CASTELLO VS JANE

CASTELLO VS JANE
Bab 49



Bab 49


Sebagai satu-satunya temanku yang masih lajang, aku mengundang Erin untuk berbagi camilan nachos dan sebotol wine.


Ada suatu masa, di mana jika aku tidak punya kencan pada Sabtu malam, aku akan duduk dengan Castello menonton DVD yang disewa dari tempat penyewaan DVD. Saat itu kami latihan berkompromi karena tempat penyewaan DVD ini hanya menyewakan film lawas. Jika ingin menonton film-film klasik dari pertengahan sampai akhir tahun 1990-an, inilah tempatnya. Jika ada film baru dirilis, kita harus menunggu lima tahun sebelum terkonfirmasi oleh si pemilik penyewaan, mempertimbangkan untuk mendapatkan film tersebut. Selain itu, pendapat Castello dan pendapatku tentang sebuah film yang bagus tidak selalu sama. Jadi kami akan melakukannya secara bergantian.


Aku menganggap semua itu biasa-biasa saja. Kini, aku tidak bisa lagi mengandalkan Castello. Untuk mendengarkan keluh kesahku tentang kehidupan cintaku. Namun, aku dapat menikmati waktu yang menyenangkan bersama Erin, ketika aku dapat menghentikan pikiranku yang mengembara membayangkan Castello.


"Kau bosan tidak punya pacar, Jane?" tanya Erin, sambil mencelupkan nachos ke dalam guacamole campuran avokat, tomat, mayones, dan bumbu-bumbu yang dilumatkan.


"Yah... kau tahu kan para selebriti yang baru saja bercerai selalu berkata, 'Aku menikmati status lajang'? Yah, kuharap aku juga demikian. Tapi, kadang bosan juga kalau tidak punya kencan."


"Aku tahu maksudmu," Erin menyetujui. "Ini mungkin terdengar menyedihkan... tapi aku butuh seorang pria."


"Tidak ada yang salah dengan itu," ucapku menyetujui.


"Aku tahu. Tapi aku mulai merasa aku tidak akan pernah menemukan pria yang benar-benar kuinginkan dan kusukai. Oh, dan orang yang merasakan hal yang sama sepertiku."


"Kau pasti akan menemukannya. Aku yakin itu."


"Aku tidak begitu yakin. Aku menginginkan seseorang yang benar-benar bisa sehati denganku. Seseorang yang bisa bersenang-senang bersamaku. Orang yang bisa harmonis dan mengerti aku sepenuhnya. Kurasa orang itu tidak pernah ada," ucapku dengan putus asa.


"Tentu saja dia ada... kau memiliki hubungan seperti itu dengan Castello, kan? Yang perlu kau lakukan sekarang adalah menemukan seseorang yang persis seperti Cast, tapi yang juga kau cintai." Erin mengusulkan pendapatnya.


Aku tersipu lagi. Aku tersipu sepanjang waktu. Aku segera menyadarinya bahwa Erin telah mengetahuinya.


"Astaga. Betapa bodohnya aku," katanya perlahan.


"Kenapa?" Wajahku memerah sekarang.


"Kau tidak merasakan... kau belum mempertimbang kan... kau tahu, kau dan Castello bisa bersama."


"Hhahhhahaaaa!" Tawaku langsung meledak. Tentu saja tidak! Cast Dan aku? Hahahaaaa!


Erin tampak terkesima melihat tawaku yang meledak begitu saja.


"Tidak," tambahku.


"Oh. Sayang sekali. Akan sungguh sempurna bila kalian bisa bersama. Kalian berbagi cerita yang luar biasa, kali begitu harmonis, kalian..."


"Tapi, kami jelas tidak saling mencintai," aku menyela "Itu merupakan sebuah prasyarat."


Aku tahu aku tidak jujur sepenuhnya tentang perasaanku pada Castello Tapi bagaimana aku bisa jujur? Dalam kondisi normal, ketika aku sedang memikirkan seorang pria, aku ingin menganalisis setiap sisi dari situasi itu bersama dengan teman-temanku, untuk mendapatkan umpan balik dan saran dari mereka. Tapi aku tidak bisa membicarakan Castello dengan Erin dan Julian seolah-olah ia jatuh ke dalam kelompok yang sama dengan Jack atau Maid atau Paul. Ia berbeda. Dan Castello adalah teman mereka, temanku juga.


"Bagaimana denganmu?" tanyaku, mengubah fokus pembicaraan dengan cepat. "Bagaimana perasaanmu sebagai seorang wanita lajang?"


"Aku tidak memikirkannya." Erin mengangkat bahu. "Kupikir akan terasa berat, tapi ternyata tidak. Dalam beberapa hal kondisi itu justru membebaskan kita. Apakah kau ingat aku pernah bilang padamu bahwa Darren, James, dan Amanda akan bepergian?"


"Oh, iya. Apakah mereka sudah berangkat?" tanyaku.


"Bulan September yang akan datang," jawabnya. "Mereka mengajakku pergi bersama mereka."


"Sungguh? Erin... ya, ampun. Kau akan pergi?"


"Aku belum memutuskannya. Tapi aku suka dengan ide mereka bahwa aku bisa pergi kalau aku mau. Bila aku masih bersama Gary, aku tidak akan mempertimbangkannya. Faktanya kini aku bisa pergi dan aku bisa melakukannya," jelasnya lagi.


Percakapan kami terganggu oleh dering telepon. "Sebentar ya." Aku mengangkatnya.


"Ya, ini aku. Hai, Racel. Bagaimana kabarmu?"


"Oh, baik." Racel terdengar sangat putus asa. "Apakah Castello ada di rumah? Aku tidak bisa menghubunginya di ponselnya."


Aku ragu-ragu. "Hmm, kurasa dia keluar, Racel. Ada pesan untuknya?"


"Oh, katakan kepadanya aku menelepon lagi. Terima kasih, Jane. Bye."


Aku meletakkan telepon dan tidak dapat menahan perasaan kasihan padanya. Dan aku sampai pada kesimpulan yang telah kubangun sejak beberapa waktu ini. Saatnya untuk berbicara dengan sang Lothario, sebutanku untuk teman satu apartemenku itu.


...****************...


Castello tiba di rumah pukul sepuluh pagi di hari selanjutnya. Kemudian, ia ke dapur saat aku menyiapkan sarapanku.


"Racel menelepon lagi tadi malam," aku memberitahunya, sambil berusaha menghilangkan cemberut di bibirku.


"Oh, ya?" Setidaknya Castello memiliki sopan santun untuk terlihat bersalah karena berselingkuh.


"Iya," tukasku angkuh.


Castello mengenakan celana santai dan kaus gelap polos. Tidak ada yang istimewa, namun ia tampil sedemikian seksii. Kepalaku belum mampu menerima ide itu sementara ini. Castello bisa tampil cukup layak saja sebelumnya merupakan konsep yang cukup sulit. Setiap pagi aku menantikan kemunculannya yang terlihat seperti dulu. Seakan-akan ia melangkah keluar dari lorong waktu, dengan pakaian kedodoran yang kusut dan rambut acak-acakan.


Sebaliknya, pakaiannya meningkatkan penampilan fisiknya yang sebelumnya sama sekali tidak pernah kuperhatikan sedikit pun sampai belakangan ini. Seseorang dengan bisep terpahat, perut kencang, punggung lebar berotot dan bokong yang terbentuk sempurna. Sulit untuk dipercaya bahwa semua itu ada di sana selama ini, tak disadari dan tak dicintai.


Ketika ia berjalan melewatiku untuk mengambil botol dalam lemari es, aku menerima embusan baunya aroma sabun mandi dan sinar matahari. Jantungku mulai berdebar dengan cepat. Aku menumpahkan kopiku.


"Oh, sial," aku bergumam, menyendok kopi lagi.


"Apa semuanya baik-baik saja, Jane?" Castello meraih lap piring dengan cepat dan tepat pada waktunya hingga cairan itu meresap pada lap tersebut.


"Ya. Tidak. Ya." Oh, aku terdengar seperti orang yang baru terserang penyakit alzheimer. Kehidupan cintaku pastilah buruk. Castello menatapku dengan ekspresi was-was.


"Begini, ya," aku buru-buru melanjutkan, "mengenai Racel... menurutmu apa tidak sebaiknya kau memberitahunya secara langsung bahwa kau dan dia tidak lagi berpacaran?"


Ia mengangguk dengan sungguh-sungguh kemudian berhenti sejenak, berpikir. "Hmm. Aku tidak yakin aku ingin kami berpacaran."


"Cast," aku mulai tegas, "Kau telah tidur dengan tiga wanita lain sejak kau bertemu Racel. Sejauh yang kuketahui, hal itu membuat kalian tidak pacaran lagi."


"Aku tidak tidur dengan mereka semua," ia protes.


"Kau berakhir di tempat tidur dengan mereka," tukasku dengan nada mencela.


"Aku tahu, tapi tidak dalam setiap kasus aku..."


"KUMOHON! Aku tidak ingin tahu perincian yang lebih dalam mengenai apa yang kau lakukan dan apa yang tidak kau lakukan dengan wanita-wanita itu begitu kau telentangkan mereka," teriakku garang terhadap Castello


Castello langsung meneguk isi botol susunya, menghabiskannya.


"Begini, ya, aku tidak pernah mengatakan kepada Racel bahwa aku....,"


"Apa?"


...****************...


tbc