
Bab 43
"Jika kau masih mencoba untuk membuatku mati penasaran, lebih baik aku pulang dan melanjutkan membaca novel romantis yang telah kubaca" kataku kepada Castello.
Castello mendongak dari balik koran yang dibacanya. "Dia manis," ujarnya, kemudian kembali ia membaca korannya dengan posisi awalnya.
Aku geregetan dengan sikapnya dan merebut koran itu darinya, melipatnya dan membaringkan ke kursi di sampingku, jauh dari jangkauannya. "Tolong jelaskan."
Castello menggeliat. "Kau ingin aku berkata apa? Racel menyenangkan, sangat menarik. Kencanku berjalan dengan baik."
"Apa kau akan menemuinya lagi?"
Castello terdiam sejenak. "Dia mengajakku pergi ke bioskop minggu ini. Marvel akan diputar di Royal."
"Kau suka Marvel?"
"Ya." Castello mengiyakan dengan nada datar.
"Cast." Aku mulai jengkel. "Coba ceritakan. Atau kau benar-benar tidak ingin membicarakannya?"
"Aku... seperti yang kukatakan, dia baik. Sangat manis. Menarik, cerdas, menyenangkan. Dia sungguh luar biasa"
Castello menghela napas.
Berarti sudah ada kemajuan, "Jadi?"
Ia mengeratkan dahi, mencoba mencerna persoalan sebelum berbicara. Kemudian ia menggelengkan kepalanya, seolah-olah hanya ada satu cara untuk menguraikan hal ini. "Aku tidak tertarik padanya."
Mataku melebar, tertegun. "Oh, begitu," kataku akhirnya.
"Aku tahu kedengaran konyol berkata demikian bagi orang seperti aku. Maksudku, aku Castello. Castello yang tidak pernah berkencan dalam usia dua puluh delapan tahun. Siapa aku ini hingga merasa berhak untuk tidak tertarik padanya? Ini tidak benar, kan?" ucap Castello mempertanyakan.
Aku berpikir sejenak tentang hal itu. "Kalau kau tidak tertarik pada seseorang, kau tidak bisa memaksakan diri supaya tertarik. Tidak banyak yang dapat kau lakukan tentang itu."
"Aku tahu, tapi mengapa aku tidak menyukainya... itulah masalahnya," ujarnya mengungkapkan lagi.
Seorang pelayan tiba dengan membawa hidangan sarapan kami dan, setelah mengatur meja, ia meletakkan makanan tersebut di depan kami. Aku mengambil pisau dan garpu dan mulai memotong sosis. Aku melirik Castello dengan tatapanku. Ia pun menatapku.
"Ada apa?" Aku meletakkan pisau dan garpu.
Castello mengulurkan tangannya ke seberang meja dan memegang tanganku.
"Jane... mungkin aku harus lebih jujur padamu."
Aku meremas tangannya. "Kau selalu jujur padaku, kan?"
Ia menatapku lagi. "Tidak sepenuhnya. Dengarkan aku, Jane, aku.... Oh Tuhan, ini sulit." Ia terlihat frustrasi.
Kemudian sesuatu berkelebat dalam pikiranku. "Apa kau gay?" aku berbisik.
Ia melepaskan tanganku dan tertawa keras. "Tidak, Jane! Aku bukan gay. Aku masih normal!"
Kurasa masalahnya memang bukan itu, tapi aku merasa harus bertanya sebab siapa tahu aku salah berasumsi dan menganggap bahwa temanku ini seorang heteroseksual selama sembilan belas tahun terakhir, padahal pada kenyataannya ia memendam hasrat terhadap setengah dari teman-teman lelakiku.
"Lalu kenapa?"
Castello mengambil garpu, menusukkannya ke daging asap. "Tidak apa-apa, maaf. Anggap saja aku tidak mengatakan apa pun."
"Sejujurnya, Jane, tidak apa-apa. Kau benar. Aku akan pergi dengan Racel lagi... aku sungguh bodoh kalau tidak melakukannya."
Aku ingin mengingatkan bahwa aku tidak pernah mengatakan ia harus pergi dengan Racel lagi, tapi aku menahan diri. Tentu saja Castello harus pergi dengan Racel. Racel cantik, begitu menawan, sebelum Castello tertarik padanya. dan hanya masalah waktu
Aku menancapkan garpuku ke jamur, kemudian mencelupkannya ke dalam telur goreng-tapi entah mengapa, hidangan ini tidak membuatku berselera seperti sebelumnya.
...****************...
Kami berkumpul pada hari yang ajaibnya merupakan hari terpanas tahun ini. Castello dan Racel, Julian dan Justin, Erin dan seorang pria teman Carl. Serta Paul dan aku.
Paul tiba menjemputku pukul sebelas tiga puluh tepat pagi ini, dan ketika aku membukakan pintu ia kelihatan sama menariknya dengan ketika kami pertama kali bertemu.
Ia menjadi pria sempurna sepanjang pagi, membukakan pintu untukku, memberi pujian kepadaku dan melimpahkan perhatian untuk teman-temanku. Aku tahu Julian terkesan yang terlihat dari caranya mengerling kepadaku ketika Paul membalikkan punggung.
"Kalian sangat menawan," kata Paul kepada kami, ketika kami berjalan menuju gerbang arena pacuan. Ia benar. Erin tampak cantik dalam gaun bermotifnya dan mengenakan topi yang bertepi lebar. Julian begitu menawan dalam gaun ketat berwarna pink dengan sepatu yang tingginya setengah mati, sehingga benar-benar ajaib jika kakinya tidak kram pada penghujung hari nanti. Racel tampak lebih memukau daripada sebelumnya dalam setelan celana panjang yang dipadu-padankan dengan atasan merah dan sekuntum mawar merah di rambutnya.
Sedangkan aku, pakaianku membutuhkan waktu tiga bulan penggalian untuk menemukan gaun ini. Tapi percayalah ini sangat berharga. Gaun kuningku hampir sama dengan gaun Liz Hurley rancangan Cavalli Roberto tetapi tidak semahal itu.
"Mari kita rayakan ini dengan selayaknya," kata Paul, mengeluarkan dompetnya di stan Princess Royal. "Siapa mau sampanye?"
"Aku suka gayamu," kata Julian kepada Paul, aku merasa hatiku berbunga-bunga bangga padanya.
"Kau yakin?" tanya Erin. "Aku rasa itu tidak murah."
Paul tersenyum lebar. "Ini momen istimewa. Selain itu, aku memasang taruhan pada beberapa pemenang kemarin ketika aku berada di sini dalam rangka Hari Wanita bersama teman-temanku."
Tulang belakangku berdesir dingin pada saat Paul menyebut teman-temannya, tapi aku tetap tersenyum untuk mempertahankan ilusi bahwa aku juga seorang penggemar berat pacuan kuda seperti dirinya.
Paul menuju bar dan kembali dengan sebotol sampanye dan delapan gelas di atas nampan. Ia membuka botol dengan suara riuh letusan dari mulut botol kemudian mengisi gelas-gelas kami, sampanye tertuang dengan suara mendesis. Pada saat ia sampai di gelas milik Castello, botol tersebut kosong.
"Oh, maaf," kata Paul. Aku tertegun melihat cara Paul saat menyatakan maaf. Permintaan maafnya terdengar cukup tulus, tapi aku tidak yakin sepenuhnya dengan ekspresinya. Lagi pula, Castello tampaknya tidak terlalu memperhatikan.
"Ini, ambil punyaku." Racel menyodorkan gelasnya kepada Castello.
"Tidak, tidak apa-apa," jawab Castello dengan nada riang.
"Aku akan mengambil minuman dari bar," ujarnya.
"Sungguh, Cast," Erin menegaskan, "Kita semua mendapatkan bagian terlalu banyak. Kami akan menuangkan sedikit-sedikit untukmu. Sini kan gelasmu..."
"Tidak apa-apa," ulangnya, tapi meskipun Castello menolak, Erin dan Rahel tetap mengisi gelas Castello dari gelas- gelas lainnya, sampai semua gelas terisi sama rata. "Siapa yang mau bertaruh?" tanya Paul.
"Kau tahu banyak tentang kuda, Jane?" Sekilas aku mempertimbangkan akan mengambil analisis dari Guardian terbitan hari ini, kemudian aku teringat kalau aku dikelilingi oleh teman-teman yang dengan mudah akan mengetahui kebohonganku. "Harus kuakui, tidak banyak yang kuketahui."
Karena kami di salah satu acara olahraga yang paling spektakuler di dunia berlangsung lima belas kilometer dari tempat tinggalku. Sebagian besar orang Inggris, setengah dari Irlandia, dan beberapa dari tempat lain di dunia mendatangi kota ini. Setidaknya itulah yang kurasakan.
The Grand National Festival di Aintree Racecourse adalah nama acara akbar itu. Hari ini, Sabtu, adalah saat perlombaan besar itu dilaksanakan dan kita dapat merasakan atmosfer kegembiraan berdengung di udara. Pengetahuanku tentang pacuan kuda hanya sebanyak pengetahuanku tentang ilmu partikel, tapi kurasa itu tidak relevan, kan? Bagiku, peristiwa ini adalah tentang wine putih di sore hari pada musim semi yang cerah, berpakaian paling modis, dan lebih menyenangkan daripada berdiri saja di dinding sebuah kastil kuno.
Maka dari itu, kami yang berakhir di sini secara bersamaan.
...****************...
Tbc