
Bab 19
Julian memang benar tentang Gary. Ternyata pria itu memang brengsek*. Aku tahu Erin telah dicampakkan sewaktu sahabatku itu muncul di flatku dengan mata yang merah dan bengkak khas seperti gadis yang baru saja putus dari cintanya.
Untung saja Castello sedang berolahraga, sehingga ia tidak ada di tempat dan hanya ada aku saja yang bisa menghiburnya. Kupikir itulah yang terbaik. Castello memang baik bahkan teramat baik, tapi ia tetap saja seorang pria dan tak ada sosok pria yang ingin melihat hal tersebut.
“Aku tak percaya.., yang semula kukira dia,..” Erin terisak sambil meneguk seslot wine dengan tubuh yang masih gemetaran saat kami berdua duduk di meja dapur untuk membahas hubungan yang kandas.
“Jodoh sejatimu?” ujarku pelan. Erin yang sudah empat kali mengatakan kepadaku bahwa semula ia mengira bahwa Gary adalah jodohnya.
Wajah Erin sangat kusut saat membuang ingusnya di sehelai tisu dengan sekuat tenaga. Aku sungguh kasihan dengan apa yang sudah terjadi di hidupnya.
“Kau tahu apa yang dikatanya kepadaku, Jane, saat terakhir kalinya? Katanya aku kurang asyik. Apa maksud dari ucapannya itu? Apa aku harus memuja dirinya terus-menerus saat akhir pekan?”
Ini sudah kelima kalinya Erin menceritakan bagian ‘kurang asyik’ itu, tapi aku tak mungkin menjelaskan makna kurang asyik itu kepadanya. Jadi aku hanya menggeleng lemah dan mendesah tanda tak setuju dengan ucapan Gary, lalu memikirkan kalimatku selanjutnya penuh dengan kehati-hatian.
“Kadang-kadang pria memang tak tahu diri. Kau sudah sering melihatnya sendiri, hubungan yang semula indah jadi berantakan hanya gara-gara alasan yan sepele,” ujarku sambul merangkul bahu Erin.
Aku mengatakan hal itu bukan untuk menunjukkan satu pria saja, tetapi pria pada umumnya. Menurut penglamanku, ketika sedang menghibur teman yang baru saja putus cinta, kita tak seharusnya menyerang pria mantannya itu dan menyetujui setiap kata sumpah serapah yang keluar dari bibirnya. Ini sangat penting karena mungkin saja mereka akan kembali bersama, meskipun dalam waktu tertentu, tapi untuk kasus Erin, kemungkinan kecil akan terjadi.
Selain itu juga ada alasan lain, Erin jelas-jelas masihsangat mencintai Gary. Bisa-bisa dia ikut tersinggung jika sampai mendengar kritikan apa pun terhadap Gary. Karena itulah aku sangat berhati-hati dalam mengeluarkan ucapan.
“Jane, aku mau bertanya sesuatu, tapi berjanjilah jangan meanggapku idiot. Apa aku bisa membuatnya kembali?” ujar Erin jelas-jelas masih sangat mencintai Gary.
“Maksudmu kau mau memohon kepadanya?” Sungguh aku tersenyum kecil dan berharap kalau ucapannya itu hanya bercanda belaka.
“Aku sudah melakukannya,” Erin terisak lagi. “Aku benar-benar melakukannya dan aku bersimpuh di hadapannya. Kau percaya akan hal itu? Aku wanita mandiri yang berusia dua puluh delapan tahun ini, memiliki rumah sendiri dan pekerjaan yang bagus, bahkan aku bertanggung jawab dalam pekerjaanku. Tapi aku sampai harus bersimpuh di hadapan seorang pria agar dia mau menerimaku kembali. Untuk apa aku melakukan hal itu?” lanjutnya makin terisak mengingat hal itu.
“Oh, Erin..,” Aku langsung memeluk Erin yang menangis semakin menjadi. Aku merasakan bahunya yang naik dan turun. Sungguh malang nasib Erin.
“Aku memang payah, ya?” tanya Erin dengan suara yang terisak.
“Tentu saja tidak. Kau hanya diputuskan. Dan reaksimu wajar seperti halnya orang lain yang baru saja putus cinta. Itu sudah hukum alam,” jelasku untuk menenangkannya.
Erin tersenyum lemah dan ingin mengatakan sesuatu ketika terdengar pintu terbuka.
“Halo, Sayang, aku pulang!” seru Castello. Sebenarnya seruannya terdengar lucu. Aku lantas segera melirik Erin saat Castello muncul di pintu dapur.
“Erin... ada masalah?” tanyanya.
Erin terisak dengan wajah yang malu-malu. “Sebaiknya aku pulang saja.” Ia pun segera bangkit berdiri.
“Jangan pergi gara-gara aku datang. Sungguh aku bisa menyingkir kalau memang perlu. Itu suatu keahlianku. Iya, kan, Jane?” Castello menyela. “Tapi aku bisa menjadi teman curhat yang baik juga,” lanjutnya menyambung kalimat.
“Itu benar sekali,” sahutku membenarkan.
Erin mencoba untuk tersenyum lagi. “Belum tentu kau mengerti.”
Erin pun menceritakan persis seperti ia bercerita denganku. Ia pun kembali menangis saat mengingat hal tersebut.
“Menurutku dia itu pria brengsek*,” ujar Castello kesal tanpa memedulikan nada bicaraku yang sangat berhati-hati selama dua jam terakhir. Kalaupun ia melihat isyarat di wajahku, ia pasti akan mengabaikannya.
“Pria idiot tak tahu diri macam apa yang tega berkata seperti itu saat memutuskan kekasihnya?” tukas Castello. “Dia kira dia itu apa.. anugerah terindah dari Tuhan untuk kaum wanita? Erin, aku tahu kau mencintainya lebih dari cintamu, tapi ini sungguh dia tak layak untuk mendapatkanmu.”
Aku langsung berdehem untuk menyuruh Castello membungkam mulutnya sendiri. Kalau dia tidak ingin me-notice dehemanku, aku akan menyumpal mulutnya dengan lap yang kupegang.
“Maaf. Aku tetap dengan pendirianku. Dia itu brengsek*. Titik.” Castello tetap mengucapkan hal itu.
Aku mengubah arah pandangku terhadap Erin. Ia sepertinya terkesima dengan apa yang diucapkan Castello.
Erin merasa ada yang mendukung opininya, maka Erin pun mulai mengumpat dengan kekesalan yang berapi-api. Begitu pula dengan Castello yang mendukungnya.
“Sudah merasa lebih baik?” tanya Castello.
Erin tersenyum pelan, dan menganggukkan kepalanya. “Kau benar, Cast,” Erin mengambil gelas wine yang ada di meja lalu mengangkatnya. “Demi masa depanku tanpa Gary. Masa depan tanpa pria tak tahu diri seperti dirinya.”
...****************...
Aku cukup yakin aku berjasa besar dalam pemulihan Erin saat ia menangis terisak. Memang kelihatannya saja Castello ikut campur dan mengubah dirinya menjadi gadis barb-bar yang penuh dengan dendam. Tapi aku yakin sudah membantunya untuk setegar itu.
“Bagaimana kabar Erin?” tanya Castello sepulang dari lari pagi dan mengisi gelasnya dengan air putih biasa.
“Well, masih rentan,” ujarku sambil menggigit roti hasil pangganganku.”Dia membutuhkan waktu yang cukup lama untuk melupakan Gary. Itu menurut kacamataku.”
“Sayang sekali. Semoga saja dia akan segera pulih dari putus cintanya,” ujar Castello yang menyeka sisa-sisa keringatnya di alis lalu meneguk segelas air putih.
Aku menganggukkan kepalaku tanda menyetujuinya, tak peduli Castello melihat gerakanku atau tidak. Justru aku sangat terkejut denga perubahan sikap Erin yang kembali ceria dengan secepat itu. Alih-alih meratapi nasibnya dalam minggu ini, ia justru sudah pergi ke tempatku dua atau tiga kali setelah ia curhat panjang kali lebar untuk mendengar lelucon receh Castello.
Setelah bertahun-tahun mengikuti pelatihan psikoterapi dari hasil membaca lembar konsultasi dari beberapa majalah, aku jadi bingung kenapa keahlianku jadi berkurang. Kalau saja aku tahu Erin hanya perlu mendengarkan beberapa kata umpatan, aku akan melakukannya dari awal. Aku kan cukup lihai mengumpat, apalagi setelah dua tahun ini duduk berseberangan dengan bangku Drew. Biarkan saja bagaimana pun Erin, semoga saja dia cepat pulih dari Gary.
“Semoga saja akhir pekan ini kita bisa lebih beruntung dalam soal asmara. Aku akan berkencan dengan Paul malam ini, lali besok kau akan keluar mencari kekasih hatimu,” ucapku tersenyum meraih tas kerjaku.
“Aku sampai lupa doal itu,” ujar Castello menepuk jidatnya.
“Kau lupa kalau kau ingin mencari seseorang untuk menemani kencanmu pertama kalinya dalam hidupmu? Apa kau sudah tidak waras?” tanyaku.
Castello menatapku dan tersenyum. “Selamat bekerja.”
“Sama-sama.” Aku langsung beranjak dan menutup pintu di belakangku.
...****************...
tbc