
Bab 65
Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. "Kurasa kau berlebihan."
"Kurasa kau terlalu sering berada di dekat Castello. Karena dia laki-laki terbaik di dunia, sehingga kau menganggap swmua laki-laki demikian. Kenyataannya benar-benar berbeda."
Aku mencoba untuk tetap tersenyum. Mencoba untuk berpura-pura bahwa komentar ini tidak menyengatku sampai ke hati. Untuk kali ini, Julian begitu terfokus pada masalah-masalahnya sendiri, sehingga tidak sempat memperhatikan masalahku.
"Omong-omong tentang Castello," lanjutnya, "kemarin aku berbicara cukup lama dengan Erin di telepon."
"Oh, ya?"
Julian menyesap anggurnya. "Aku rasa dia jatuh cinta pada sahabatmu itu."
"Apa?"
"Sepenuhnya."
Aku menelan ludah. "Benarkah?"
"Aku yakin." Julian mempelajari reaksiku. "Apa kau terkejut?"
Aku menyusun kata-kataku ini dengan saksama. "Aku tidak yakin aku akan melihat mereka sebagai pasangan dalam jangka panjang." Ini angan-anganku. "Erin masih harus menyelesaikan masalahnya dengan Gary. Aku pikir mereka mungkin akan berbaikan."
"Tidak," sanggah Julian, seolah-olah pendapatku tidak masuk akal. "Inilah kenyataannya, Jane. Saat mendengarkan Erin kemarin, aku yakin akan hal itu."
...****************...
Castello saat ini berada di rumah dan rasanya aneh. Bukan hanya karena ia begitu sering berada di tempat Erin akhir-akhir ini, namun juga karena aku menjadi seseorang yang kacau secara emosional dan fisik setiap kali ia berada di dekatku. Aku mendapati diriku berbicara seperti seorang komentator Formula One yang berbicara dengan cepat, atau hampir tidak dapat berbicara sama sekali. Diriku penuh dengan kerinduan akan dirinya, sangat mendambakan untuk menjangkau dan menyentuh pipinya, mencium bibirnya, merasakan tubuhku. Aku sangat cemburu pada Castello dan Erin. Dan sungguh memalukan bahwa aku bisa merasa seperti ini tentang dua teman terbaikku.
Peristiwa ini telah memunculkan sisi seorang penyihir jahat dari dalam diriku dan terus terang saja aku tidak menyukai Erin. Ia menyebalkan. Benar-benar menyebalkan.
Castello berkeliaran ke dapur dan mengeluarkan dada ayam serta sayuran dari lemari es sementara aku menyiapkan makan malamku.
"Makananmu terlihat... menggugah selera," kata Castello.
Aku melihat mangkukku yang penuh sereal sarapan, Hanya seratus tiga puluh lima kalori, atau dua setengah nootrient per porsi. "Aku tidak lapar," aku berbohong.
"Aku sedang membuat kari Thailand. Banyak. Ambil saja kalau kau mau," tawarnya.
Aku terpecah antara pilihan langsung melarikan diri dan pilihan yang lebih menggoda untuk tetap menatap mata Castello dan menyiksa batinku sendiri.
"Baiklah. Terima kasih." Aku meninggalkan serealku. Tekadku lemah sekali.
"Bagaimana kabarmu seminggu ini?" tanya Castello.
"Jangan tanya." Aku menghela napas.
"Apa Andy Park mengganggumu lagi?"
"Dia orang yang paling tidak kukhawatirkan. Aku sempat menyangka ibuku berselingkuh." Mata Henry hampir terlompat keluar dari kepalnya.
"Jangan khawatir, ibuku tidak melakukannya," ujarku. "Pria yang kulihat bersama dengannya adalah bos barunya... pria itu gay*. Mum hampir tidak mau berbicara denganku sekarang karena, singkat cerita, aku memberitahu Dave tentang hal ini dan Dave langsung menuju ke Newz untuk memergoki mereka."
"Dave memang terkenal karena kebijaksanaan dan diplomasinya," canda Cast sambil tersenyum.
"Kau tidak perlu terus-menerus mengingatkanku."
Castello dan aku memasak serta memakan kari itu, mencuci piring bersama-sama, dan terus mengobrol di meja dapur sesudah selesai. Aku tersadar betapa tidak nyamannya ketidakhadiran topik tentang pacar barunya itu. Akhirnya aku merasa harus mengatakan sesuatu.
"Bagaimana kabar Erin?" Aku memastikan ekspresi wajahku tidak mengkhianati diriku sendiri.
"Dia luar biasa," jawab Castello dengan matanya berbinar-binar.
"Jadiii... apakah sudah ada keseriusan antara kau dan Enin?"
"Entahlah. Aku cukup yakin aku tidak jatuh cinta padanya." Aku merasa ingin menari-nari di dapur. "Paling tidak belum... sekarang masih terlalu dini." Aku merasa ingin berbaring di lantai dan menangis.
Tak diragukan lagi dialah yang punya hubungan paling dekat denganku sampai saat ini." Ada secercah rasa malu yang coba disembunyikan Castello. Ia tidak tahu bahwa ekspresinya itu membuatnya sangat menawan. "Kurasa Erin orang yang luar biasa," tambahnya.
"Kau benar." Aku setuju.
"Ya." Aku menyetujuinya lagi.
"Dia juga salah satu orang yang paling cerdas yang pernah kutemui."
"Ya," kataku, sambil merasa mual.
"Belum lagi dia baik. Lembut. Dan, kau tahu, dia seksi dengan cara yang tidak berlebihan."
"Tak berlebihan. Ya." Aku merasa ingin melompat dari tebing. "Kau pria yang beruntung," kataku lirih.
"Kau tahu, Jane... semuanya berbeda setelah aku dekat dengan Erin. Aku hanya bersamanya. Cuma dia seorang."
Aku mencoba tampak menyetujui. "Bagus."
"Racel dan semua wanita yang lain itu memang cantik, tapi tidak mungkin aku akan terus berkencan dengan mereka mengingat sekarang aku dekat dengan Erin. Aku tahu kau tidak akan pernah memaafkanku jika aku mempermainkan temanmu. Tapi kau tidak perlu khawatir. Sekarang aku pria dengan satu wanita saja."
"Aku senang mendengarnya."
Castello mengangguk. "Tapi, bagaimana denganmu? Apakah ada seseorang yang menarik bagimu baru-baru ini?"
Dengan limpahan adrenalin dalam tubuhku, aku ingin menggenggam pundaknya, mengguncangnya dan berteriak, Kau! Kau.. Cast! Kau telah mencuri hatiku!!
Sebaliknya, aku terbatuk dengan gugup. "Tidak ada yang istimewa. Kau tahu kehidupan percintaanku, kan? Tidak pernah sederhana."
Castello meraih dan menggenggam tanganku, mengirimkan kehangatan dan ketenangan dalam tubuhku.
"Kau pasti akan menemukan seseorang, Jane," bisiknya. "Seseorang yang tampan dan baik hati. Seseorang yang pantas mendapatkan dirimu."
Aku melihat ke dalam matanya dan jantungku serasa siap meledak. Aku sudah menemukannya. Tapi ia tidak menyadarinya sama sekali.
...****************...
Mami dan aku tidak pernah akrab dalam hal bicara dari hati ke hati. Aku mengenal seorang gadis di universitas yang senang berdiskusi dengan ibunya sampai ke hal yang sekecil-kecilnya tentang segala sesuatu, mulai dari pilihan alat kontrasepsi sampai implan payudara. Namun, tidak demikian halnya dengan Mami dan aku.
"Jane," katanya lagi, nada suaranya cukup lembut, "apakah ada sesuatu yang menjadi masalahmu?"
"Ya. Mengapa kau bertanya?"
"Begini, aku mungkin salah, jadi jangan tersinggung kalau aku mencampuri urusanmu."
"Apa maksudmu, Mami?" tanyaku, bingung.
"Aku tidak bermaksud untuk mencampuri urusanmu, Sayang, tapi apakah kau menyayangi Castello?"
Aku menggigit salah satu kuku tanganku. "Tentu saja. Dia sahabatku."
"Bukan itu maksudku dan kau tahu itu." Saat aku menatap mata Mami, pertahananku runtuh. Air mata menggenang dan bibirku mulai bergetar tak terkendali.
"Kau bisa bercerita padaku, Sayang. Aku ini ibumu."
Aku menghela napas dengan gemetar dan berusaha untuk menenangkan diriku. Aku gagal. Sebaliknya, aku malah menangis.
"Aku jatuh cinta padanya, Mam." Aku terisak. "Hanya sayangnya, salah satu teman terbaikku juga mencintainya."
Aku menyadari bahwa ternyata ibuku mau mendengarkan keluh kesahku. Dan aku pun menangis. "Kurasa sudah terlambat, Mam," aku meratap saat ibuku memelukku.
"Tidak pernah ada kata terlambat," ujarnya.
"Tapi sekarang Cast tidak mendekati sembarang orang. Dia berkencan dengan Erin. Yang lebih buruk lagi, Castello mencintainya. Dan Castello menganggap Erin 'seksi dengan
cara yang tidak berlebihan'. Hiks,..!"
Mami mengernyit. "Aku tidak bermaksud mengatakan bahwa masalahmu tidak rumit. Aku tahu kau setia pada Erin. Tapi kau harus memberitahu Castello tentang perasaan yang kau miliki. "
"Tapi, Mam, aku sudah mencoba mengatakan kepadanya sebelum aku tahu dia sedang mendekati Erin, dan hal itu cukup sulit dilakukan pada saat itu. Sekarang hal itu sudah tidak mungkin."
...****************...
Tbc