CASTELLO VS JANE

CASTELLO VS JANE
Bab 54



Bab 54


Aku mulai merasa sangat tertekan karena beberapa hal antara Castello dan aku. Aku memutuskan sudah saatnya untuk mengambil tindakan. Hanya saja ketika aku pulang dan menemukan apartemen kosong lagi, aku terpaksa mengakui bahwa lebih mudah berbicara daripada bertindak. Kulempar kunciku ke atas meja di lorong itu dan berjalan menuju kamar mandi. Dengan dua botol kosong kondisioner tergeletak di bak kamar mandi dan pasta gigi yang tertinggal di wastafel, apartemenku semakin terasa tidak terurus. Kesan yang sama terlintas lagi di benakku ketika di dapur aku membersihkan remah-remah di bawah pemanggang dan mulai mencuci cangkir-cangkir kopi yang ditinggalkan di bak cuci piring.


Lalu aku menyadari perbedaannya. Castello yang dulu selalu membantuku dalam menyelesaikan pekerjaan rumah walaupun dia sibuk dengan kerjaannya, sangat jelas kami tidak pernah secara resmi mengatur itu. Aku yang memasak makan malam karena aku suka masak dan ia yang membereskan pekerjaan rumah tangga lain karena aku tidak suka pekerjaan itu. Castello dapat melakukan beberapa hal secara lebih baik daripada aku.


Aku meraih ponselku dan menghubungi nomor Castello. Ia langsung menjawab. "Halo, Jane, bagaimana kabarmu?"


"Baik. Kau di mana?"


"Sedang mengemudi. Tapi tidak apa-apa, aku memakai hands-free. Ada apa?"


"Apa kau akan pulang malam ini?" tanyaku penasaran.


"Pulang, tetapi malam sekali. Aku ada pertanding rugby, kemudian mungkin akan pergi minum bersama teman-temanku. Kenapa kau bertanya? Semuanya baik-baik saja, kan?" tanyanya agak khawatir dengan kondisiku.


"Yah. Aku hanya ingin tahu..." Aku diam sambil mempertimbangkan bagaimana caranya menyampaikan hal ini tanpa membuatnya menjadi masalah besar.


"Apa itu?" tanya Castello.


Kami memang menjalani kehidupan yang boleh dibilang terpisah selama beberapa hari ini, tetapi Castello mempunyai kemampuan naluriah untuk menangkap suasana hatiku.


"Aku merasa sulit sekali bertemu denganmu," akhirnya aku mengakui. "Kita telah bersahabat begitu lama dan aku tidak suka jika... kau tahu. banyak hal berubah di antara kita. Pasti menyenangkan sekali bila kita bisa menghabiskan waktu bersama lagi, itu saja."


Aku merasa seperti orang yang sangat menyedihkan ketika berkata demikian, tapi aku tidak bisa menahan diriku lagi. Aku bergidik begitu kalimatku berakhir.


"Aku mengerti kata-katamu dan aku setuju," ujar Castello. "Kita sudah hampir tidak pernah bertemu akhir-akhir ini... dan kita harus melakukan sesuatu untuk mengubahnya."


"Bagus," kataku, merasa nyaman.


"Semua ini gara-gara perbuatanmu, tahu," tukasnya "Aku pasti masih duduk manis di rumah dan asyik sendiri jika kau tidak merencanakan Project untukku."


"Ya. Kau benar." Aku tertawa,


"Kapan kau ingin melakukan sesuatu?"


Bagaimana kalau hari jumat?" saranku dengan semangat. "Aku bisa memasak seperti dulu, dan kita bisa bersantai bersama di depan televisi dan berbicara tentang apa saja seperti yang biasa kita lakukan dan ...,"


"Sebentar, hari Jumat rasanya aku tidak bisa," selanya.


"Oh, ada apa? Apa kau ada janji kencan?"


"Sebenarnya bukan kencan. Meskipun aku memang akan jalan dengan seseorang."


"Kedengarannya seperti kencan bagiku."


"Kurasa begitu."


"Jane, tolong berhenti menanyaiku tentang kehidupan cintaku," kata Castello sambil tertawa. "Bagaimana kalau hari Sabtu?"


"Aku harus memeriksa buku harianku." Siapa yang kucoba bohongi? Malam Mingguku tidak akan dipenuhi kesenangan bila aku hanya berdiam diri di kamarku. "Meskipun aku cukup yakin aku tidak ada kegiatan hari itu," tambahku, sebelum ia berubah pikiran.


"Bagus. Kalau begitu, Sabtu malam nanti ya. Aku jadi tidak sabar menunggunya," ucapnya.


...****************...


Setiap organisasi memerlukan seorang staf humas yang baik. Tapi pada saat-saat tertentu mereka lebih membutuhkan kami daripada di waktu yang lain. Untuk salah satu klien terbesarku, Peach Gear, sebuah jaringan perusahaan fashion yang membidik remaja usia dua belas sampai enam belas tahun, saat ini adalah satu dari masa-masa tersebut. Dengan permasalahan yang lebih kompleks.


Aku tahu itu begitu melihat ekspresi di wajah Janine Nixon, kepala eksekutif mereka, di awal pertemuanku dengannya bersama direktur pemasarannya, Phil Edward. Tempat yang mereka pilih adalah kafe dermaga JD, sebuah kafe yang terkenal karena roti lapis daging asapnya, dan bukan oleh desain interiornya jika melihat wallpapernya yang sudah mengelupas.


Aku menyesap teh dan terkejut mengetahui rasa tehnya lebih enak di sini daripada di kedai kopi di sebelah kantor. Mereka hanya tidak punya barista, orang yang khusus membuat kopi dan menyajikan kopi di kedai-kedai kopi, tapi mereka mengimbanginya dengan harga yang ekonomis, tak satu pun sajian di dalam menu yang lebih mahal daripada harganya.


Namun, itu adalah tempat yang tidak biasa. Rapat-rapatku dengan Peach Gear sebelum ini, selalu mengambil tempat di ruang rapat mewah mereka di lantai empat belas tempat aku menyesap kopi dari cangkir Italia Villeroy & Boch dan mengagumi pemandangannya.


"Kita sedang dalam masalah," kata Janine, mengusap lengan jas Armani-nya yang berwarna kuning telur.


"Apa pun masalah itu, aku siap di samping kalian," timpalku penuh percaya diri. Aku berharap bisa membuat Janine terkesan, yang sebelumnya hanya pernah bertemu sekali saja. Sampai sekarang, ia selalu membiarkan Phil yang menangani masalah-masalah media. "Aku sudah sering berurusan dengan berbagai macam situasi krisis dalam beberapa tahun ini di Peaman-Brown."


Ia menarik napas dalam-dalam. "Ini sungguh sebuah situasi krisis."


"Ya," kataku. "Mari kita pelajari isu-isunya, menyusun rencana, dan kalian dapat mengandalkan aku untuk mengimplementasikannya."


Janine sudah kelihatan lebih senang.


Aku tersenyum. "Jadi... apa masalahnya?"


Phil dan Janine bertukar pandangan. Yang kutahu, Phil mengatakan bahwa Peach Gear memiliki komitmen yang panjang dan amat transparan dalam menjalankan usahanya dengan penuh etika.


Setidaknya, mereka menganggap bahwa mereka memiliki komitmen untuk menjalankan bisnis yang beretika. Tiga hari yang lalu, mereka menemukan ada pemasok memasang manik-manik vest top-yang dikerjakan dengan tangan, bukan di pabrik yang telah diatur dengan ketat di Delhi seperti yang mereka kira, tapi dikerjakan di Bangalore secara diam-diam. Lebih buruk lagi, mereka memakai tenaga anak- anak berusia sebelas tahun, yang ilegal, tidak bermoral, dan tercela dari standar mana pun. Tim di Peach Gear sangat terpukul, kata mereka kepadaku.


"Jadi, kalian tidak punya firasat tentang ini?" Aku bertanya seolah-olah ini adalah bagian dari proses, tapi aku ingin mendapatkan kepastian apakah mereka benar-benar tidak mengetahui masalah ini. Walaupun manajemen seperti ini sering kali merupakan pekerjaan kotor, aku tidak akan membela yang tidak pantas dibela.


Janine menatap mataku, "Kami tidak tahu apa-apa. Kau berhak bertanya, tapi kukatakan sekali lagi, kami tidak tahu apa-apa."


Aku memperhatikan ekspresinya. Ia tidak membuang muka ke sebelah kanan atau pun ke kiri.


"Oke," kataku akhirnya, membalik halaman buku catatanku. "Ini sangat membantu."


...****************...


Tbc