CASTELLO VS JANE

CASTELLO VS JANE
Bab 51



Bab 51


Di dalam restoran tersebut sibuk dan pelayanannya relatif lambat, tetapi itu bagus karena berarti aku bisa belajar semua hal tentang Will. Aku memutuskan untuk menyukainya. Aku sungguh menyukainya. Aku tidak bisa mengatakan kami memiliki banyak kesamaan, mengingat bahwa dia dibesarkan di sebuah rumah dengan tujuh kamar tidur sementara aku tidak.


Walaupun demikian, Will adalah salah satu orang yang hidupnya nyaman dan karenanya tepat yang aku butuhkan. Pada saat pesanan kami datang, aku bertekad untuk membuatnya terkesan.


"Apa yang kau pesan?" ia bertanya, melihat ke arah piringku.


"Tempura udang raja dengan cabai dan selai jeruk nipis. Aku suka makanan laut."


"Mmm, aku juga," katanya. "Tapi aku juga suka sup, dan yang satu ini sepertinya sangat lezat. Sup tomat dan kemangi."


"Enak." Aku mengangguk, mengambil garpu dengan pelan dan bertanya-tanya bagaimana cara sukses menyantap hidangan tanpa mengganggu kuku-kukuku.


Kami pun mengobrol dari topik pekerjaan, bagaimana aku tertarik dengan dunia humas, mengerjakannya dan yah, sampai detik ini. Tetapi hal ini belum cukup membuahkan hasil dalam pendekatan kami.


"Kau beruntung telah menemukan pekerjaan yang begitu kau nikmati," kata Will.


"Yah, aku kira seperti itu."


"Aku tidak tahu bagaimana kau mengerjakan itu semua, mengingat kegiatan di luar pekerjaanmu sangat banyak. Kalau tidak salah bukankah tempo hari kau pernah bilang... kau bisa main anggar?"


Aku merasa tengkukku semakin panas, walaupun kata-kataku itu sebetulnya ada benarnya. Yah, barangkali tingkat kebenarannya sedikit berlebihan. Tapi aku dulu memang pernah dipilih untuk mengambil bagian dalam demonstrasi oleh seorang mantan juara anggar di sekolah saat aku berumur tiga belas tahun dan ia mengatakan bahwa aku punya bakat alami. Dalam situasi itu, aku merasa aku dapat menegakkan kepalaku tinggi-tinggi.


"Aku tidak main sesering dulu," kataku. "Bahkan, aku sedikit kadaluarsa di bidang itu."


"Aku yakin itu seperti mengendarai sepeda. Aku selalu membayangkan diriku bermain anggar. Bagaimana kalau kau menunjukkannya kepadaku di akhir pekan nanti?"


"Ehm..."


"Kecuali kalau kau pikir aku akan menghambatmu."


"Bukan itu."


"Kita jadikan itu sebuah kencan!" Will menyendok supnya penuh-penuh.


"Aku sibuk akhir pekan depan," aku berkata berpikir. Jelas, ucapanku terdengar lebih keras daripada tanpa yang kuharap karena Will tampak kaget.


"Oh, oh, begitu. Aku mengerti"


Tidak, kau tidak mengerti. Sekarang aku telah membuatnya berpikir kalau aku tidak menyukainya. Apa yang harus kulakukan?


Will terus makan sup tanpa bicara, sementara aku dengan rasa khidmat memulai dengan udangku, bertanya-tanya mengapa semua hal menjadi serba salah.


Will melihat ke luar jendela. "Aku tidak pernah menyadari betapa megahnya arsitektur kota ini." Itu komentar acak, tapi aku begitu bersyukur pada usahanya untuk membuat percakapan kembali ke jalurnya sampai aku ingin membungkuk dan menciumnya.


"Oh, iya." Aku tersenyum saja. "Ada lebih banyak bangunan terdaftar Kelas Satu di sini daripada di mana pun di luar London."


Aku meletakkan garpuku untuk mengambil wine. Tapi saat aku meraih gelas wine, tanganku membentur poci besar berisi lada hitam dan aku mendengar bunyi "ting", saat rasa sakit seperti merobek jariku.


Aku menyedot udara dari sela-sela gigiku dan sejenak merenungkan sumber deritaku. Kemudian aku sekilas melihat kuku palsuku. Meroket menyeberangi meja seperti rudal pencari panas.


Mataku melebar karena panik dan aku mendengar jeritan terlepas dari bibirku. Sial! Kuku palsuku mengudara. Dan kuku itu mengarah... langsung menuju sup teman kencanku.


Jantungku serasa berhenti berdetak saat kuku itu mendarat dengan percikan kecil, berhenti sejenak seperti Titanic versi mini.


Celaka! Astaga...


"Aku terutama suka dengan gedung Cunard," Will melanjutkan, tampaknya tidak menyadari kuku sintetis yang kulontarkan masuk ke dalam hidangan pembukanya. "Benar-benar megah, semuanya dipengaruhi oleh Renaisans Italia. Hampir-hampir melebihinya... tak bisa disangkal."


Ia menunggu jawaban.


"Um... yah." Aku tersenyum lemah, jantungku berdebar keras menghancur leburkan tulang rusukku. "Begitulah."


Hampir tak mampu bernapas, aku terpaku saat ia memasukkan sendok ke dalam supnya dan mengangkatnya menuju mulutnya. Aku terdiam sesaat sementara ia menyesap, tampaknya berhasil, lalu meletakkan sendoknya kembali ke dalam mangkuk. Aku menarik napas lega sesaat.


"Pelayan!" aku berteriak, memberi isyarat kepada salah seorang pelayan yang sedang melayani meja di sebelah kami.


Pelayan itu menoleh dan mengerutkan dahi "Tolong ke sini!"


"Saya sedang melayani tuan dan nyonya ini," pelayan itu menjawab dengan kaku. "Tapi saya akan segera ke sana, Madam."


Aku berbalik kembali ke Will, wajahku terasa terbakar.


"Sebenarnya, aku ingin menghabiskan sup ini," Will berkata dengan wajah khawatir. "Ini enak."


Ia mengangkat sendoknya ke mulutnya sekali lagi dan aku menahan napas lagi. Saat cairan meresap di antara bibirnya tanpa adanya insiden, aku hampir pingsan karena lega.


"Mengapa kau terburu-buru?" Will bertanya, sambil menyendok sup lagi.


"Aku hanya... aku..." Aku tidak dapat memikirkan alasan apa pun.


Sendok masih di tangannya saat tatapan kecewa melekat di wajahnya. "Kau tidak menginginkan kencan ini, ya?"


"Bukan begitu, aku menginginkannya!" jeritku.


"Kau tidak terlalu menyukaiku, aku tahu."


"Aku suka! Sejujurnya aku suka! Hanya saja..." Aku mempertimbangkan untuk mengatakan apa adanya dan mengakui tentang kuku yang nyasar itu. Tapi kemudian, pelayan datang.


"Nah, Madam," katanya dengan senyum kaku. "Apa yang dapat saya bantu?"


Aku melirik Will sekilas saat ia menyesap sup lagi dari mangkuknya dan aku dapat melihat tepi putih sesendok putih kuku palsuku yang mencuat. Keringat dingin merebak di dahiku.


Terlepas dari keinginan Will untuk menghabiskan hidangan pembuka itu, aku menoleh untuk menginstruksikan pelayan agar mengambil mangkuk bermasalah tersebut.


Ketika aku melihat dengan sudut mataku Will sedang menyesap sesendok lagi. Aku melirik ke arah mangkuk lagi dan, aaaaah! kuku itu sudah hilang. Aku menatap Will dan aku menelan ludah. Ia menatapku dan tersenyum. Tapi senyumnya berlangsung kurang dari satu detik. Segera saja ia mengernyit. Segera ekspresinya menjadi sangat aneh. Wajahnya sangat... merah.


"Cchhrrr!"


"Kau tidak apa-apa?" Panik melandaku.


"Chhrrr!" Will mencengkeram kerongkongannya.


Tubuhku serasa lumpuh, aku menyaksikan Will batuk dan bergetar, pipinya berwarna ungu, sungguh mengkhawatirkan. Ia berdiri dan mulai menggerak-gerakkan tangannya dengan liar ke bagian bawah kerongkongannya, saat para tamu di meja sebelah bertanya-tanya apa yang terjadi.


"Oh, Tuhan!" Aku memekik dan menabrak wineku.


"Ada sesuatu tersangkut di kerongkongannya," teriak si pelayan, mengerti.


"Lakukan sesuatu!" Aku menangis.


"Chhhecrrhrhrhh!!" kata Will.


"Aku bisa melakukan manuver Heimlich!" Seorang wanita besar paruh baya dari meja sebelah menerobos maju.


Wanita itu mengangkat Will, memeluk Will dari belakang, dan melingkarkan tangannya di tulang rusuk Will, Kemudian ia mulai mengguncang ke belakang dan ke depan, mengencangkan lengannya di tubuh Will yang wajahnya menjadi semakin terang dan mendesis keras seperti suara suling yang berbunyi di negara Skotlandia.


Wanita itu berhenti sejenak mengumpulkan tenaganya, sebelum mengeluarkan setiap tetes kekuatannya untuk mengguncang Will lagi. Kepala Will seperti terbang maju dan kukuku meluncur cepat dari mulutnya seolah dilengkapi mesin jet pribadi.


Wanita itu kemudian melepas Will yang merosot di kursinya.


"Ya ampun, Will..., apa kau baik-baik saja?" Aku berlutut melihatnya dan berdoa agar dia baik-baik saja.


...****************...


Tbc