CASTELLO VS JANE

CASTELLO VS JANE
Bab 7



Bab 7


Sebenarnya Castello sudah pernah berpacaran sebelumnya, kira-kira lima tahun yang lalu. Hubungannya dulu yah semacam itu lah, seperti drama-drama pekerja kantoran yang lagi menjalin kasih di dalam gedung tersebut. Walaupun dia sebenarnya bekerja di laboratorium. Yang jelas ia sempat menjalin kasih dengan Sherin dari bagian akunting selama sepuluh bulan sebelum mereka akhirnya berpisah karena Sherin dipindah tugaskan.


Tidak ada yang salah dengan wanita itu. Ia tergolong wanita yang pendiam, tak banyak bertingkah, sederhana tapi juga cukup menarik. Tapi sebagai teman baik yang tak ingin dianggap terlalu melindungi, sebenarnya menurutku Sherin kurang tepat untuk Castello.


Aku ingin menyukai Sherin dan aku ingin mengenalnya lebih dekat. Sayangnya, tidak ada apa-apa untuk diketahui lebih jauh dari dirinya. Dia sama saja dengan yang lainnya, maaf, membosankan.


“Aku yakin pada saatnya nanti kau akan menemukan seseorang yang pas untukmu, Castello,” ujarku menatap dirinya.


“Tidak akan,” sahutnya langsung. “Aku orang yang optimis, tapi aku juga realistis. Aku mulai berpikir bahwa itu adalah hal yang mustahil bagiku.”


“Aku payah kalau sudah berhadapan dengan lawan jenis,” lanjutnya. “Entahlah, tapi memang begitulah kenyataannya.”


Aku pun mengkerutkan kening, menatap heran. “Kenapa kau bisa seperti itu? Maksudku..., kenapa aku juga sorang wanita dan kau tidak gugup berbicara denganku.”


“Kau kan Jane! Dan itu sangat berbeda!” ujarnya ke arahku.


“Hebat. Kau tak ada alasan lain?”


“Mungkin aku sadar diriku yang kurang menarik. Aku tidak seperti pria-pria di majalahmu yang berpakaian modis dan yah.., mengacu pada teori-teori evolusioner dan ketahanan kaum yang terkuat, ras manusia takkan bertahan jika hanya ada beberapa saja yang berhasil mempunyai keturunan. Malah sebenarnya setiap organisme bersel banyak, terutama mamalia, memiliki kemampuan untuk menemukan pasangannya. Yah, maksudku tidak seperti dengan diriku.”


“Bisa kau menjelaskan apa yang kau maksud? Aku sungguh tidak paham dengan teori yang kau maksudkan itu.”


Castello melirik ke arahku, “Bahkan orang bahlull seperti diriku bisa mendapatkan pacar.s etidaknya secara teoritis.”


“Itulah masalahmu.”


“Apa itu?"


“Kau mengangagap dirimu bahlull, padahal kau tidak seperti itu,” ucapku membenarkan bahwa yang dikatanya terhadap dirinya adalah salah.


“Maksudmu memang baik, Jane. Tapi dalam kenyataannya memang demikian.”


“Dengarkan aku. Aku akan tetap pada dengan pendirian dan perkataan ku tadi, tapi..,” suaraku berubah menjadi lebih lirih.


“Tapi apa?” tanyanya mengernyitkan alis.


“Tapi, kau membutuhkan perubahan. Perubahan besar-besaran pada styles mu.”


“Oh, ya?” Castello menampakkan wajah terkejutnya. Aku pun tak kalah terkejut akan perkataanku sendiri. Meskipun kami tidak pernah membicarakan hal ini sebelumnya. Aku heran saja kenapa ia tidak sadar akan dirinya bahwa tak seorangpun masih berpakaian seperti dirinya.


“Aku tidak mungkin ikut ke acara televisi itu untuk mendapatkan perubahan yang seperti kau maksud, Jane,” lanjutnya.


“Tentu saja tidak usah ke sana. Aku bisa melakukannya untukmu.”


Kenapa aku tak pernah memikirkan hal ini sebelumnya? Aku tersenyum pada gagasanku yang cemerlang, lalu aku pun melirik ke arah Castello yang rupanya masih ragu-ragu.


“Percayalah. Sebagai orang yang telah menghabiskan sebagian besar kehidupan dewasanya untuk mengamati pria-pria menawan secara terperinci, aku tahu bagaimana caranya memilihkan pakaian untukmu. Juga gaya rambut yang cocok untuk model wajahmu itu. Sekalian kita akan perawatan. Aku yakin kau akan berkilau. Sekali-kali kau perlu mencoba mikrodermabrasi.”


“Kau yakin? Bukanya itu sebuah proses pelepasan kerak dan karat pada mobil?”


“”No!” tukasku, “ Ayo kita lakukan ini dengan benar.”


“Hei, apa maksudmu?”


Dengan mata yang berkilat-kilat tidak sabaran, aku menatap wajahnya,”Membuatnya menjadi nyata,” seruku tanpa ragu.


“Apa? Ya ampun!” Castello menepuk jidatnya.


...****************...


tbc