CASTELLO VS JANE

CASTELLO VS JANE
Bab 29



Bab 29


Walaupun judulnya kurang meyakinkan, tapi acara bisnis terbesar di minggu pertama bulan April pasti adalah acara yang sangat luar biasa. Aku sudah menghadiri acara ini selama tiga tahun terakhir, baik sebagai tamu dari klienku atau wakil dari perusahaanku sendiri. Tujuan utama kehadiranku adalah untuk mengobrol ke sana- kemari, dan menjemput peluang bisnis yang terbuka lebar.


Aku akui memang tidak begitu banyak yang mengasyikkan di sini. Tapi acara itu sama sekali tidak aneh, bahkan kesempatan untuk menjaring rekan dimulai, orang-orang biasanya sudah mabuk berat sampai-sampai tak kuat lagi untuk berdiri, apalagi untuk memenangkan tender besar. Acara ini hanya untuk senang-senang belaka.


Namun, aku punya alasan lebih penting kenapa begitu menantikan acara ini karena Paul adalah teman kencanku kali ini. Yang menyebalkannya adalah gara-gara batas kartu kreditanku sudah mencapai limit untuk berbelanja baju kemarin. Dan aku tidak bisa menggunakannya. Jadi aku terpaksa mengambil baju dariku. Gaun merah tua sebahu terbuka yang pas bahan.


“Kau akan pergi jam berapa?” tanya Castello dari ruang tamu. Yah, kalian tahu, Castello selalu saja ke kamarku. Entahlah, dia sangat betah sekali kamarku. Bisa-bisa dia akan mengangkut semua barangnya dan memindahkan ke dalam kamarku.


“Aku harus sampai sana jam enam tiga puluh,” uajrku sambil menyembulkan kepala di ambang pintu.


“Kau mau ku antar?”


“Kalau kau tidak keberatan.”


“Sama sekali.., oh My, Jane, kau terlihat berbeda. Cantik sekali,” puji Castello.


Rol-rol pengikat rambutku memenuhi kepalaku jadi aku sangat mirip seperti ibu komplek di kungfu hustle.


“Aku selalu berpikir kawar-kawar pingkal ini terlalu diremehkan,” kataku sambil memegangi rol itu. “Sebentar, aku mendengar dering ponsel. Apa itu milikku?” tanyaku lagi.


Aku sebenarnya memiliki gangguan ingatan akan tempat di mana aku meletakkan ponselku sampai aku terpikir akan mengikatnya dengan tali dan menjahitnya di salah satu mantel favoritku. “Ya ampun, di mana aku menaruh ponselku?” tanyaku kembali sampai bantal pun ku lemparkan ke lantai.


“Ada di dapur,” jawab Castello.


“Apa kau yakin dengan itu? Pasti ada yang tidak beres dengan suara-suara di tempat ini karena aku berani bersumpah...” Aku meloncat pergi sambil mendumel.


Aku melihat ponsel itu di dapur, di sebelah panci, lalu melesat untuk mengangkatnya. Tapi sayang deringnya terlanjut berhenti. Aku membaca di layar dan kulihat nomor Paul yang tak terjawab.


Aku tekan radial untuk mengangkatnya. Awalnya dia mengangkatnya tapi kemudian telepon masuk ke kotak pesan. Setelah aku melakukannya tiga kali dan mencoba, ponselku berdering lagi. Ternyata hanya pesan suara.



Hai, Jane. Maafkan aku terlambat untuk memberitahumu untuk hari ini. Aku ada acara keluarga mendadak yang tak dapat kuelakkan. Semoga saja tidak akan menjadi masalah buatmu. Sampai ketemu lagi. Daagh. Paul.-



“Argh, ini celaka!” geramku. “Apa yang harus kulakukan sekarang?” Aku kembali mengumpat dengan keadaan yang mendadak ini.


“Ada apa? Apakah ada masalah?” tanya Castello. ia menyalipkan diri untuk melewati diriku yang akan mengambil panci.


“Aku.... kencanku batal.”


“Bukankah kau harus berangkat satu jam lagi?”


Aku langsung melihat di pergelangan tanganku. “Empat puluh lima menit lagi. Astaga! Ini sangat sial. Sial!” umpatku lagi.


“Ada masalah apa dengan kencanmu?” tanya Castello.


“Tak bisa dielakkan. Benar-benar tak bisa. Dan dia ada acara keluarga. Paul tidak mengatakan alasannya dengan jelas, tapi aku mendengar dari pesan suara itu sepertinya ia mengalami masalah serius. Dan dia sangat menyesal,” jelasku.


Castello tetap mengernyit heran.


“Aku pasti kelihatan seperti otang yang tololl kalau datang sendirian tanpa pendamping di sisiku. Dan Roger pasti marah besar karena sudah terlanjur membayar mahal untuk kursi yang sekarang terpaksa akan kosong. Entah malam kemarin aku bermimpi apa! Benar-benar sial!”


“Apa Julian tidak bisa menemanimu?” tanya Castello.


“Dia sudah pergi bersama dengan orang lain,” sahutku cemberut.


“Bagaimana dengan Erin?”


“Dia menghadiri acara ulang tahun neneknya yang ke tujuh puluh lima. Siapa saja boleh kalau dalam waktu mepet begini. Apa kau ada ide?”


Aku pun lantas berpikir sejenak. “Baiklah. Itu bagus. Ayo, Cast, kau bantu aku dan pergilah bersama denganku ke acara itu. Bagaimana kalau kau pakai tuxedo saja?” usulku.


Tak lama dia pun pergi ke kamarnya dan mengganti penampilannya.


Ternyata Castello kelihatan keren saat memakai tuxedo. Benaran keren. Aku kaget sekaligus lega mendengar kalau ternyata ia juga punya pakaian jenis itu, aku baru ingat ia membelinya tahun kemarin karena dinominasikan di sebuah acara pernghargaan ilmiah dan harus ikut upacaranya di London.


Aku belum melihatnya waktu itu jadi tak bisa membandingkan. Tapi malam ini, dia sudah bercukur bersih dan dapat kucium aroma aftershave yang menggoda. Tuksedo membuat perawakannya yang sudah tegap terlihat lebih gagah, dan rambutnya dibuat acak-acakan yang Ben sarankan.


Saat taksi kami masuk ke area gedung, Castello keluar dari mobil dan membukakan pintu untukku, dan aku terkejuut menyaksikan, menggunakan istilah ibuku bagian dari dirinya.


Aku sudah mendatangi banyak sekali kegiatan di gedung itu semenjak pemugaran, tapi aku tak pernah berhenti berdecak kagum. Pilar bundar yang bergaya klasik hingga undaka-undakan yang megah, lalu pilar-pilar yang bergalur menyangga patung-patung besar dari perunggu, sama sekali tak ada yang jelek di tempat ini. Jelas tempat ini sangat megah.


Kami menuju ke dalam aula utama yang merupakan perlambangan gaya Victoria yang sangat mewah, lampu-lampu dan dekorasi dindingnya, lantai Minton.Event Organizer kegiatan ini tak perlu repot-repot mendekorasi tempat ini dengan kain linen putih bersih dan beberapa bunga yang segar. Itu sudah menambah elegan dalam ruangan ini.


“Kulihat kau lebih santai hari ini ketimbang di bar minggu lalu. Apakah ada rahasianya?” kataku ke arah Castello.


Castello pun tertawa renyah, “Tidak ada rahasia, Jane. Asyik saja. Keluar tanpa tekanan apa pun yang harus mendapatkan nomor telepon seseorang. Bahkan tanpa harus menunjuk gigi ke para wanita dan merayunya.”


“Siapa tahu kau akan menemukannya di sini, seseorang yang ...,”


“Tidak, Jane,” sela Castello. “Malam ini aku mau rehat dulu. Mau menjadi diriku sendiri. Dan sudah kukatakan aku tak ingin ada tekanan.”


Aku merasa ada yang menggandeng sikuku lalu aku menoleh dan melihat Roger Peaman, Bosku. Malam ini ia memangkas jenggotnya sehingga terlihat lebih rapi.


“Apa kabar, Jane?”Roger mencipika cipiki terhadapku.


“Bai, Roger. Sudah pernah bertemu dengan Castello?”


“Senang bertemu denganmu.” Roger lalu menjabat tangannya. “Kau yang ahli optik itu, kan?”


“Bukan, Roger. Itu Paul. Dia tidak bisa datang.” Aku menyahuti.


“Kau pasti ingin mendapatkan penghargaan,” kata asal Castello, menghapus perasaan canggung yang dialami Roger.


“Tentu saja.” Roger tersenyum dengan lebar. Penghargaan itu memenuhi kepalanya. Ia mencoba berpura-pura tak merasa tersindir dan tetap tenang seperti seorang bocah yang mengharapkan kado natal.


“Kita punya kesempatan itu, Roger. Kita adalah yang terbaik,” kataku menambahkan.


Setelah itu, Roger pamit untuk bergabung dengan teman-teman bisnis yang ada di tengah aula. Kemudian Julian muncul menghampiri kami yang masih berada di sana.


“Apa kabar, Kekasih?” sapa Julian seraya bercanda menepuk bokongg Castello.


Castello menggelengkan kepala geli. “Kalau tepukan itu yang aku lakukan, kau pasti melaporkanku karena pelecahan.”


“Aku takkan pernah melakukan itu padamu. Kau bisa menepuk bokonggku kapan saja yang kau inginkan. Apa yang kau lakukan di sini? Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu malam ini di acara ini, Julian.”


Aku memberitahu Julian kalau Paul ada urusan keluarga mendadak sehingga ia membatalkan janjinya.


“Kuharap kau membuatnya untuk menebus kesalahan itu.”


“Aku yakin dia jujur berkata padaku. Dan dia betul-betul menyesal,” ujarku menyakinkan.


“Baguslah. Setidaknya malam ini kau mendapatkan pendamping yang lebih baik, Jane,” kata Julian.


...****************...


tbc


thank yang udh bc dan like