CASTELLO VS JANE

CASTELLO VS JANE
Bab 66



Bab 66


Mami bersandar di kursinya. "Bolehkah aku mengatakan sesuatu kepadamu? Aku selalu berpikir bahwa ada sesuatu yang istimewa di antara kau dan Cast."


"Oh, ya?" Aku merasakan secercah harapan.


"Apa yang kalian miliki... apa yang selalu kalian miliki... melampaui persahabatan. Bahkan ketika kau berusia dua belas tahun, seolah-olah kalian benar-benar saling mencintai."


Aku tersenyum dengan gemetar. "Kurasa kami memang saling mencintai, dengan cara tertentu."


"Aku pernah mengira tidak akan terjadi sesuatu karena kusangka tidak ada perasaan saling tertarik antara kalian berdua," ujar Mami.


"Itu dulu. Sekarang aku tergila-gila padanya. Hanya saja sekarang dia bisa memiliki siapa pun yang dia pilih."


Mami tidak yakin. "Begitulah yang selalu kau katakan. Tapi tak urung aku berpikir, jika dia diberi pilihan..."


"Apa?"


"Dia akan memilihmu," ujar Mami tegas.


Saat aku menutup pintu dan berjalan ke arah mobilku, Ayah sedang berjalan masuk. "Kau baik-baik saja, Sayang?" katanya sambil mengambil kunci dari saku belakang celananya.


"Hai, Ayah," gumamku, ingin sampai ke mobil sebelum ia melihat bahwa aku baru saja menangis. Ada sesuatu yang membuatku berhenti sejenak.


Ia berbalik. "Ya, Sayang?"


"Kapan terakhir kali kau membeli bunga untuk Mami?"


Ayah menatapku seolah-olah aku sedang berbicara dengan dialek yang tidak jelas. "Bunga?"


Aku mengangguk. "Iya. Bunga dari lelang di garage sale. Atau toko swalayan. Apa saja."


"Ibumu dan aku tidak suka hal-hal semacam itu," katanya sambil tertawa, menggelengkan kepalanya saat ia menempati kuncinya ada di lubang kunci pintu.


"Ayah," kataku, sebelum ia masuk ke dalam rumah, "sebaiknya kau melakukannya. Kapan terakhir kali kau melakukan sesuatu yang benar-benar istimewa untuk Mami?"


"Aku selalu melakukan hal-hal yang istimewa untuk ibumu. Aku mendapatkan Sky Plus untuknya, kan? Dan sebentar lagi aku akan mendatangkan sesuatu yang akan disukainya."


"Oh?"


"Jacuzzi," katanya dengan bangga.


"Jacuzzi?" Aku mengulangi dengan tidak percaya. "Di mana kau akan menaruhnya?"


"Kami punya banyak ruangan setelah kau dan Dave pindah," sahutnya dengan santai. "Ini pasti luar biasa. Ada tukang yang akan datang untuk memasangnya, dua minggu lagi."


Menyerah, aku membuka pintu mobil dan melemparkan tasku ke kursi penumpang. "Kau ini benar-benar orang yang tidak mengerti kata romantis, ya?"


Ayah menyipitkan matanya. "Kau tahu, Jane? Semakin lama, kau semakin mirip dengan ibumu."


...****************...


Terakhir kali aku menyaksikan Castello bermain rugby belum pernah melihatnya bermain setelah ia dewasa dan aku tidak dapat menahan diri untuk berpikir bahwa jika aku melihatnya, pastinya sudah lama aku menyadari betapa menarik dirinya.


Ia tampak begitu hebat saat melempar bola, menubruk tanpa rasa takut, mencetak angka dengan mudah, bermain lebih cepat dan lebih keras daripada yang lain. Saat ia merayakan angka yang didapatnya yang ketiga dalam pertandingan itu aku memekik dengan bangga saat rekan-rekan setimnya menjatuhkan diri di atasnya.


Semua itu, bersama dengan senyum menawan dan kepribadian lembut yang membuatnya tidak peduli tentang apa yang dipikirkan orang lain saat ia melambaikan tangannya kepadaku dengan penuh semangat di garis pinggir lapangan.


"Hei... benar-benar kejutan," kata Castello berteriak, berlari ke arahku segera setelah peluit akhir ditiup. "Aku baru tahu kau tertarik dengan rugby."


"Aku belum menyadari kalau aku suka. Kalau tahu, aku pasti sudah sering menontonnya sejak dulu!"


"Aku senang mendengarnya." Castello menyeringai. "Kami harus menjadikanmu penggemar kami."


"Emm... aku tidak akan sampai sejauh itu."


Ia tertawa lepas. "Beri aku waktu sepuluh menit untuk mandi dan berganti pakaian, ya? Keringatku banyak sekali."


Ketika Castello muncul kembali, ia tampak sama luar biasanya, rambutnya basah karena baru mandi, dan celana jins serta T-shirt yang bersih menempel di tubuhnya. Hari ini ia beraroma pengharum cucian dan deodoran, dan hal ini membuat jantungku berdebar tak terkendali.


Aku tidak tahu apakah hal itu benar, namun aku tahu satu hal, kali ini aku akan mengatakannya kepada Castello, kepada sahabatku sendiri. Semua ini mungkin akan menghancurkan segalanya, namun aku harus memberitahunya.


"Pertandingannya seru, Cast." Suara itu milik salah atu rekan setim yang bertubuh tinggi dan bergaya mbut Afro-Karibia. "Sampai nanti," tambahnya, sambil henepuk punggung Castello.


Castello mengangkat tangannya. "Sampai nanti, Carl." Ketika kami tinggal berdua saja, aku mengumpulkan keberanianku.


"Ayo kita cari minum," ajakku. "Ada sesuatu yang perlu kubicarakan denganmu. Sesuatu yang seharusnya sudah kubicarakan denganmu sejak dulu.”


Langkah Castello melambat dan menatapku. "Apakah semuanya baik-baik saja?"


"Ya, tentu saja," jawabku dengan terburu-buru. "Mari kita pergi dari sini, oke?"


Taman bir Black Lion relatif tenang. Aku berjalan menuju tempat favorit kami, di bawah bunga melati di teras berbatu. Aku menarik lengan sweterku sampai tanganku tertutup seluruhnya dan menyelipkan tanganku di antara kakiku saat Castello kembali dari bar.


"Apa kau tidak terlalu kedinginan?" tanyanya, sambil meletakkan minuman dan menggosok punggungku. Saat tangannya menyentuhku walaupun terhalang dua lapis pakaian kehangatannya terpancar ke dalam tubuhku


"Aku baik-baik saja. Kau?"


"Kau tahu aku... aku sudah terbiasa dengan udara dingin. Di rumah kami harus beku dulu sebelum Ayah memasang pemanas sentral."


Hening. Aku bisa melihatnya mengharapkan aku mengatakan sesuatu.


"Bagaimana pekerjaanmu?" Aku memutuskan bahwa aku perlu pemanasan untuk pernyataan besar ini.


"Luar biasa, sebenarnya. Uji klinis di Tanzania yang melibatkan beberapa anggota tim benar-benar menjanjikan."


"Hei, itu bagus."


Castello mengangguk. "Sebenarnya ini rumit, karena malaria bukan polio atau campak yang hanya perlu satu vaksin. Perlu banyak vaksin yang berbeda untuk melawan malaria, tapi kami sepertinya sedang menuju ke arah yang benar."


"Benar-benar menyenangkan untuk terlibat dalam proyek seperti itu." Aku meletakkan siku di atas meja.


"Kau benar, memang menyenangkan. Berat bagiku untuk meninggalkannya..."


Castello berhenti di tengah kalimatnya, tatapannya was-was. Saat kata-katanya menghilang, otakku mulai berputar. Apakah ia akan mengatakan apa yang kupikirkan?


"Kau mau pergi?" tanyaku.


Castello meraih gelas yang ada di depannya dan meneguk bir perlahan-lahan, menurunkan tatapannya. "Kurasa aku harus berterus terang kepadamu."


"Tentang apa?"


"Aku khawatir untuk mengatakannya karena aku merasa tidak enak tentang flat itu dan..."


"Katakan ada apa, Cast?" Suaraku bergetar.


"Meskipun aku yakin ini konyol, aku tahu kau akan ikut senang, karena begitulah dirimu."


"Cast!" sergahku. "Katakan apa maksudmu?" Jantungku berdebar saat aku menatapnya dalam keadaan bingung.


Ia menelan ludah. "Kau tahu Erin sering membicarakan rencana keliling dunia?"


"Ya." Tiba-tiba aku merasa mati rasa..


"Yah, akhirnya dia memutuskan untuk melakukannya.


"Oh." Untuk sedetik, jantungku melonjak dengan sukacita membayangkan Erin pergi dari sekitarku. Aku tahu hal itu tidak membuatku menjadi orang baik, namun aku tidak kuasa menahannya.


"Ketika dia menyarankan agar aku ikut pergi dengannya, pada awalnya aku mengabaikannya. Kemudian, setelah beberapa saat, ide itu tampaknya lebih menarik. Sebuah kesempatan yang terlalu bagus untuk dilewatkan."


Aku menatap Castello dengan intens lagi, menyadari apa yang coba diberitahukannya kepadaku. Perutku berputar-putar dan dadaku terasa sesak seolah-olah seseorang mengencangkan ikat pinggangku.


"Aku tidak pernah libur panjang sebelum kuliah, dan itu mungkin salah satu hal yang kusesali dalam hidupku," ia melanjutkan. "Kurasa aku tidak memiliki kepercayaan diri pada waktu itu. Tapi itu sudah berubah sekarang."


...****************...


Tbc