
Kami memutuskan untuk bertemu di Bar yang ada di pusat kota. Aku lega sudah berdandan dengan pantas karena ternyata tempatnya adalah WAG-Central, tempat para istri dan pacar selebriti bola nongkrong. Memang tak semua pengunjung wanita adalah istri dan pacar pemain sepak bola sejati tentu saja, hanya ada satu dua saja. Biasanya kaki mereka sama panjangnya dengan rambut mereka, dan busana mini mereka sependek rentang perhatian mereka. Namun, banyak juga gadis yang mirip mereka, kawanan wanita cantik gemerlapan yang tampaknya telah menghabiskan waktu tiga minggu di Prancis untuk memanikur kuku.
"Jane!" Paul melihatku berjalan menuju ke bar dan memberiku aba-aba untuk menghampirinya. Aku menghela napas dalam-dalam lalu berjalan menuju ke arahnya sambil berusaha menyembunyikan kegugupanku.
"Hai." Aku tersenyum. Tangannya langsung merangkul pinggangku, menarikku lalu menciumm bibirku dengan keras. Ciumaan itu hanya sedetik, namun saat ia melepasku, aku bisa merasakan kalau aku tersipu, mungkin terkejut. "Apa kabar?"
"Emm... Aku baik," jawabku tak bisa bernapas. Aku mundur satu langkah dan menatap matanya, mengingatkan diriku betapa tampan dirinya.
Paul melepas rangkulannya di pinggangku dan gandeng tanganku. "Ayo, kita bertemu dengan pria-pria yang lain." Aku menggeleng, mengira barangkali aku salah dengan pendengaranku. "Pria? Maksudmu?"
"Beberapa kawanku sedang main ke kota malam ini, jadi mungkin kita bisa bergabung dengan mereka sebentar Kau tak keberatan, kan?"
Sebelum aku mendapat peluang berbohong tentu saja aku tak keberatan. Ternyata aku sudah berdiri di hadapan tiga pria yang sedang memegang botol bir bermerek sambil tertawa-tawa ribut. Ketika mereka merasakan kehadiran kami, tawa itu reda lalu mereka menoleh memandangi kami. Aku merasa seperti benda pameran di museum.
"Ini Jimmy, Brian dan Chas," Paul memperkenalkan mereka denganku.
"Hai, senang sekali bertemu kalian." Aku tersenyum lebar. Raut wajah mereka tampak tak bersahabat. "Aku Jane, Senang sekali bertemu kalian." Kenapa aku mengulangnya? Astaga. "Ehm... apa kalian saling kenal di pekerjaan?"
Aku menatap langsung ke Jimmy, Brian lalu Chas. Tujuanku adalah untuk mendeteksi setitik saja rasa bersahabat dari mereka jadi aku bisa masuk ke dalam percakapan dan menciptakan ikatan. Jika aku ingin hubunganku dengan Paul berhasil, aku harus menunjukkan betapa aku adalah gadis yang periang, hebat, menyenangkan, dan supel untuk diajak bergaul.
Sedihnya, tak seorang pun sudi menjawab. "Kami sudah kenal dari dulu," kata Paul seraya menenggak minuman botolnya yang tinggal seperempat dengan suara cegukan yang sangat jelas.
"Minum?" tawarnya lagi.
Tak perlu waktu lama, aku menyadari kalau Jimmy, Brian dan Chas yang jelas kesal karena seorang wanita menyusup di tengah acara para lelaki ini, akan sulit diajak berteman. Menyebut mereka sulit diajak berteman saja terlalu sepele. Aku sudah merasa seperti monyet yang berjoget di hadapan Kaisar Roma yang lebih terbiasa melihat kepala perawan diterkam oleh singa lapar. Usahaku untuk mengajak mereka mengobrol sedikit disambut dengan gerutuan satu suku kata. Itu kalau aku beruntung dan aku langsung mengerti mereka pasti berpikir Paul sudah sinting mengajakku ikut- ikutan malam ini. Yang jelas itu merupakan satu-satunya hal yang kami sama-sama sepakati.
Andai Paul memperhatikan bagaimana keadaan ini mengalir, tak ada tanda-tanda apa pun kalau ia menangkapnya. Ia malah ikut mengobrol saat mereka berganti-ganti topik pembicaraan, misalnya seperti pembahasan random yang disukai para kaum lelaki, acara Top Gear semalam. Serasa aku ingin kentut. Selama dua jam, selain gelak tawa, aku berjuang keras menemukan satu saja celetukan cerdas dari humor khas anak sekolahan ini. Tapi karena hal terakhir yang kuharapkan adalah dikeluarkan karena tidak punya selera humor, aku pun terpaksa bertahan kikuk dengan senyuman yang terpancang lebar di wajahku. Kedengarannya mudah, tapi sama sekali tidak. Tidak seperti Paul, yang tertawa sampai berlinang- linang air mata.
"Ya ampun. mereka lucu sekali!" Paul tergelak.
Ia kembali ke bar dan akhirnya aku mendapatkan kesempatan langka yaitu berbicara berdua.
"Iya, kan? Brian itu bisa jadi penerus Billy Connolly... semua orang bilang begitu."
Brian mungkin punya banyak cerita lucu, namun pendengarnya harus dioperasi dulu otaknya supaya dapat menemukan di mana sisi lucunya.
"Dia memang lumayan pandai melucu," kupaksakan diriku memuji. "Apakah kita akan pergi ke lain?"
Hatiku ambles dan tiba-tiba tak ada mood. "Oh, bukankah mereka akan pergi ke tempat yang berbeda?"
"Rencananya begitu, tapi kita bisa tertawa-tawa saja di sini, kan?"
Aku menatapnya kosong, tak kuasa menemukan kata- kata. Lalu kami disela oleh Jimmy.
"Paul! Tunggu sampai kau dengar cerita lucu Brian tentang seorang suster dengan payudara* yang diimplan..."
"Ha ha ha, benarkah? Cepatlah ceritakan padaku," ujar Paul.
Akhirnya kami berhasil menyingkirkan Jimmy, Brian dan Chas di jam dua lewat lima belas pagi ketika, sehabis berkeliling mendatangi beberapa bar di tengah kota, Jimmy muntah- muntah di bawah meja dan kami dipersilakan untuk pergi meninggalkan bar. Dalam perjalanan keluar itu, Brian dan Chas bertemu dengan dua orang wanita dari jasa telepon dewasa. Syukurlah, akhirnya kami bisa lepas dari mereka.
"Nah, sekarang kau sudah mengenal kami semua." Paul menyeringai sambil merangkulkan lengannya ke tubuhku saat kami melangkah menuju Castle Street untuk mencari taksi. "Kurasa teman-temanku menyukaimu."
Kurasa Paul sudah gila, tapi aku tidak mengatakan apa-apa.
Ia memeluk pinggangku dan merunduk untuk mencium rambutku. Denyut jantungku semakin cepat dan tiba-tiba aku lupa kalau ia sudah membuatku tak nyaman karena membuatku menghabiskan malam terburuk seumur hidupku. Alih-alih, aku merasakan deru gairahku.
"Sayang kita tidak punya banyak kesempatan untuk berduaan," imbuhnya.
"Memang. Aku sudah tahu itu." Aku mengangkat kedua bahu.
Ia berhenti dan berbalik menghadapku, menangkup wajahku dengan kedua tangannya sementara cahaya dan lampu-lampu Balai Kota berkelip-kelip di matanya. "Oh Tuhan, kau sangat seksi, Jane," desahnya.
Aku bisa merasakan pinggulnya menekan lembut ke arahku. Ia merunduk dan mengusapkan bibirnya ke bibirku. Seolah ada petasan yang meledak di balik ****** ***** baruku. Aku telah bersumpah bahwa kejadian ini tidak masuk ke dalam agenda sampai aku benar-benar bisa memercayai Paul kembali setelah kejadian Anugerah Bisnis tempo hari.
Aku merangkulkan kedua tanganku dan kurasakan ada tonjolan menohok dipahaku. Entah berapa lama kami berciumaan, kurasa cukup lama sampai-sampai ketika ia menawarkan taksi untuk pulang ke tempatnya, aku sama sekali tidak menolak. Kami melanjutkan berciumaan di dalam taksi yang menuju rumahnya, dan semakin jauh taksi itu melaju, kurasakan gairaahku semakin menyala.
Ketika taksi itu sampai di rumahnya, aku sudah kehabisan napas karena gairaah dan penantian yang teramat sangat hingga tak kuasa menghentikan tangannya yang bergerilya ke balik blusku. Kami tersandung-sandung masuk ke apartemennya sambil masih berpagutan, dan saat pintu terbanting menutup, aku sadar segala peraturanku akan segera terhempas keluar jendela dan tak akan berlaku lagi.
...****************...
tbc