
Bab 70
Kembali kepada masalah yang kuhadapi dalam pekerjaan. Aku punya banyak masalah hari ini, paling tidak mengejar klien baru untuk menggantikan masalah Peach Gear Meskipun memang memuakkan karena mereka masih menganggap bahwa akulah sumber kebocoran berita itu aku sudah menerima kenyataan bahwa mereka tidak akan pernah percaya kepadaku lagi. Satu-satunya cara untuk melanjutkan karierku adalah dengan menemukan klien pengganti. Karena itu aku memperindah presentasi untuk rapat besok dengan perusahaan mode online yang besar.
Dua pucuk surat mendarat di mejaku dan pada saat aku mendongak, Little Lily sudah berada setengah jalan untuk keluar ruangan dan membelakangiku. Ia cuti sakit selama seminggu dan aku tidak mendengar kabar sedikit pun darinya sejak ia datang ke kantor pagi ini. Aku hendak kembali untuk mengerjakan proposalku lagi ketika Lily berbelok ke kiri dengan tajam dan berlari kencang ke kamar kecil. Aku mengernyit, berharap seseorang akan mengejarnya, namun dengan cepat aku menyadari bahwa para pengacau yang tidak peka itu bahkan belum menyadarinya.
Dengan enggan kututup presentasiku, kemudian aku pergi untuk melihat keadaannya. "Apa kau ada di sini, Lily?"
Aku mendorong pintu sampai terbuka dan melihat ke bagian bawah bilik. Aku disambut oleh keheningan, kemudian suara terisak yang terdengar seperti pembuka sekrup wastafel industri. "Lily?" aku memanggilnya lagi.
Pintu bilik yang paling ujung berderit terbuka. Aku menemukan Lily duduk di kursi toilet sambil menangis. Ketika ia mendongak, ia begitu bersemangat menggosok matanya yang dirias dengan indah, sehingga terlihat seperti dua potongan batu bara yang besar.
"Kumohon jangan bilang siapa-siapa kalau aku ada di sini." Ia mencoba menghapus maskaranya, namun hanya berhasil melepaskan bulu mata palsunya.
"Oke," aku meyakinkannya. "Apa yang terjadi?" Ia mengundangku masuk dan memintaku menutup pintu bilik. "Begini, kau tahu pacar baruku?" katanya parau.
"Dia mencampakkanku."
Aku berjongkok ke bawah dan memegang tangannya. "Oh Lily, itu mengerikan. Aku turut prihatin."
"Parahnya, ternyata dia hanya memperalatku. Dia sama sekali tidak peduli denganku. Dia memanfaatkanku untuk tujuannya sendiri yang mengerikan."
Aku mengernyit. "Aku yakin itu tidak benar."
"Itu benar. Karena aku sudah lama tertarik padanya, aku tidak bisa melihat tujuannya. Sekarang, dia tidak hanya mencampakkanku, tapi gara-gara perbuatanku, seseorang yang benar-benar baik berada dalam kesulitan. Seseorang yang tidak layak mendapatkan perlakuan seperti itu."
Aku mencoba untuk menghibur Lily. "Dengar," aku terus berkata dengan lembut, "apa pun yang terjadi, aku yakin..."
"Drew," ia memotong.
Aku berhenti sebentar untuk berpikir apakah benar apa yang kudengar. "Ada apa dengan Drew?"
"Drew adalah pacar baruku."
"Tapi... dia jahat sekali." Kata-kata itu terlontar begitu saja. "Aku baru menyadarinya sekarang," Lily meratap. "Sekarang Drew sedang menggoda Stacey, karyawan magang itu."
"Oh." Aku benar-benar terkejut. Little Lily memang tidak pernah menjadi orang yang paling pintar, namun aku selalu yakin bahwa ia hanya bermain mata dengan Drew dan tak lebih dari itu.
"Kusangka dia benar-benar menyukaiku," Lily terisak, "tapi satu-satunya hal yang diinginkannya dariku adalah..."
"ranjang yang penuh dengan kehangatan?*" aku menyelesaikan kalimatnya.
"Sebenarnya bukan itu,*" katanya, membuatku terkejut. Kemudian, "Oh, aku sangat menyesal, Jane."
"Untuk?"
Lily menyembunyikan wajahnya dengan tangannya. "Kau tahu laporan yang kau minta agar kubendel secara profesional?"
Tenggorokanku mengencang. "Strategi masalah Peach Gear?"
"Waktu itu kusangka tidak ada ruginya menunjukkan dokumen itu kepadanya," Lily mengoceh. "Drew bilang dia hanya ingin menyalin salah satu logonya... Kalau saja aku tahu akibatnya... Oh Tuhan, Jane, aku merasa ingin bunuh diri." Ia kembali terisak, menyesali perbuatan yang telah dilakukannya.
Aku pun berdiri, rahangku terkatup. "Tidak sebesar keinginanku untuk membunuh Drew."
...****************...
Drew sudah tahu bahwa aku tahu semuanya pada saat ia melihat wajahku. Dan meskipun ia menyangkal habis-habisan tatkala aku memojokkannya di ruang rapat, bahasa tubuhnya mengkhianatinya seakan-akan ia disorot dengan dua lampu besar di atas studio.
Ia mencoba mendorong melewatiku untuk pergi ke pintu, namun aku tidak mau minggir.
"Tidak ada gunanya menyangkal," kataku sambil bersedekap. "Lily menceritakan semuanya. Satu-satunya hal yang tidak kuketahui adalah sebabnya. Mengapa kau melakukannya, Drew?"
"Kau gila," tukasnya. Lalu ia melangkah ke belakang dan tidak sengaja membenturkan kepalanya ke salah satu potongan berita berbingkai di dinding. Jelas ia sangat kebingungan.
"Apakah kau begitu membenciku sehingga kau mencoba menjatuhkan karierku karena dendam?"
"Pembicaraan apa ini?"
"Ataukah ada motif lain?"
"Semua ini konyol dan aku tersinggung atas tuduhan yang tidak masuk akal ini," ujarnya.
"Ayolah." Aku bertahan. "Mengaku saja. Alasan apa yang mungkin kau miliki sehingga kau membocorkan informasi semacam itu kepada media Gazette ketika..."
Kalimatku belum selesai ketika, untuk suatu alasan yang tidak bisa kubayangkan, aku menyadari diriku melihat potongan-potongan berita di dinding, potongan-potongan itu terdiri atas bingkai demi bingkai berita yang dipublikasikan Peaman-Brown. Berita-berita yang dianggap Roger sebagai yang terbaik. Ada banyak contoh dari karya Julian, Stephen, Emma, dan yang lainnya serta... aku. Setiap orang memiliki setidaknya beberapa artikel di sana. Semua orang terkecuali Drew. Ia hanya memiliki satu artikel, berita Ernst Sumner yang muncul dalam surat kabar media Gazette pada minggu yang sama dengan masalah yang menimpa perusahaan Peach Gear.
"Oh, Tuhan," kataku, mulai mengerti masalahnya.
"Apa?" bentak Drew, saat dahinya mulai berkilau karena keringat yang mengucur.
"Kau melakukannya. Kau melakukan sistem barter Informasi," kataku menuduh. "Kau memberi mereka berita utama tentang masalah perusahaan Peach Gear yang sedang dihadapinya sebagai imbalan agar mereka mencetak berita jelekmu tentang Sumner. Berita yang membuatmu menghabiskan waktu berbulan-bulan, untuk mencoba membuat berita itu dicetak dengan sia-sia, sampai secara misterius berita itu muncul di minggu yang sama dengan berita yang mencuat menimpa perusahaan Peach Gear. Kau keterlaluan, Drew!"
Drew menatap ke luar jendela seolah-olah ia tidak mendengar penjelasanku terhadap dirinya.
"Drew, apa kau tahu seberapa serius masalah ini?" tanyaku lebih lanjut dengan putus asa. "Lupakan persaingan kecil kita. Kau mempertaruhkan reputasi salah satu klien terbesar perusahaan ini untuk membuat satu berita jelek dimuat di koran itu."
Drew melotot ke arahku, seakan-akan bola matanya ingin keluar dari tempatnya. "Mereka akan memecat kita," sergahnya.
"Salah siapa itu?" tuntutku.
"Mereka kecewa karena tidak kunjung diberitakan. Jawabannya bukanlah dengan menginjak-injak klien orang lain."
Drew tidak mengatakan apa-apa dan aku bertanya-tanya untuk kedua kalinya apakah akhirnya aku mempermalukannya.
"Aku tidak akan mengakuinya," bisiknya. "Dan kau tidak akan pernah dapat membuktikan hal itu."
"Jane tidak harus membuktikan apa pun."
Ketika aku berbalik, Roger berada di pintu. Ekspresi wajahnya menampilkan ekspresi yang belum pernah kulihat sebelumnya, yaitu marah besar.
"Jane, mungkin kau bisa memberikan Drew dan aku beberapa menit untuk berbicara berdua saja."
Aku melirik Drew. Rahangnya gemetar, namun ia tetap bersikap menantang.
Saat aku meninggalkan ruangan, aku menutup pintu dan berjalan ke mejaku. Aku membuka kembali presentasiku dan mencoba fokus pada hal itu, namun dalam waktu lima menit, Julian pun muncul.
"Apa yang terjadi denganmu dan Drew? Aku melihatmu menyeretnya ke ruang rapat dan aku bertanya-tanya dari raut wajahmu apakah dia bisa keluar dari sana hidup-hidup?"
...****************...
Tbc