CASTELLO VS JANE

CASTELLO VS JANE
Bab 18



Bab 18


Senin pagi yang membuatku bad mood di mana hari ini segalanya terasa begitu menantang. Untuk menuju ke kantor aku harus menerobos keramaian di tengah cuaca yang bisa dibilang buruk. Angin kencang yang menerpa dan membuat sekujur tubuh merinding dan kedinginan. Aku lantas mendorong pintu kantor dan segera masuk ke dalam. Setelah sampai aku tak berbasa-basi lagi langsung duduk di kursi kerjaku.


“Akhir pekan yang melelahkan bagimu, Jane?” tanya Drew.


Rekan kerjaku di meja seberang itu tampak mengenakan setelan jas yang rapi dan dasi berwarna pucat. Wangi parfum prianya menusuk hidungku dari jarak sejauh dua puluh lima meteran pagi ini.


“Tidak, memangnya kenapa?” Aku mulai menyisir rambutku tapi rasanya seperti merapikan sabut logam penggosok panci saja.


Drew bersandar pada kursinya sambil mengamati wajahku. “Kau terlihat sedikit.., letih."


“Terima kasih atas perhatianmu. Sayangnya sama sekali tidak. Aku merasa sangat bersemangat,” tukasku ketus.


“Aku hanya bermaksud baik, Jane. Mungkin itu karena rambutmu.” Drew kembali merapikan kertas-kertas kerjanya.


“Memangnya ada apa dengan rambutku?” sergahku mengumpat dalam hati. Aku tahu rambutku berantakan tapi itu kan urusan pribadiku.


“Tidak ada apa-apa.”


Aku mengabaikan apa yang diracau olehnya. Kemudian aku mengeluarkan kotak makan siangku dari dalam tas dan memutuskan pembicaraan itu demi hal lain yang lebih penting. Seperti dietku yang terus berjalan sampai detik ini.


Karena aku ada janji kencan dengan Paul hari Jumat, aku bertekad bulat untuk melanjutkan dietku. Ketoledoranku dalam menggunakan kalkulator untuk menghitung seberapa besar nutrisi yang terkandung dalam makanan dan apa yang aku makan, tidak menghasilkan apa-apa. Malahan, berat badanku bertambah.mengingat aku harus memakai gaun dengan dua ukuran yang lebih kecil pada hari Jumat, aku harus segera menurunkan berat badanku.


Aku mengukur dan menimang setiap jenis makanan di kotak Tupperware-ku dan menghitung nilai kalori yang terkandung dengan teliti. Tak ada sebulir nasi pun yang terlewatkan dalam hitunganku. Jadi jika aku tak memakan apa pun selain yang ada di dalam kotakbekalku maka aku akan mendapatkan apa yang sudah tertera dalam hitunganku. Aku sebenarnya belum pernah makan sesedikit itu sejak terakhir kali mengidap asam lambung tahun lalu.


“Apa kau sudah membaca artikel Journal?” tanyaku pada Drew sambil mencari di search engine. “Hari ini mereka memuat hasil wawancaraku dengan Mr. Philip.”


“Aku yakin, pasti mereka kekurang bahan berita,” ujar Drew yang sudah melihat berita itu dilayar komputernya.


“Wow, dimuat di halaman pertama. Mereka pasti senang. Apa manajer pemasaran mereka sudah melihat berita ini?”


“Apa kau sudah tidur dengan editor Graham Bell?”


“Tidak, Drew. Aku sama sekali tidak tidur dengan editor berita Journal, atau siapa pun yang bekerja di perusahaan media itu.”


“Tapi aku sangat penasaran apa yang kau lakukan sehingga mereka mau memuat tulisanmu?” tanya Drew.


Aku memutuskan untuk bersikap dewasa dan mengabaikannya saja. Seketika itu aku berubah pikiran. “Beberapa orang jurnalis yang berwenang pasti menganggap hasil wawancaraku itu cukup berbobot. Kalua tidak begitua, mana mungkin mereka mau memuat tulisanku di headline news.”


“Itulah maksudku. Kenapa bisa tulisanmu dimuat lebih dari satu kolom? Jangan tersinggung dengan pertanyaanku, Jane,” ujarnya lagi.


“Jangan terlalu memusingkan tulisanku. Yang nyatanya sudah terbukti bahwa kami memang berprestasi,” sahutku senang. “Bagaimana denganmu?” lanjutku bertanya.


“Kadang-kadang kita memang beruntung.” Drew tersenyum licik. “Aku sedang mengerjakan banyak tugas penting bersama klienku. Malaj, aku berencana untuk..,” Belum selesai Drew berucap yang menceritakan tentang bagaimana tugasnya, terdengar suara yang memanggil nama Jane.


“Hai, Jane,” Bosku, Roger Peaman, sedang berjalan menuju ruangannya di ujung sana. Usianya sekarang sudah berada di angka lima puluhan tahun, hampir enam puluh tahun tapi semangatnya jangan ditanya. Ia memiliki semangat yang tak ada habisnya seperti lampu pijar berkekuatan satu juta watt. “Sudahkah kau memeriksa emailmu?” tanyanya kembali.


“Belum, ada apa memangnya?” tanyaku.


“Coba baca email kiriman Mr. Barry dari Houtson. Aku sudah meneruskannya kepadamu. Dia sangat puas dengan kinerjamu waktu kau memegang kendali untuk meliput mereka dan mereka ingin memperpanjang kerjasama kontrak. Kau memang hebat, Jane!”


“Benarkah? Aku bersyukur atas itu,” sahutku tersenyum sumringah. Aku pun memutar posisiku kembali menghadap komputer dan sekilas melirik ke arah Drew dengan ekspresi yang tak terbaca. Ia terlihat agak hancur hatinya, kesal, karena ia belum pernah sama sekali mengobrol akrab sekali pun dengan Bos. Aku berniat unuk memberikannya sedikit hiburan, tapi sebelum aku sempat melakukannya tiba-tiba Lily muncul untuk mengantarkan surat-surat di sebelah mejaku.


“Kabarku luar biasa,” tukasnya. “Aku akan mempunyai mobil baru, jadi aku begitu senang dengan hari ini. Drew, kau tahu soal mobil, kan?” tanyanya beralih ke arah Drew.


“Tentu saja. Kalau ada yang tak kuketahui pasti itu bukan hal penting. Kau membeli mobil merek apa?” tanya Drew dengan wajah yang kembali riang.


“Emm, sebentar aku agak lupa apa mereknya,” gumam Lily sambil mengingat sesuatu.


“Kau lupa merek dan jenisnya apa?” Mata Drew lantas beralih pada belahan dada Lily.


“Aku berusaha untuk mengingatnya,” seru Lily sambil menjentikkan jarinya. Tak berapa lama ia menjentikkan jarinya dan berseru, “Volvo P1800.”


Drew tersenyum, “Mobil yang fantastis, Lily. Keren dan pilihan yang tepat. Bertenanga kuat seperti diriku ini.”


“Dasar pembual!” ujar Lily genit sambil berjingkat pergi. Kadang-kadang aku jadi meragukan masa depan perusahaan ini kalau melihat tingkah laku mereka.


...****************...


Sepanjang hari, aku dan Julian sibuk mengikuti rapat yang akhirnya kami sempatkan mengobrol di sore harinya. “Bagaimana kabar sang kekasih setelah akhir pekan lalu?” tanyanya.


“Mungkin seperti kau dan aku jika diminta menghafal seisi kurikulum pelajaran kimia selama akhir pekan.”


Julian hanya mengangkat bahunya, “Memang begitulah caraku belajar saat ujian SMA dulu.”


“Dia kewalahan saat menerima informasi itu, tapi itu justru pertanda baik. Dia sudah mulai bisa memahami beberapa hal.”


“Pastinya. Lagi pula, aku punya firasat baik dalam hal ini. Castello terlihat sangat mengagumkan.”


“Yah, kau benar,” ucapku menyetujui.


“Jane, aku tahu kalau kau dan Castello sudah bersahabat sekian lama, tapi aku rasa kau pasti bisa melihatnya, kan?”


“Hmm, melihatnya sebagai pria? Aneh rasanya kalau aku menganggap Castello sebagai...,”


“Play boy?”


Aku menyerngitkan dahiku. “Aku tidak ingin dia menjadi play boy dan semoga saja itu tidak akan terjadi."


“Jangan terlalu yakin dulu. Lagi pula, bukan cuma itu yang ingin kukatakan kepadamu,” ujar Julian sambil meringis.


“Lalu?”


“Tebak siapa yang akan resmi menjadi firma humas untuk salah satu perusahaan properti terbear di negeri ini?”


“Bukan kita, kan?” Mataku terbelalak lebar.


“Tentu saja kita! Sudah kubilang kita akan berhasil.”


Julian dan aku langsung melompat kegirangan sambil berpelukan erat selama lima menit berikutnya. Betapa senangnya kami mendapatkan kabar gembira ini.


...****************...


tbc