CASTELLO VS JANE

CASTELLO VS JANE
Bab 38



Sepanjang sisa hari itu aku harus mengumpulkan segala pernak-pernik pamungkas untuk peluncuran video game itu dan menata segalanya sebelum kru TV pergi ke rumah sakit. Drew yang seharusnya mendapat tugas menangani klien tersebut hari ini, dan seharusnya ini menjadi pekerjaannya. Tapi sebaliknya, aku yang belingsatan menyelesaikan semuanya, mulai dari menentukan waktu dan tempat, rapat dengan para personel dan memohon kontakku di stasiun TV untuk mewawancarai Lena Williams sebagai kepala eksekutif rumah sakit itu.


Drew malah menyibukkan diri menggarap laporan pers yang belum akan lewat tenggat sampai hari Kamis minggu depan, dan, yang paling tak bisa dipercaya, ia hanya menelepon satu klien saja sepanjang siang ini, yaitu ke redaksi bisnis Journal, menanyakan lagi tentang berita Ernst Sumner yang belum juga terbit.


Hingga waktunya aku pergi ke tempat peluncuran aku merasa seperti gurita yang memainkan semua tentakelku untuk menghalau semuanya. Tapi persiapan untuk kedua pekerjaan itu pun selesai dan aku puas karena yang perlu dilakukan Drew hanyalah datang.


Tapi tetap saja aku tak bisa berhenti hanya karena ia sangat "bisa dipercaya" seperti Jenderal yang gusar. Kru TV selalu langsung pergi di menit terakhir karena harus segera membuat bahan untuk lintas berita. Sampai pengambilan gambar mereka selesai, aku takkan berharap semuanya selesai dengan benar.


Peluncuran itu merupakan kegiatan yang amat sangat sibuk, terdiri atas orang-orang pemasaran yang terus-menerus mengganggu, sutradara iklan yang grogi, orang-orang teknik yang membingungkan dan media yang tumpah ruah. Artinya semua ini akan berlangsung tanpa aku bisa melakukan hal lain sedikit pun. Karena media yang tumpah ruah artinya liputan yang melimpah dan pekerjaan rampung dengan sempurna.


Aku lalu masuk ke mobil diiringi ucapan terima kasih dari direktur operasional yang bertubi-tubi sampai-sampai masih berputar-putar di kepalaku, tapi aku tetap tak bisa santai sampai aku menemui Drew. Aku sudah mengirimkan pesan kepadanya untuk memastikan semenjak satu setengah jam yang lalu. Dan kau tahu, tanpa balasan sama sekali. Tatkala aku keluar dari tempat parkir, aku memencet nomornya dan merasa


sangat lega karena Drew mengangkat.


"Bagaimana acaranya?" tanyaku buru-buru.


"Salam macam apa itu?" sahut Drew saat mengangkat telepon dariku.


"Oh, come on, Drew, ceritakan kepadaku. Apakah kru TV nya datang ke lokasi?" tanyaku sedikit memaksa.


"Tidak perlu agresif begitu, Jane."


"Demi Tuhan, Drew. Tolong ceritakan apa yang terjadi! Aku bertanya kepadamu dari tadi seolah-olah kau tidak mengindahkan pertanyaanku."


"Maaf, Jane, aku hampir masuk ke terowongan. Aku akan kehilangan Sinyal ..."


Telepon mati. Aku mencoba dan terus mencoba men-dial ulang. Ini membuatku menghabiskan waktu dua puluh menit untuk mencoba lagi dan gagal mendapatkan tanggapannya sampai akhirnya aku ketakutan akan kejadian terburuk. Aku mencoba menenangkan diriku bahwa aku sudah melakukan apa pun yang aku bisa, mulai dari merencanakan segalanya sampai yang terkecil. Yang perlu dilakukan Drew hanyalah muncul dan datang ke acara itu. Jelas seorang Drew pun takkan bisa merusaknya...


Lalu aku ingat siapa itu Drew. Roger mungkin percaya kalau Drew memiliki potensi terpendam, tapi sejauh yang aku perhatikan ia juga punya bakat tersembunyi lainnya.


Aku memencet redial, namun untuk yang kesekian puluh kalinya hanya diterima kotak suara.


"Drew, dengar... kumohon bisakah kau menelepon balik dan memberitahuku bagaimana acaranya? Kau tahu betapa pentingnya klien ini bagiku. Ayolah, bebaskan aku dari derita ini!"


Aku masih belum mendengar berita dari Drew sampai aku masuk ke jalan masuk apartemenku, meminggirkan mobilku ke tepi dan meloncat keluar. Gerbang depan tertutup dengan terburu-buru, aku meloncati gerbang, dan jari kakiku tersandung, lalu aku terpincang-pincang ke lantai atas sambil merunduk.


"Ya, ampun!" teriak Castello saat aku menghambur ke ruang tamu.


"Aku sedang buru-buru, aku jelaskan nanti," kataku kepadanya, memungut remot dan mengeklik-ngeklik tepat pada saat lagu pembuka berita regional diputar.


Kecemasanku seketika menghilang. Tayangan itu muncul pada menit ke lima yang membuat paket liputan tiga setengah menit untuk ditayangkan. Ini berita yang sangat cepat, dan bahkan mewawancarai Lena Williams, persis seperti yang kumohon-mohon kepada sang produser. Ketika tayangan khusus itu selesai, aku bersandar dan memejamkan mata karena lega. Napasku mulai berjalan normal.


Drew... aku sudah melihat tayangannya dan bagus. Sekali lagi terima kasih.


Aku baru saja akan memencet tombol kirim ketika ada getaran yang menyerang indera perabaku, memberitahukan ada e-mail masuk. Aku membukanya dan ternyata dari Roger kepada Drew, dan aku sebagai orang yang dilampiri.


Drew, aku lihat beritanya dan ingin mengucapkan selamat kepadamu karena pekerjaan sempurna ini. Sempurna karena ini bukan klienmu sendiri. Aku tahu pentingnya mewawancarai cepat kepala eksekutifnya—jadi membuatnya bisa tampil di TV selama itu adalah hasil yang sangat luar biasa. Kau kian bersinar di perusahaan ini.


Terima kasih banyak, Roger.


"Sial," umpatku. "Benar-benar sial." Aku mengumpat setelah membaca isinya. Kalau begitu untuk apa aku menjadi orang yang dilampiri?


"Ada masalah apa?" tanya Castello memasang wajah heran.


"Jangan tanya," ucapku ketus.


Ia langsung bungkam dan tak ingin mengucapkan sepatah kata pun.


"Baik, tanya saja." Aku harus mengeluarkan semua ini dari dadaku. Aku baru sampai tengah cerita, ketika ponselku bergetar lagi dan aku langsung membukanya. Ternyata jawaban Drew.


Terima kasih, Roger, senang mengetahui kalau usahaku ternyata mendapat perhatian! Klien sepertinya juga senang dengan apa yang kurancang! Membuat semua usahaku tidak sia-sia! Drew.


Penambahan tanda seru yang penuh keceriaan itu membuatku ingin segera ke rumahnya sambil membawa pisau roti dan menancapkannya ke ban mobilnya. Lalu menusuk-nusuk tanpa henti. Sangat mengesalkan.


"Sekarang apa?" tanya Castello, tampak cemas.


Aku mengeluh. "Huft, kurasa malam ini kita harus pesta es krim cokelat."


Castello pun ikut tersenyum. "Baiklah. Aku juga ingin merayakan sesuatu."


"Oh?" Aku terkejut. Tak biasanya ia seceria ini.


"Racel menelepon. Aku dapat teman kencan." Castello memberi tahu dengan wajah yang ceria dan sedikit bersemu merah di wajahnya.


Aku senang mendengar berita yang mengejutkan. Seketika aku langsung menarik ujung bibirku ke atas, menampilkan senyuman yang luar biasa, di luar kejadian bahwa rancangan ku sudah diakui oleh Drew. Rasa-rasanya aku ingin mengumpat, dan mengeluarkan kata-kata kasar dari mulutku, tapi untuk apa. Aku turut bahagia untuk sahabatku.


...****************...


tbc