CASTELLO VS JANE

CASTELLO VS JANE
Bab 10



Bab 10


Julian, Erin, dan aku sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan untuk berbelanja keperluan Castello. Kalian tahu, kan rencana yang kubuat untuk sahabatku itu? Ya, untuk memulai proses perubahan teman se-apartemenku itu.


Aku menceritakan bagaimana kencanku malam tadi kepada kedua orang temanku ini. Julian yang mendengar itu memasang tampang yang seperti mirip ubur-ubur yang terkena sengatannya sendiri.


“Itu benar-benar sangat aneh,” ujar Julian. “Aku serius,” lanjutnya sambil memilah sweter di gantungan. “Ibunya menelepon sekali saja sudah cukup mencurigakan. Dan kau masih bertahan selama itu? Sungguh luar biasa. Kau seharusnya mendapatkan mendali karena sudah bertahan dalam kencan yang aneh.”


Aku mengangkat kedua bahuku. “Jelas, aku tak ingin bertemu lagi dengannya. Apalagi untuk kencan kedua. Aku tak mengerti ada apa dengan ibunya yang selalu menelepon dirinya di setiap menitnya.”


“Rasanya tidak adil,” ujar Erin.


“Bukan hanya soal ibunya saja, aku pun juga tidak mengerti apa yang sedang dia bicarakan. Padahal saat itu dia berbicara tentang drama yang sudah pernah kutonton. Waktu dia berbicara sungguh terdengar seperti berbahasa alien. Aku tidak mengerti sama sekali apa yang dia maksudkan,” keluhku.


“Ya, ampun...,” cetus Erin dengan penuh pengertian. “Jangan cemas, Jane. Aku yakin kau hanya kurang beruntung untuk kencan kali ini.”


Itulah yang selalu kudengar dari bibir Erin setelah semua kencanku ceritakan, tapi aku tak mau mengungkit hal itu. Lagi pula, siapa pun akan bersikap optimis jika memiliki kehidupan asmara seperti Erin. Ia dan Gary telah bersama sudah semenjak sembilan bulan dan mereka selali begitu dimabuk cinta bersama. Sampai-sampai ketika sedang menawarkan susu cair pun Erin terdengar seperti sedang membacakan syair di saat malam Valentine.


“Yah, kau benar. Masih banyak ikan di laut,” ujarku tersenyum dengan masam.


“Memang begitu. Kau pasti akan segera menemukan seseorang yang pas di hatimu, Jane. Aku yakin sekali,” tukas Erin.


“Aku yang tidak kenal putus asa,” ujarku lirih.


Erin mengangkat kedua ibu jarinya dan mengangguk tersenyum. Ia meyakinkan aku bahwa aku bisa.


Apa aku memang seperti menutupi keraguanku selama ini pada serangkaian kejadian klise yang ku alami? Sebenarnya aku memang agak stress dengan kehidupan asmaraku. Dan bukannya aku belum bisa move on dari mantanku, Thomas. Tapi aku sungguh merindukan bercengkrama antara dua manusia yang saling mengasihi dan menghabiskan waktu bersama.


Castello tak begitu antusias ketika kami menemuinya. Malah, saat kami melihat-lihat isi toko, ia nampak tak nyaman sama sekali. Tanpa mempedulikan kami pun memilihkan setumpuk baju keren dan menyuruhnya ke kamar ganti sementara kami menunggu ia muncul kembali dari balik pintu itu dengan gagahnya dan memesona. Tapi nyatanya ia lama sekali di dalam sana.


“Castello..,” panggilku sambil berdiri dengan caggung di depan ruang fitting. “Apa kau sudah selesai?”


Saat tak terdengar jawaban dari sana, Julian pun berniat untuk mengetuk pintu. “Castello, izinkan aku masuk.”


“Jangan.” Castello melongokkan kepalanya dari balik pintu yang sudah dibukanya itu.


“Cepatlah, janjimu dengan penata rambut tinggal beberapa jam lagi,” ujar Julian mengingatkan Castello bahwa tugasnya belum selesai sampai di sini saja. Julian lantas bergabung dengan kami di atas sofa dan menyilangkan kakinya sambil berpangku tangan.


“Kau bukan satu-satunya yang menderita semalam. Aku putus dengan Robert,” ucap Julian.


“Sugar daddy mu itu?” tanya Erin dengan mata yang terbelalak. “Yang punya Porche?”


“Mantan sugar daddy. Dia memang baik, tapi aku mulai terobsesi dengan lengannya yang bergelambir. Apa alasanku terlalu dangkal?”


“Mungkin,” jawabku.


“Sudahlah. Mungkin sudah waktunya aku harus menjalin kasih yang lebih serius dari ini,” sahut Julian.


...****************...


apa? tbc