CASTELLO VS JANE

CASTELLO VS JANE
Bab 75



Bab 75


Aku berusaha memikirkan cara-cara cerdik untuk menembus pertahanan sekuriti, tetapi setelah perdebatan yang mengesalkan dengan petugas lainnya, aku terpaksa menerima kenyataan bahwa peraturan untuk melawan terorisme global juga cukup untuk mempersulit staf humas berusia dua puluh delapan tahun yang tidak bersenjata.


Dengan tekad yang semakin membara, aku memutuskan untuk membeli tiket ke Madrid, supaya aku bisa melewati gerbang sekuriti. Tetapi setelah ribut lagi di konter penjualan, jelaslah bahwa pasporku yang masih tersimpan di koper yang berada di apartemen baruku itu benar-benar menjadi faktor penghambat.


Aku berdiri di aula bandara sementara orang-orang bergegas ke mana-mana untuk berlibur. Aku mengambil ponselku. Aku ingin melakukan ini secara langsung, tetapi agaknya tidak ada pilihan lain. Sambil memejamkan mata, aku menunggu telepon di ujung sana berdering.


Langsung terhubung ke pesan suara. "Oh, Tuhaan!" aku melolong, tapi tak seorang pun memperhatikan. Meskipun aku sangat tidak ingin melakukannya, aku langsung menekan nomor Erin.


Langsung terhubung ke pesan suara. Lagi-lagi aku melolong tanpa ada seorangpun yang memperhatikan. Selama empat puluh lima menit, aku hanya hilir mudik, menerka-nerka rencana yang begitu cemerlang yang akan diakui oleh panitia Penghargaan Grammy. Betapa pun kerasnya usahaku, tak satu pun ide muncul di otakku.


Aku lagi melirik jam ditangan kiriku, kira-kira untuk keseribu kalinya hari ini, dan jamku menunjukkan pukul dua belas kurang seperempat. Pesawat Castello sudah berangkat dan yah, pastinya dia juga sudah berangkat.


Kepalaku pening ketika aku menerobos kerumunan orang dan kembali melalui sejumlah pintu. Dengan mati rasa aku berjalan ke mobilku dengan air mata berlinang yang membasahi pipiku. Aku tiba di tempatku memarkirkan mobil dengan tatapan yang buram, lalu mengeluarkan kunci mobilku. Barulah aku tersadar, mobilku tidak ada di sana. Aku langsung mendongak dan melihat mobil derek yang menarik mobilku. Aku tidak mau repot-repot mengerjanya.


Aku berpikir untuk melacak perusahaan derek yang berhasil menyeret mobilku. Pada saat aku berhasil mengetahui perusahaan tersebut, aku naik taksi ke kantor perusahaan it, mengantri, mengisi setumpuk formulir, dan membayar dendanya, barulah aku mengambil mobilku. Hari pun sudah menjelang sore.


Denda mobilku benar-benar membuat jantungku nyaris copot, setara dengan biaya makan sebulan, angsuran dana pensiun dua bulan, atau ini yang paling bikin stress, sepertiga dari harga sepatu sandal Hus Pappies.


Perjalanan pulang terasa seolah-olah aku berada di dalam game komputer, suatu dunia berkabut dan tidka nyata yang memaksaku memusatkan perhatian. Satu-satunya yang memenuhi kepalaku hanya Castello dan mengapa aku tidak menyatakan perasaanku sejak dulu saat kami masih bersama. Mengapa aku tidak melakukan apa pun sejak dulu.


Aku tahu bahwa secara teknis aku bisa saja meneleponnya dan menyatakan perasaanku melalui ponsel yang terhubung dengan dirinya, tapi rasanya itu sudah sangat terlambat. Mana mungkin aku meneleponnya dan berkata, "Maaf, ya, aku tidak mengatakannya selama dia puluh tahun ini, tapi sebetulnya aku cinta padamu. kalau tidak merepotkan, bisakah kau terbang pulang kembali ke sini lagi dan menghabiskan sisa hidupmu bersamaku?"


Aku memarkirkan mobilku di garasi bawah apartemen kami yang baru dan perutku yang keroncongan ini memberikan tanda bahwa aku harus makan. Tetapi aku tidak merasa lapar sedikit pun. Ku berjalan gontai ke apartemen, berhenti sejenak untuk melongok ke luar jendela tangga. Di serambi orang-orang lalu lalang di bawah sinar matahari dan terlihat kegembiraan di sana. Aku tiba di pintu apartemen, lalu memasukkan kunci dan mendorong pintunya. Saat itulah aku melihat amplop itu. Amplop yang ditinggalkan oleh Castello.


...****************...


Aku membuka amplop itu, ada tulisan tangan Castello tertera di sana.


Jane, My Love


Aku menulis surat ini karena pikiranku berkali-kali terus mengingat dirimu dan karena perasaanku terhadapmu. Aku tidak tahu bagaimana harus mengatakannya dari awal, tapi aku lebih baik menuliskan di dalam kertas ini saja.


Sejak pertama kali bertemu denganmu, hidupku terasa bermakna. Hidupku menjadi lebih bahagia, tidak dangkal, dan ceria. Penyebabnya mudah saja, kau manusia yang diciptakan untukku, yang sangat terbaik yang pernah aku kenal. Sudah sejak lama aku memendam perasaanku yang dari sekadar perasaan seorang sahabat menjadi tidak seperti itu lagi.


Aku cinta padamu.


Maafkan aku, aku tidak berani langsung mengungkapkan di depanmu langsung. Aku sudah mengatakannya. Aku tak tahu apakah kau memiliki perasaan yang sama denganku atau tidak. Tapi aku berharap kau tak perlu membalasnya. Dan biarkan aku mencintai dirimu tanpa kau bisa kumiliki.


Sudah ya, aku sudah berpesan terhadapmu, jangan menjadi orang lain demi mendapatkan lelaki sejati. Percayalah terhadap dirimu sendiri dan jadilah dirimu sendiri.


Castello xx


Aku membaca surat itu berulang kali, napasku tertahan, pipiku basah dan merah. Akhirnya aku terhuyung ke kamar mandi dan di cermin aku mengamati wajahku yang kusut bak kain pel yang sudah tak terpakai. Aku merutuki diriku berkali-kalo lipat!


Tiba-tiba saja ada suara ketukan nyaring. Aku terpaku dan memandang termangu. Julian membawa kunci pagi ini dan orang lain yang tahu alamat baruku hanya mami dan ayah yang masih di rumah sakit.


Mungkinkah itu ..,


Tentu saja itu tidak mungkin. Castello tidak mungkin berada di sini. Ia sudah ada di dalam pesawat dan sudah terbang mungkin. .


Terdengar lagi ketukan semakin nyaring. Jantungku tiba-tiba saja berdegup kencang tak beraturan, lalu aku berjalan ke pintu untuk membukanya.


Saat aku membukanya aku pun terkejut dan terpukau oleh betapa tampannya Castello. Aku menatap pria yang berkat projek Castello yang kami kerjakan merupakan perwujudan dambaan kaum wanita, yang membuat kepala mereka menoleh ke mana pun ia berada.


"Halo, Jane."


Castello tersenyum sumringah, dan senyuman itu membuat harapanku berdesir di pembuluh darahku, menyebabkan kakiku lunglai dan memusnahkan kemampuanku untuk berbicara.


"Kau tidak apa-apa?"


"Ya, aku tidak apa-apa. Aku pastikan aku baik-baik saja." peraaaanku bergelora dan jantungku bergemuruh keras di dadaku, terdengar bagai guntur di telingaku. "Hanya heran melihatmu."


"Dan bahagia?"


Aku spontan langsung menganggukkan kepalaku, air mata mengaburkan mataku. "Iya. Aku sangat .. Sangat bahagia," sahutku parau.


Castello menatap tanganku yang sedang memegang suratnya. "Jadi, kau sudah membaca suratku."


Aku mengangguk lagi.


"Ya. Tidak. Ah, entahlah."


"Oh, kau cerdas sekali, Jane."


"Kenapa kau di sini?" tanyaku. "Kusangka kau sudah di pesawat."


"Seharusnya. Tapi aku mendapat telepon setelah aku melewati gerbang sekuriti, dan itu mengubah segalanya."


"Telepon?"


"Dari Julian.."


Aku menelan ludah.


"Julian mengatakan beberapa hal yang semula membuatku tidak percaya. Kusangka dia bercanda."


"Apa katanya?


Castello menatap mataku. "Dia bilang bahwa perasaanku, perasaan yang kujelaskan di suratku... Dia bilang kau..."


"Memendam perasaan yang sama?" aku melanjutkan.


Senyum lebarnya merekah, membuat wajahnya berseri- seri. "Perlu beberapa saat bagiku untuk bisa percaya. Bahkan sebetulnya aku masih belum yakin aku bisa memercayainya atau tidak. Tapi aku tidak mau naik ke pesawat sebelum memastikan. Jadi... di sinilah aku sekarang."


Aku mendengar diriku terkikik histeris, meluap-luap gembira luar biasa. Memang konyol, tapi aku tak dapat menahan diri.


"Nah, sekarang kau sudah di sini," bisikku. "Ya ampun. Cast, aku gembira sekali." Tak tahan lagi, aku menjatuhkan diri ke dalam pelukannya dan ia mendekapku. Lengannya yang kuat dan itu dapat merapatkan pingganggku ke pinggangnya hingga tubuh kami melekat.


Kami pun sama-sama mendekatkan bibir masing-masing dan kembali merasakan sensasi yang telah lama tak kurasakan. Kemudian ia meraih tanganku dan membawanya ke bibirnya, mengecupnya. Lalu aku teringat sesuatu, Erin.


"Bagaimana dengan Erin?"


Castelli menarik napas panjang. "Erin dan aku sudah bicara. pembicaraan kami sangat singkat. Tetapi itu cukup jelas. Ia tidak apa-apa. Ketika Julian berbicara denganku dia bercerita tentang Erin dan Darren."


Aku hanya menganggukkan kepalaku.


"Taruhan, mereka akan jadian sebelum mereka menyelesaikan tur keliling Eropa," jelasnya lagi.


Aku terdorong oleh keinginan yang tiba-tiba mendekat dan mencium Castello lagi. Tatkala bibir kami bertemu, ia mengejutkanku dengan membopongku.


"Hei, apa-apaan kau?" aku terkikik geli. "Berat tubuhku pasti sama dengan bobot tubuh paus biru besar raksasa."


"Itu tidak benar! Paling hanya seberat paus kecil."


"Terima kasih," cetusku. "Padahal kusangka kau pernah mencintaiku."


"Aku benar-benar mencintai dirimu sampai detik ini. Kau tahu itu!"


Aku tersenyum bahagia mendengarnya. "Aku senang mendengarnya. Karena aku tidak tahu harus bagaimana kalau kau tidak mencintai diriku."


"Maksudmu kau ingin membangun sebuah keluarga bersamaku?" tanyanya di antara ciuman kami. "Dengan orang aneh macam diriku?"


Aku meraih kausnya dan menariknya untuk mendekat. "Lebih dari ingin," bisikku. "Tapi bagaimana denganmu? Kau tidak keberatan berhubungan serius dengan diriku yang sejati?"


Castello tersenyum lagi menanggapi kata-kata itu. "Kaulah gadis idamanku."


Aku dan Castello meninggalkan tempat kami berdiri di ambang pintu. Ia menutupnya dengan kakinya dan membiarkanku tetap bergelayut manja. Saat itu kami benar-benar bahagia. Aku tak ingin melewatinya begitu saja.


...****************...


"Ungkapkan saja perasaanmu, karena kesempatan dua kali sangat jarang datang menghampiri dirimu."


TAMAT


"Terima Kasih yang telah membaca cerita ini sampai tamat. Terima kasih telah mendukungku dalam bentuk apa pun. Semoga Tuhan memberkati, melimpahkan kalian dengan rejekinya yang sangat-sangat melimpah tanpa batas."


Baiii....!!!


JANGAN LUPA MAMPIR DI CERITA BARU. thanks.