
Bab 26
Aku berdiri lalu mengambil tasku, memutuskan bahwa ini adalah saatnya pergi. “Aku pergi dulu, Mam.”
“Bailah, sayang,” sahut Mami sambil keluar bersamaku.
Tatkala kami sampai di lorong. Mami membukakan pintu depan. “Bagaimana kabar Castello setelah penampilannya berubah?” tanya Mami.
Aku memasang raut wajah prihatin. “Kalau maksud Mami dia sudah lebih baik atau belum, akan kujawab sudah. Castello tampak luar biasa. Kau takkan bosa membantah berapa luar biasa penampilannya.”
“Lalu?”
“Sayangnya, dia tetap sulit untuk mendapatkan pacar sama seperti sulitnya aku menemukan sinar yang baru. Tampaknya kemampuan merayu bukanlah nilai yang baik untuknya,” jawabku.
“Kurasa merayu terlalu berlebihan. Itu kata ayahmu.”
Aku terkikik saat mendengar Mami berkata seperti itu.
“Itu sungguhan. Beberapa pria memang bukan tipe yang bisa menggombal. Kurasa Castello salah satunya. Dia tipe yang apa adanya. Bukan tipe perayu,” lanjutnya.
“Tapi gara-gara dia bukan tipe seperti itu, dia tak pernah mendapat kemajuan kalau berhubungan dengan lawan jenis.”
“Ya ampun.” Mami menggelengkan kepalanya dengan kasus ini. Dia mengambil beberapa surat dari meja kecil lalu mulai memilih satu per satu. “Omong-omong, apa aku pernah pernah cerita kalau ayahmu sedang merencanakan sesuatu?”
“Apa itu? Aku belum mendengarnya,” ujarku.
“Kursus dansa Salsa,” sahut Mami sambil mendongak.
“Wow, itu sangat bagus,” komentarku.
Mami mendengus kesal. “Yah, semoga saja dia beruntung mendapatkan seseorang yang ahli dengan bidangnya itu.”
“Ikut dansa itu bukan untuk mencari kekasih. Salsa itu sebuah hobi. Cara yang baik untuk menjaga kebugaran. Orang-orang menyukainya. Salah satu klienku berlatih salsa setiap minggudan yakin sekali dengan manfaatnya.” Aku menjelaskan ke Mami.
“Sesukamu sajalah.”
“Janganlah kau cemberut Seperti, Mami. Percaya saja sama ayah. Kau seperti baru kenal ayah saja. Baiklah, Mami. Aku pulang dulu.” Aku pun pamit dan mencipika-cipiki pipi Mami.
...****************...
Aku berusaha keras agar bisa tampil keren dan mempesona. Sayangnya, lagi-lagi di leherku muncul bercak merah lalu tanganku berkeringat. Momen berkencan dengan Paul, sungguh berat kujalani. Logikaku mengatakan bahwa aku tak boleh punya perasaan apa-apa, aku garus bersikap posotof terhadap pertemuan ini. Fakta bahwa ia cukup menyukaiku dengan mengajak kencan untuk kedua kalinya. Dan seharusnya itu membuat percaya diriku bertambah. Dengan pilihan tempatnya yang membuatku kurang nyaman. Entahlah.
Tatkala Paul mengusulkan jalan-jalan seharian di Lake District, aku langsung membayangkan makan siang romantis bersamanya, jalan-jalan santai di sekitaran danau, atau bila kami ingin sedikit berpetualang, kami akan naik kapal uap menikmati pemandangan.
Aku tampil cerah ceria pagi ini, mengenakan pakaian menarik berbahan fleece yang andal, sepatu bot bunglon yang super ringan, baju hangat dengan ritsleting setengah yang cantik serta kaus kaki yang sangat tebal, saking tebalnya sampai bisa dipakai untuk menyekat loteng.
Semalam aku sempat khawatir dengan semuanya yang terlalu tampak baru, jadi aku sapukan tanah dari salah satu tanaman Castello ke sepatu botku. Dan sekarang jadi kelihatan seperti aku habis perang di Iran.
“Di mana Jaketmu?” tanya Paul seraya membanting pintu mobil Lan Rovernya yang tampak tangguh menjelajah untuk traveilng yang berat.
“Ini.” Aku menyeringai sambil menunjukkan pakaianku yang berbahan fleece.
“Bukan itu. Yang kumaksud adalah jaketmu. Kusangka kau memakai jaket sekaligus fleece mu.”
“Emm, aku memang tidak ingin memakai jaket, karena baju ini cukup untukku,” kataku yang khawatir salah ngomong.
“Oh, berdasarkan pengalamanku, jaket ini bikin berat. Jujur saja, aku lebih suka memakai bahan yang begini. Lagi pula, aku masih memakai beberapa lapis pakaian di dalam.”
“Berapa lapis?”
“maafkan aku, aku kurang pasti berapa lapis.”
“Yah, berdasarkan prakiraan cuaca, hari ini akan dingin dan kita sama-saa tahu seberapa dingin nanti di puncak gunung. Kau juga bawa topi dan saarung tangan, kan?” tanyanya.
Aku jelalatan ke sana-kemari, dan tercegang melihat pendaki-pendaki yang lain di tempat parkir ini mengenakan jaket seperti yang dipakai orang Eskimo untuk cuaca dingin, selain itu mereka juga membawa tongkat berjalan. Semuanya tanpa kecuali memakai topi dan sarung tangan.
Aku sempat mempertimbangkan aksesoris-aksesoris itu sewaktu belanja kemarin, tapi topinyabukun aku tampak konyol. Aku menyimpulkan bahwa aku lebih suka kediginan daripada berpenampilan mirip paus.
“Sepertinya aku lupa membawa topilu, juga sarung tangan dan emm, jaket. Aku yakin akan baik-baik saja kalau kita naik dengan cepat,” ucapku sambil meringis.
Paul pun menyerngit. “Jane, aku tahu kau pendaki yang berpengalaman, jadi jangan tersinggung, aku hanya mengkhawatirkanmu dan aku naik ke sana bersamamu, sementara kau tidak mengenakan jaket dan sarung tangan, juga topi. Aku punya cadangan di bagasi. Kau boleh memakainya.”
Oke, aku lega mendengar itu. Siapa pun akan bilang, sekarat kedinginan di puncak gunung bukanlah akhir dari kencan kedua yang sukses.
Paul mengambil pakaian cadangan dari bagasinya lalu menyerahkannya kepadaku satu per satu. Aku memandangi pakaian itu dari hatikuk langsung buyar. Jaketnya untuk pria yang ukurannya tiga kali lipat lebih besar dari tubuhku. Tatkalal aku memakainya, usaha untuk tampil seksi dalam balutan pakaian trendi yang menonjolkan lekuk tubuh langsung lenyap seketika. Sedangkan sarung tangan yang berwarna merah menyala ini boleh juga, lalu topi dengan garis vertikal berwarna hijau di sisi-sisinyamembuat kepalaku seakan-akan menyusut samping seukuran kacang kapri kering.
“Siap?” Paul tersenyum, dan aku terpaksa berhenti mengamati penampilanku sendiri di depan kaca spionnya.
“Tentu saja.” Aku bertepuk tangan degan penuh semangat.
Kami berangkat menuju ke gunung di tengah bekas-bekas salju yang menumpuk di tanah, matahari bersinar dari arah belakang kami.
“Bukankah kau menyukai hari seperti ini?” tanya Paul. Hatiku berbunga, bangga telah berhasil mencapai kencan kedua dengan seseorang yang sangat sportif dan sangat tampan.
“So wonderful,” Aku menyetujui sambil menghirup udara segar dan berjalan berdampingan dengannya.
“Senang bertemu dengan seseorang yang juga menyukai hal-hal seperti ini. Kau pasti kaget mengetagui betapa banyak wanita yang tak melakukan apa-apa untuk berolahraga selain menjalani kelas yoga. Mereka tak sadar telah melewatkan semua ini, iya kan?”
“Ehm,, tak bisa kubayangkan ada yang lebih buruk daripada itu.”
Aku melihat ke arah lembah dan kudapati keindahannya. Pemandangan yang luar biasa, hari yang indah dan seorang pria tampan di sampingku. Mungkin akhirnya aku bisa menikmatinya. Akhirnya kita melanjutkan perjalanan.
“Emm, Paul, kapan kira-kira kita sampai ke puncak?” aku bertanya, nyaris tak bisa bernapas.
Ia berhenti dan menoleh untuk berbicara kepadaku. “Biasanya empat jam untuk naik dan dua setengah jam untuk turun.”
Aku berhenti dan meletakkan kakiku di atas bau, dadaku kembang-kempis karena tersengal-sengal. Aku menarik sarung tangan untuk melihat jam tanganku. “Aku yakin kita sudah lebih dari empat jam,” ujarku ngos-ngosan.
“Ya, memang,” sahutnya.
Aku pun melangkah secepat mungkin supaya tidak tertinggal, tapi otot-otot pahaku serasa terbakar, paru-paruku serasa jebol dan meskipun aku mengenakan pakaian lebih tebal daripada pendaki gunung Everest pada umumnya. Aku sungguh-sungguh super kedinginan. Tanpa melihat ke cermin pun aku tahu kalau bibirku sudah membiru. Aku tak bisa merasakan ujung hidungku, ujung-ujung jari tanganku maupun kakiku.
...****************...
tbc
bagaimana lebaran kalian? apakah kalian lebaran saat menikmati lebaran? Semoga kalian tetep sehat, ya.
terima kasih yang sudah membaca dan mendukung novel ini. jangan lupa di like ya gaes... 🙏🙏🌀