CASTELLO VS JANE

CASTELLO VS JANE
Bab 36



Bab 36


"Jane! Kumohon hentikan teriakanmu." Wajah Castello memerah, namun ia tahu kalau itu memang sebuah kenyataan. Aku sangat bahagia sekali untuknya.


Setelah balapan itu, semua anak harus segera ke kantin untuk makan malam tapi aku melupakan sesuatu yang tertinggal di ranjang daruratku di dalam kemah, jadi aku meninggalkan Castello yang sedang menerima ucapan selamat dari guru-guru dan murid-murid lainnya karena kemenangannya hari ini yang sangat luar biasa. Aku tak mengingat bagaimana, pokoknya gara-gara lupa, aku jadi telat. Ketika aku kembali ke kantin dan berharap bisa menyelinap tanpa ketahuan, aku melihat sesuatu yang membuatku langsung curiga.


Aku bersembunyi di balik salah satu pondok ketika Andy muncul dari arah kamar mandi dan berlari menyeberangi lapangan rumput membawa bundelan benda yang mirip bungkusan cucian. Ia membuang pakaian-pakaian itu ke seberang pagar ke lapangan berlumpur yang penuh kotoran sapi di sebelahnya, lalu mengambil ranting dan membenam-benamkannya ke dalam lumpur itu, dan melumuri bundelan itu sampai rata dengan isi perut sapi yang masih segar. Ia menancapkan ranting itu ke tanah, lalu pergi.


Tatkala aku memeriksa tempat itu, aku bisa langsung mengenali siapa pemilik pakaian-pakaian itu, karena tak ada seorang pun yang punya baju hijau seperti itu kecuali mereka yang mengidap buta warna.


Dalam situasi yang masih normal, aku pasti akan mengambil baju itu dan mengembalikannya ke kamar mandi. Sayangnya, baju-baju itu sudah penuh dengan kotoran sapi sampai tidak bisa melihat warna dan bentuk dari pakaian-pakaian itu seperti apa bahkan bisa untuk menyuburkan ladang bawang perai selama setahun. Aku marah sekali. Insting pertamaku adalah berlari ke aula makan dan melabrak Andy sendiri. Tapi kemudian aku ingat Castello yang berada di arah kamar mandi. Aku berlari ke blok kamar mandi dengan segera.


"Halo? Kau ada di sana, Cast?!" Aku memanggil dengan ragu-ragu.


"Jane! Oh, syukurlah kau datang," kepala Castello menyembul dari salah satu jendel "Oh, syukurlah. Ini sungguh memalukan, tapi..."


"Seseorang mencuri pakaianmu!" Aku langsung memotong kalimatnya. "Andy Park pelakunya, bocah jahat itu. Jelas-jelas dia tak rela dikalahkan. Dia yang punya masalah. Kau tahu, aku harus..."


"Jane?" panggil Castello menyela.


Aku terkesiap dan langsung mendongak ke arah Castello yang mendadak beberapa menit yang lalu aku lupakan. "Ya?"


"Bisakah kau mengambilkan pakaianku?" pintanya.


"Oh, ya, tentu saja bisa." Aku menyanggupi hal itu.


Untungnya, semua orang sedang makan malam, jadi aku bisa menyelinap masuk ke asrama putra dan mengambilkan pakaian bersih untuk Castello dari dalam tasnya. Namun ketika aku kembali ke kantin, kami sudah telat dua puluh dua menit. Andy sedang menceritakan kelakuannya ke anggota-anggota gengnya. Kami duduk di ujung bangku panjang menikmati kentang tumbuk yang kurang halus, buncis lembek, dan kami pun hanya dapat menikmatinya saja. Saat tawa mengejek mereka menggelegar meledak di seantero ruangan. Castello memasang wajah berani tapi aku tahu kejadian itu membuatnya kegembiraan hilang begitu saja setelah memenangkan pertandingan. Bagaimana mungkin tidak? Aku akan merasakan hal yang sama kalau aku di posisi Castello. Akan kulabrak Andy di depan semua orang.


Aku senang karena kejadian itu, Castello tidak harus menghadapi ejekan- ejekan itu lebih lama lagi. Tahun ajaran berikutnya orangtua Andy memindahkan putra mereka itu ke sekolah swasta. Andy sesumbar tentang sekolah barunya selama berminggu-minggu sebelum akhirnya berangkat. Itulah kali terakhir kami melihatnya. Sebagai hasilnya, hidup kami terasa jauh lebih mudah, aman dan damai tanpa dirinya. Si pengganggu sudah pergi.


Tentu saja, Castello takkan pernah menjadi Mr. Populer dalam semalam. Ia masih terlalu pemalu, masih canggung Namun kegugupan sosialnya sedikit berkurang setelah kemenangannya di Colomendy. Jadi kurasa inilah yang dimaksudkannya dalam menyelamatkan dirinya, meski aku yakin tidak sepenuhnya aku yang membantunya.


Aku pun teringat akan satu hal, besok pagi aku akan merasakan hatiku yang hancur. Sehancur-hancurnya...


...****************...


Peningku gara-gara mabuk tak ada apa-apanya dibandingkan rasa terbakar oleh rasa malu akibat peristiwa semalam. Atau kenyataan bahwa Roger tak sudi untuk memandangku seharian ini. Pidatoku yang diberitakan, kata demi kata dalam bagian gosip bisnis di salah satu surat kabar memiliki keterangan di bawah gambar yang bertuliskan 'Seluruh hadirin tegang.... Jane Tyler, memuji pemilik Peaman-Brown dengan sebutan Roger ******. Sungguh aku membaca hal itu langsung menutup wajahku yang sangat malu.


Dan yang paling penting dari semuanya, muncul sebuah masalah yang tak terduga. Dua stasiun TV akhirnya setuju meliput "di balik layar" kegiatan salah satu klienku, yaitu sebuah rumah sakit. Aku sudah mengutak-atik ide ini selama berminggu-minggu, dan seharusnya aku merasa senang. Masalahnya, mereka menginginkan syuting hari ini juga karena kebetulan ada publikasi laporan layanan kesehatan nasional dan tepat bersamaan waktunya dengan saatnya aku meluncurkan produk utama untuk salah satu klien lainnya. Dua-duanya terlalu penting untuk diwakilkan kepada orang lain, tapi aku tak bisa berada di dua tempat sekaligus. Satu-satunya pilihanku adalah menghadapkan masalah ini kepada Roger, bosku.


Aku menghirup napas dalam-dalam, dan sambil tersenyum kikuk, gugup. Aku mengetuk pintu ruangannya yang terbuka. Roger mendongak dari komputernya dan kelihatan langsung memasang wajah kaku. Masih terlihat kesal di raut wajahnya sisa yang semalam. Ia tak tampak seriang ayam yang sedang bertelur. "Apakah kau ada waktu, Rog?"


"Masuk," tukasnya. Aku pun memasuki kantornya dan menutup pintu. "Kalau ini tentang masalah semalam..." ucapan Roger terpotong.


"Bukan," selaku, dan langsung berpikir mungkin itu perlu juga. "Memang itu jelas salah satu hal yang ingin kubicarakan denganmu, tapi..."


"Tak usah diperpanjang lagi." Wajahnya tampak letih seolah-olah berusaha memaafkan aku. Namun di satu sisi, hal itu membuatnya sakit secara fisik.


"Yah, tentu saja. Tapi aku minta maaf, Roget. Jujur saja, aku sangat menyesal sekali. Nyatanya..." belum habis aku menjelaskan untuk meluruskan masalah ini, tetapi kembali di sela oleh Roger.


"Jane, sudah kubilang jangan diperpanjang," selanya. "Anggap saja masalahnya sudah selesai."


Aku menghirup napas dalam-dalam lagi, lalu perlahan membuangnya. "Terima kasih, Roger. Kau atasan yang baik dan juga hebat."


Ia memutar bola matanya sedemikian rupa yang makin membuatku tak nyaman. Biasanya, aku dan Roger amat dekat meskipun ia atasan dan aku bawahan. Kami terbiasa jujur dan terbuka. Aku selalu bekerja sangat giat. Uniknya dan semenjak aku mulai kerja di sini, Roger dan aku sudah cocok.


Pagi ini, untuk pertama kalinya, aku merasa ikatan antara mentor dan siswanya telah luluh lantak. Aku sekarang adalah orang yang paling tollol di kantor ini, Anggota tim paling lemah. Perasaan yang sangat tidak kusukai.


"Kau bilang ada yang lain?" katanya menyela dalam lamunanku.


"Oh, iya. Aku punya sedikit masalah hari ini."


Selama aku menjelaskan permasalahannya, aku mengamati sikapnya yang kian membuatku tak nyaman dan ketakutan. Bahasa tubuhnya sama negatifnya dengan saat aku mengolok-olok dirinya. Begitu pun Roger yang terang-terangan, seolah-olah dia sedang mengolokku di depan umum.


...****************...


tbc