CASTELLO VS JANE

CASTELLO VS JANE
Bab 13



Bab 13


“Rambutmu perlu di permak.Lihatlah rambutmu, ujung rambut juga perlu dirapikan. Dengan sentuhan highlight rambutwarna pirang terang dan sentuhan warna karamel, ini pun sudah merubah tampilanmu. Kau akan terlihat sangat memukau. Siapa yang terakhir kali memotongnya?” tanya penata rambut di salon yang mendapati diriku.


Aku melihat si komentator yang berhasil mendapati rambutku di pantulan cermin. Perawakan pria itu sedang dengan hidung yang mancung, bibir tebal, dan poni rambut yang sudah memakai hairspray.


Aku ingin berbohong dengan mengatakan bahwasannya dirinya lah yang terakhir kalinya yang memotong rambutku, tapi apalah daya. Aku tak berani berbohong karena semuanya ku lakukan atas dasar diriku sendiri.


“By the way, emm sebenarnya bukan aku yang ingin menata rambut, tapi dia,” ujarku yang langsung menunjuk ke arah Castello.


Penata rambut itu melirik ke arah Castello ditempat dia duduk.


Castello hanya tersenyum ke arah pria itu dan sedikit mengangkat tangannya ke atas, “Hai.”


“Oh Tuhan, maafkan aku yang ingin mencela,” cetusu si penata rambutsambil menghampiri Castello, “Hai. Namaku Ben.”


“Maaf, teman kami yang merekomendasikanmu,” ujarku kepadanya untuk mengalihkan perhatiannya dari rambut Castello.


“Julian?” Ben tersenyum. “Wanita yang penuh dengan gaiirah* seakan-akan membuatku menjelma menjadi Bunda Teresa.”


Aku tak menanggapi apa yang dikatakan Ben, karena itu sepenuhnya benar dan tak membuat Julian keberatan akan hal itu.


Sementara itu Castello dibawa ke ruang cuci rambut dan langsung di keramasi oleh seorang asisten yang masih sangat muda. Setelah mengeramasi selama lima menit, gadis itu pun mulai memijat kepala Castello dengan pijat kepala india. Perlahan memulai gerakan ritme yang lambat dan ekspresi wajahnya sedikit genit.


Castello lantas duduk di depan cermin dan Ben pun segera bekerja. Setengah jam kemudian setelah menyaksikan aksi keterampilan menggunting yang dimiliki oleh Ben , hasil akhir pun terlihat mengesankan.


Rambut Castello jadi pendek, tak terlalu pendek. Ben berpesan sehabis mandi jangan menyisir rambut.


Castello pun mengangguk dengan senang dan tenang.


“Dan, jangan lupa pakaikan sedikit gel rambut, lalu acak-acak rambutmu secukupnya. Pokoknya jangan sampai menyisir rambutmu,” nasehat Ben terhadap Castello.


Castello melirik ke arah ku.


“Jangan khawatir, kau akan terbiasa nantinya,” ujarku percaya diri.


...****************...


Tujuan selanjutnya adalah optik.


“Aku merasa aneh menjadi seperti ini,” ujar Castello saat kami berjalan melintasi daerah pusat kota.


“Kau harus positif. Jangan terlalu berpikiran negatif dengan penampilanmu. Aku percaya kau akan terbiasa. Baru beberapa jam kau sudah mengeluh merasa aneh,” cibirku.


“Entahlah. Kurasa begitu. Tapi aku merasa canggung memakai baju ini. Apa menurutmu aku terlihat aneh?”


“Castello, sudah kukatakan tidak ada yang aneh terhadap dirimu sekarang. Kau terlihat aneh sebelum berpenampilan seperti ini,” ujarku.


“Serius?”


Aku merasa bersalah dengan pengucapkanku kali ini. Castello langsung menghentikan jalannya.


“Maafkan aku. Kau terlihat cuek dengan penampilanmu saat itu,” ujarku menerangkan agar tak terjadi kesalahpahaman.


“Aku cuek karena karena aku memang tak pernah menyadarinya.”


Aku menarik napas panjang. “Mungkin kita seharusnya tidak memulai hal ini.”


“Tidak. Aku justru berterima kasih kepadamu sejauh ini. Selain dirimu, aku juga berterima kasih dengan Erin bahkan Julian,” jelas Castello.


“Dia memang suka memaksa, ya?” ujarku sambil meringis.


“Tidak masalah.” Castello tersenyum. “Tapi aku memang tidak suka dengannya saat dia memegang-megang celanaku di fitting room tadi. Aku merasa agak dilecehkan olehnya.”


Aku terkikik mendengar hal itu sambil mendorong pintu optik yang kami tuju. “Aku, Julian, dan Erin akan membantumu untuk menjadi lelaki yang jago dengan gombalan untuk merayu wanita.”


“Kedengaranya asyik juga,” sahutnya dengan mengangkat sebelah alisnya.


“Baguslah. Bekerja samalah dengan kami dengan setulus hati dan seratus persen.”


“Baiklah. Aku sepakat seratus persen,” ujarnya.


Aku sedikit terkejut dengan apa yang diucapkannya itu. Tidak biasanya dirinya menerima hal yang menurutku aneh. “By the way, bagaimana dengan ini?” Aku memegang sebuah kacamata rancangan designer ternama sama persis dengan model yang terpampang di baliho itu. Model itu terlihat menggoda ditambah dengan gaya sensual yang ditujukan kepada seorang model wanita.


Aku mengamati wajahnya dan menunggu-nunggu perubahan menakjubkan yang mungkin terjadi. Nyatanya tidak ada yang terjadi pada Castello. Dan jujur saja ini tidak terlalu cocok dengan Castello.


“Kau terlihat tidak tertarik dengan model kacamata ini, Jane,” ujarnya sedikit putus asa.


“Tenang saja. Pasti kau akan menemukan yang cocok denganmu,” ujarku ceria.


Kami berdua menghabiskan waktu untuk mencoba-coba berbagai macam kacamata sebelum akhirnya menyerah. Kami pun pergi ke optik yang berbeda di dekat pusat kota, tapi persedian barang di sana sama persis dengan optik yang pertama tadi. Tak satu pun kacamata yang mampu mengubah Castello menjadi sosok pria sejati dan menggoda kaum hawa.


“Aku masih heran, kenapa tak ada satu pun yang cocok denganmu?” tanyaku heran.


“Mungkin wajahku saja yang aneh,” sahut Castello.


“Tidak. Tidak ada yang salah dengan wajahmu. Tapi kurasa..,”


“Apa?”


“Kau tidak memerlukan kacamata, Castello. Kau tidak harus menyembunyikan wajah tampanmu itu dibalik kacamatamu. Aku masih heran kenapa aku baru menyadari hal itu sekarang. Ia bisa menjadi sangat tampan tanpa kacamata itu. Castello memiliki mata yang biru, bibir yang penuh dan sempurna, dan rahang yang kokoh.


Saat aku kembali menatapnya, rupanya ia pun sedang menatapku dengan bingung..


“Kau kenapa? Apa kau malu?” tanyaku.


“Tidak, Jane.,” tegasnya sambil meremas tanganku. Tangan Castello yang besar, halus, dan terasa nyama, tak seperti tangan beberapa pria lain yang mengecewakan.


“Kurasa kau harus melepas kacamatamu dan mulai memakai kontak lens.”


“Baiklah. Aku akan mencoba lensa kontaknya.”


Ternyata itu adalah keputusan terbaik yang kubuat sepanjang minggu ini. Bukan hanya Castello langsung terlihat lebih baik tanpa kacamata, tapi ahli optik yang memeriksa mata Castello dan mencatat datanya juga ternyata sangat menarik. Walaupun ahli optik itu tidak setampan Maid atau Jack, tapi jelas ada kelebihan lain yang telah terpancar dari dirinya.


“Jadi,” gumam Si Ahli Optik sambil menuliskan sesuatu pada data milik Castello dan mengulurkan secarik kertas pada Castello.


“Kalau tidak salah kau bekerja di bidang humas?” tanya Ahli Optik.


“Bukan, aku di penelitian medis,” sahut Castello.


“Maaf, Mr. Castello, aku sedang bicara dengan temanmu,” ujar Ahli Optik.


“Oh, emm iya, itu benar,” ujarku mendadak tersenyum sambil meliik pada si ahli optik. Aku memang selalu menarik pada pria yang berjas putih. “Aku bekerja di Peam-Brown.”


“Yah, aku tahu nama itu,” ujarnya sambil tersenyum menggoda. “Kalau saja kau bisa mengubah citra perusahaan ini di media, apa yang akan kau lakukan?”


“Emm, mungkin aku akan memulai dengan mencari tahu aktivitas bisnis dan sosok utama di baliknya.., lalu menyelidiki kisah yang menarik di balik itu,” jelasku panjang lebar.


“Menarik.” ia lantas mengetikkan sesuatu pada komputer di meja layan.


“Apa masih lama?” Castello menyela.


Ahli optik iu tersenyum dan berkata, “Sebentar lagi, Tuan.” Ia lalu menoleh lagi kepadaku. “Apa yang bisa kau lakukan jika tidak sedang menyelidiki kisah menarik?”


“Biasa sajalah,” jawabku sambil tersenyum.


Ia menatapku lekat-lekat dan aku pun hanya bisa balas tersenyum, meskipun wajahku mulai terasa panas. “Ini dan itu kedengarannya cukup menarik juga.”


“Baiklah. Berapa lama lagi sampai lensa kontakku siap?” Castello menyela lagi.


“Kau bisa mengambilnya dua atau tiga hari lagi. Kami akan menghubungimu lebih lanjut,” ujar Ahli Optik.


“Ok, baiklah. Ayo jalan, Jane,” ajak Castello.


“Sebelum kau pergi, bolehkah aku meminta kartu namamu? Aku tertarik untuk mengobrol denganmu, mengenai hal yang bisa menguntungkan satu sama lain. Namaku Paul,” ujar Ahli optik itu.


Aku menyeringai lebar seperti gadis yang paling idiot sedunia. “Aku Jane.” Kemudian aku mengorek-ngorek isi tasku mencari kartu nama dan menyerahkan kepadanya.


Paul melirik kartu namaku dan menyelipkannya di saku bajunya, “Aku akan meneleponmu.” Ia lantas membukakan pintu optik untuk kami.


Aku dan Castello pun melangkah keluar dari optik itu.


...****************...


tbc