetap dengan candaan garingnya yang tak berguna dan terdengar menjijikkan di telinga para wanita, yah, termasuk diriku. “Hahaha, kau tenang saja. Selama ada aku, semua para wanita akan baik-baik saja!”
Aku pun berinisiatif untuk mendekatkan kursiku ke arah Castello lagi.
“Terima kasih.” Aku menganggukkan kepala lalu meneguk wine itu setelah si pelayan mengisi ke gelasku yang baru.
Aku baru saja ingin berdiri dari kursiku dan ingin pergi ke toilet, tetapi MC pembawa acara mengumumkan bahwa para tamu di persilahkan duduk di tempatnya masing-masing dan tak boleh meninggalkan kursinya. Aku terperanjat, lalu kembali ke tempat dudukku.
“Bagus! Itulah yang dibutuhkan semua orang. Mendengarkan pidato dari para pengusaha-pengusaha yang membosankan. Kita harus membuat hiburan tersendiri,” imbuhnya sambil menyorongkan tubuhnya lagi ke arahku dan mengedip kan sebelah matanya.
Aku menarik kursiku kuat-kuat hingga nyaris saja empat orang di sampingku tertabrak termasuk dengan Castello.
“Maaf,” bisikku segera untuk menenangkan mereka.
Acara penganugrahan ini terasa lebih lama dan lebih membosankan daripada tahun-tahun sebelumnya. Dan itu sangat membantu diriku yang tidak mendengarkan ocehan Mr. Curtez tentang seorang wanita yang suka bermain di atas. Entahlah, ini sangat membosankan dan menjijikkan. Ingin rasanya aku angkat kaki dari acara ini dan segera merebahkan diri di kasurku yang empuk. Tapi tak bisa karena ini adalah kursi yang berbayar yang dipesan oleh bosku.
Seiring berjalannya waktu, pikiranku terbawa ke pada Paul. Awalnya aku memercayainya begitu saja, bahwa suatu hal penting terjadi. Sekarang aku mulai menerka-nerka. Apakah ia membatalkan kencan karena aku payah dalam hal mendaki gunung? Atau yang lebih buruknya lagi, ia tak percaya kalau cidera yang kualami adalah cidera yang ringan saja. Mungkin saja ia kehilangan selera terhadap diriku yang mengalami hal itu.
Tiba-tiba terpikir olehku untuk mengirimi dia text. Mengatakan sesuatu yang biasa dan ringan saja, sekaligus menunjukkan perhatian, barangkali kepentingan daruratnya itu memang betul-betul penting yang kukatakan kepada semua orang.
Aku mulai mengetikkan sebuh pesan untuknya. “Semoga kau baik-baik saja. Sayang sekali kau tak bisa datang."
Aku pun langsung mengubah ke mode silient dan meletakkannya di sebelah piringku, seolah-olah aku menantikan sebuah panggilan yang sangat penting dari sebuah editor majalah atau apapun itu. Aku menunggu balasan dari Paul dengan sabar, yang dapat menghanyutkan pikiranku menjadi overthinking di antara pengumuman para pemenang penghargaan. Dan aku menerima kenyataan bahwa satu jam berlalu, Paul tak membalas pesan dariku.
...****************...
Tbc
Selamat membaca,
Jangan lupa tinggalkan jejak ya,
Terima kasih 🙏💜