
Bab 28
“Cast! Kau tahu, dia sungguh baik sekali,” ucapku semangat sambil mendudukkan tubuhku ke bangku di meja dengan kaki yang masih gemetar karena sakit. “Apa aku sudah cerita kalau kami punya kesamaan?”
Keesokkan harinya, aku sudah lupa segala kejadian buruk selama kencanku dengan Paul dan sangat mustahil bagiku memikirkan hal lain kecuali mengenai betapa tampan dirinya. Sampai saat ini kami belum juga meresmikan hubungan kami ke jenjang berikutnya. Aku memutuskan untuk sementara waktu membiarkan keadaannya seperti ini. Aku ingin membuatnya tetap ragu-ragu akan potensiku menjadi pacarnya. Setelah kami kembali kemarin, kami berciumann di ambang pintu mobil lalu mengucapkan selamat malam. Aku sungguh bangga kepada diriku. Akan berapa lama aku bertahan, entahlah.
Castello mendongak dari laporannya dan tersenyum ke arahku. “Sudah.”
“Ku tahu, kami mempunyai zodiak yang sama, Leo.”
“Kupikir kau tidak percaya hal-hal seperti itu.”
“Aku memang tidak percaya dengan hal itu, hanya saja merasa kalau itu sebuah kebetulan,” kataku. “Kenapa kau masih kerja?”
“Aku sedang memeriksa laporan tentang vaksin malaria baru yang sedang diuji coba. Sepertinya semuanya sudah sampai ke tahap yang cukup menggembirakan,” katanya.
“Menurutmu apakah malaria akan bisa dihapuskan selamanya?”
“Perlu pertarungan yang sangat lama dan mahal sebelum hal itu terjadi, tapi ya, mungkin saja bisa. Harus. Lupakan terorisme, Jane. Dari segi ancaman terhadap populasi dunia, tak ada yang bisa mengalahkan malaria. Pernyakit iini membunuh manusia setiap hari banyaknya dengan jumlah korban Al-Qaedah pada September 2011 di New York,” jelas Castello.
“Itulah salah satu hal yang sangat kukagumi darimu. Kau melakukan pekerjaan yang menyelamatkan nyawa manusia,” ujarku kagum.
“Yah, sayangnya saat ini belum cukup banyak yang terselamatkan.” Castello memeriksa beberapa laporan lainnya.
“Menurutmu apakah kewaspadaan kita kurang karena penyakit ini kebanyakan terjadi di negara kita?”
Castello berpikir sejenak, “Ya, kurasa begitu. Hal itu juga karena kenyataannya korban utamanya adalah anak-anak di bawah lima tahun. Tepatnya bayi.”
Rasa bangga akan pekerjaan sahabatku ini melanda diriku dan membuat tenggorakkan agak tercekat.
Aku pun duduk dan tersenyum. “iya. Kencan untuk yang ketiga kalinya. Percaya tidak? Selama enam bulan aku merasa bagai Cawan suci, tapi sekarang, yah, aku punya pacar. Ternyata aku tidak jelek-jelek amat.”
“Siap bilang kalau kau jelek? Tentu saja kau itu tidak jelek. Tapi tolong, pulanglah dengan keadaan baik-baik, jangan membawa luka seperti ini. Aku bukan ahlinya, kau mengerti?” ucap Castello mengingatkan.
Yang dimaksud oleh Castello adalah pipiku yang berdarahdan itu masih kelihatan jelas setelah cedira kemarin. Untungnya aku tidak ada kencan denga Paul lagi sampai minggu depan, jadi ada beberapa hari untuk menyembuhkannya. Minggu depan Paul setuju kuajak kencan di acara bisnis, acara makan malam formal dan penting yang kkuhindari setiap tahun untuk pekerjaanku, acara yang kutunggu-tunggu untuk bisa memamerkan Paul.
“Lalu bagaimana dengan kencanmu sendiri?” tanyaku kepada Castello.
Atas perintah dari Julian, Castello harus berlatih sesering mungkin. Lalu iaikut berkumpul dengan kawan-kawannya dari tim olahraga yang diikutinya untuk jalan-jalan setelah selesai latihan.
“Lumayan,” katanya sambil mengangkat bahu. “Aku mengobrol dengan beberapa wanita, tapi belum dapat nomor telepon dari mereka.”
“Tak perlu cemas, Castello. Pasti nanti dapat. Percaya padaku. Pelan-pelan saja,” kataku kepadanya.
Meski kami berdua tak tahu kapan itu terjadi.
...****************...
tbc
terima ksoh yg sudah baca
Jan lupa like kalau habis baca ya
makasih