CASTELLO VS JANE

CASTELLO VS JANE
Bab 32



Bab 32


“Jangan khawatir, aku akan ke sana.” aku bangkit berdiri.


Lampu sorot itu berputar-putar dan mendarat menyoroti tepat di tubuhku. Musik yang membahana, memacu adrenalin terus di gaungkan, diatur dalam iramam yang jelas hendak mengunggah para hadirin kembali bersemangat untuk bertepuk tangan sangat meriah.


Aku tersandung, hak sepatuku bergoyang tatkala aku menyelip-nyelip di antara meja yang ada. Dan akhirnya aku sampai ke panggung yang di dekor sangat megah dan mulai mencoba menaiki tangga empat undakan menuju podium layaknya sedang beraksi menyusuri tali kawat di jemuran.


Dengan ajaibnya, aku sampai di atas dengan selamat. Dengan segera aku mengambil penghargaannya yang sudah ada ditangan pembawa acara, mencipika-cipikinya lalu berlari kecil ke belakang mimbar yang kucengkram dengan erat untuk menghentikan gemetaran yang melanda tubuhku. Aku bisa mendengar detak jantungku sendiri yang berdegup dengan sangat kencang bagaikan orang habis melakukan lari maraton dengan puluhan kilo meter. Dan aku berdoa semoga mikrofonnya tidak menangkap suara-suara itu.


Aku memandang ke lautan wajah-wajah yang berharap dan aku bersumpah tidak akan mematung ketakutan. Aku tak boleh terpaku. Aku harus berani mengeluarkan suara, demi perusahaanku dan Roger, bosku.


“Apakah anda ingin menyampaikan sepatah dua patah kata, Miss...?” tanya pembawa acara itu, berharap aku segera memulainya.


“Emm, ya,” ucapku dengan gugup.


Aku mencoba memikirikan sesuatu. Sesuatu yang mantap dan tak terlupakan, sesuatu yang akan membuat semua orang di ruangan ini ingin mennggunakan jasa dari perusahaan kami. Tapi otakku tetap saja buntu. Oh Tuhan, bantu aku untuk mendapatkan kata-kata untuk kuungkapkan di depan publik!


Lalu tiba-tiba aku merasakan gelombang inspirasi. Aku akan melakukan trik kuno itu dan membayangkan semua orang di ruangan ini dengan tak menggunakan seheali benang pun.


Aku memejamkan mataku dan menghirup napas dalam-dalam. Tatkala membuka mata, dan semua orang sudah bugill. Sebenarnya bukan pemandangan yang enak dilihat. Aku berharap trik ini akan sukses.


“Ini adalah suatu kehormatan yangteramat luar biasa bagi perusahaan kami,” kataku kepada para hadirin yang ada di acara penghargaan, terkejut sendiri mendengar suaraku yang sangat meyakinkan.


“Kami telah mencapai kesuksesan besar di tahun-tahub belakangan ini, mendapatkan banyak klien terbaik di kawasan ini dan mempekerjakan staf-staf yang paling berbakat. Penghargaan bergengsi ini adalah pengakuan atas kerja keras tim yang terdiri atas orang-orang yang luar biasa.”


Aku menggumam di dalam hati, menerka bahwa dengan adanya penyampaianku ini berjalan dengan mulus. Aku tak putus untuk memikirkan kalimat selanjutnya dan tersenyum kepada seorang wanita di barisan paling depan. Seperti yang lainnya, ia pun sama sekali tak berpakaian, dan aku membayangkan dengan tak senonoh.


Para hadirin pun tertawa dengan lelucon yang kubuat. Dan jujur saja ini yang membuatku lega dan puas. “Orang yang seharusnya berdiri di sini adalah pendorong kesuksesan di perusahaan Peaman-Brown. Seorang pria yang hebat untuk dijadikan teman bekerja dan seorang atasa yang sangat penuh denga inspiratif...”


Aku tak sengaja melihat seorang lelaki yang ada di depan panggung sebelah kiri yang sangat bisa kulihat, ia membuka posisi kakinya hingga mebuatku terpaksa melihat pemandangan tak enak.


“Direktur saya...”


Setengah mati aku berusaha membuang bayangan perkakas pria yang ada di depan sebelah kiri ini, tapi entah kenapa aku malah terpesona.”


“Roger...”


Satu-satunya yang ada di kepalaku adalah ...


“ .... (sensor).” Aku tak menyadari kata-kata itu keluar dari mulutku di atas panggung yang megah ini dan dipenuhi dengan pengusaha-pengusaha berbagai bidang sebagai tamu terhormat.


Aku menunggu gelombang tepuk tangan yang meriah dari para hadirin namun, anehnya seluruh ruangan malah diam terpaku. Lalu semuanya mulai tertawa. Tertawa terbahak-bahak. Dan tak ada seorang pun dari pria-pria itu bertepuk tangan.


Aku memutuskan untuk segera mengakhiri dan keluar meninggalkan area panggung. Aku berlari menyeberangi panggung dan nyaris saja tersandung di tangga karena wajahku sudah memerah padam. Tatkala aku sampai di kursiku. Semua orang di kursinya tampak terkejut termasuk dengan Castello.


“Ada apa dengan mereka? Apa ada yang lucu dari ucapanku di atas panggung itu?” tanyaku di luputi dengan wajah sedih bercampur bingung, heran.


...****************...


Tbc