CASTELLO VS JANE

CASTELLO VS JANE
Bab 24



Bab 24


“Apakah semuanya baik-baik saja, Jane?” tanya Castello yang sudah berdiri di samping manajer itu dengan kebingungan.


“Cast!” Aku meloncat dari kursiku. “Ini teman saya yang saya maksudkan,” ucapku kepada manajer sambil menunjuk Castello.


Manajer itu langsung mengubah arah pandangnya ke arah Castello, dari atas hingga ke bawah. “Oh, begitu, ya.”


“Apa ada yang bisa saya bantu?” tanya Castello dengan tenang.


“Tidak ada. Semuanya baik-baik saja. Selamat menikmati malam anda.” kata manajer itu dengan melemparkan pandangan ke arahku lalu berjalan pergi.


“Memangnya ada apa tadi?” tanya Castello lagi.


“Entahlah,” ujarku polos. Aku malas untuk menjelaskan apa yang barusan saja terjadi.


“Mana Julian?” tanya Castello.


“Masih mengobrol dengan Johnny Deep di sana itu,” jawabku. “Sekarang cepat cerita... dapat nomor telepon gadis itu?”


Castello menggeser duduknya. “Tidak juga.”


“Apa maksudmu?”


“Maksudku.. tidak.”


“Memangnya kalian tidak cocok atau apa?” tanya Erin.


“Kami cocok,” sahut Castello. “Malah sangat cocok. Sarah adalah wanita yang baik, baik sekali. Dan Sharon temannya, juga baik.”


“Jadi?”


“Jadi.., tidak. Ini hanya sebagai latihan untukku. Aku senang mengobrol dengan mereka. Mereka orang-orang yang menyenangkan.”


“Cast kalau kalian cocok, kenapa kau tidak meminta nomornya? Barang kali ini adalah kencan pertamamu.”


“Tidak bisa,” kilah Castello.


“Kenapa?”


“Karena mereka adalah...” ucapan Castello terpotong sembari menundukkan kepalanya.


“Adalah apa? Jangan memotongnya seperti itu,” desakku yang penasaran.


“Karena mereka gay,” sahutnya tegas.


“Gay?” Erin dan aku saling bertukar pandang.


“Jadi maksudmu, setelah misi pertama yang kita lalui ini kau menghabiskan setengah malammu dengan pasangan lesbian*?”


“Awalnya aku menghampiri mereka untuk uji coba dengan teknik rayuanku, tapi sayangnya mereka menyatakan status mereka, dan akhirnya aku tak jadi merayu..., dan aku mengobrol dengan mereka,” jelas Castello.


“Setelah kau mengetahui hal itu, kenapa kau tak langsung pergi untuk meninggalkan mereka. Aku akan mencarikan wanita yang lain yang straight.” Aku langsung kesal dengan kejadian ini.


Erin melihat sisi lucu dan mulai tertawa. “Cast, demi bumi dan cinta, apa yang harus kami lakukan setelah ini?”


“Aku tahu, kalian tidak akan pernah suka dengan apa yang terjadi sekarang,” ujarnya.


...----------------...


Bisa disimpulkan bahwa malam ini misi Castello dan kami gagal. Gagal total. Yang telah kami latih, kami beri pengajaran, dilupakan begitu saja tatkala ia berada tiga meter dari seorang wanita sungguhan.


Masalah utama adalah Castello jadi kelihatan grogi. Tiap kali ia mencoba mendekati seseorang, matanya yang cemas membuat para wanita menatapnya curiga seolah-olah berpikir apakah ini sebuah red flag ketika melihatnya.


Ketika akhirnya ia berhasil mendekati seorang wanita di bar, ternyata wanita itu mabuk berat sampai-sampai berdiri saja tidak bisa, apalagi memperhatikannya. Setelah bercakap-cakap selama lima menit, castello mengoceh tak karuan memuntahkan sekiranya tiga ratus kata per menit dan wanita itu bicara sampai muncrat-muncrat bahkan si wanita terpeleset dari kursinya dan jatuh ke lantai.


Castello langsung cepat-cepat menolong wanita itu, namun pundaknya malah dicengkram oleh seorang pria kekar yang berwajah mirip dengan anjing* bulldog yang marah. Rupanya pria itu adalah kakak dari si wanita. Castello berusaha untuk meredakan amarahnya, namun Erin dan aku langsung turun tangan sebelum semuanya terjadi. Aku langsung menyuruh Castello pergi dari sana.


“Sungguh, aku bermimpi apa malam tadi? Semuanya sungguh kacau. Aku makin yakin kalau aku memang tidak cocok dengan semua ini,” keluh Castello setelah kami diam-diam pindah ke sisi lain bar.


“Omong kosong macam apa yang baru saja kau lontarkan?” sergahku seraya menorong botol bir lagi ke arah tangannya.


“Kurasa masalahnya bukan kurang santai, Jane. Aku pasti sudah menggunakan aromaterapi sejak dulu kalau memang masalahnya kurang santai,” tuturnya.


“Aku setuju dengan Jane, Castello. Ingat dengan apa yang kami katakan padamu. Inat betapa tampannya dirimu. Kau pastas mendapatkan wanita mana saja di tempat ini, sama seperti pria-pria lainnya,” ujar Erin menimpali.


Tiba-tiba Julian muncul dengan langsung menanyakan hasilnya. “Bagaimana kelanjutannya?”


“Lumayan,” jawabku langsung.


“Bagus. Jadi, berapa banyak yang sudah kau dapatkan nomor teleponnya untuk kencan selanjutnya?” tanya Julian lagi.


“Jangan berharap. Sebelumnya aku minta maaf kalau ini tidak berhasil sama sekali. Ini sangat berbeda dengan apa yang kita lakukan di ruang tamu rumah Jane,” jelas Castello menggeleng.


Julian langsung menggamit lengan Castello membawanya ke tempat yang lain.


“Kita mau ke mana?” Castello tampak seperti sedang di ciduk gegara melanggar aturan pembebasan bersyarat.


“Semoga Tuhan melindungimu selalu,” gumamku.


Erin menyeringai dan mulai mengelupaskan label botol bir yang ada di hadapannya. “Oh iya, aku sudah cerita belum tentang Darren, James dan Amanda yang ingin liburan berkeliling dunia?” tanya Erin.


Darren, James, dan Amanda adalah teman lama semasa kuliah Erin. Tidak seperti diriku yang tidak akrab dengan siapa pun kecuali dengan Castello. Erin benar-benar masih menjaga hubungan pertemanan mereka selama ini, bahkan dengan teman SD-nya juga dia masih menjaga hubungan silaturahmi.


...****************...


Selamat Hari Raya Idul Fitri 1444 H 🥰❤️


Minal 'aidin wal faizin.


Mohon maaf lahir & bathin atas segala khilaf ❤️🙏


Terima kasih para readers yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca novel ini. Jangan lupa like terus ya,


tbc