
Bab 21
“Aku baik-baik saja. Hanya aku sedikit gugup tentang nanti malam,” ujar Castello.
“Santai saja. Kau tak perlu gugup. Kau sudah tahu teorinya. dan ingat yang harus kau lakukan adalah mempraktikkannya,” sahutku.
“Kurasa praktiknya akan jauh lebih susah ketimbang teorinya,” ucapnya yang masih sibuk dengan kopinya.
Aku duduk di meja dapur dan berjuang membuka plastik pembungkus suplemen. “Mari masuk sambil berpikir bahwa kau adalah makhluk yang paling seksi, maka orang-orang akan terpukau olehmu. Kalau kau berjalan masuk dengan pikiran bahwa kau adalah orang yang menyedihkan, maka orang akan berpikir bahwa kau demikian juga. Apa yang kita pikirkan itulah yang akan terjadi.”
Castello mengangguk tanda ia setuju.
“Lagi pula aku akan berada di sana sampai acaranya selesai , bersama dengan Erin dan Julian,” imbuhku kemudian.
“Justru itu yang agak membuatku khawatir.” Castello menuang air yang sudah mendidih ke dalam teko kopi. “Aku hanya bisa melakukannya tanpa ada orang yang melihatku. Maksudku ada orang yang kenal dan melihat aksiku,” lanjutnya.
“Tidak ada yang memintamu untuk melakukan sesempurna mungkin dalam kesempatan pertama. Lagian, malah jadi kelihatan aneh kalau kau langsung sukses. Meski begitu, main mata dan bahasa tubuh itu sangat penting dalam hal praktik. Sama seperti yang kau lakukan di laboratorium,” ujarku menjelaskan.
Salah satu alis Castello langsung terangkat. Mempertanyakan hal yang aku sebutkan.
“Kita bisa mempelajari segalanya dalam teori dan menghabiskan bertahun-tahun, tapi sebelum kau maju ke sana dan mencoba, kita akan tetap jalan di tempat,” tuturku lagi kepadanya.
“Aku jadi berpikir bahwa menghapal tabel periodik lebih mudah ketimbang ini.”
“Dengarkan aku, beberapa bulan lagi, kalau kau berhasil dan dikelilingi wanita, pergi berkencan atau mungkin berkenalan lebih akrab dengan apa yang di antara paha mereka, kau baru akan sadar buat apa mengkhawatirkan semua ini.”
“Bagaimana denganmu?”
Aku mengulurkan tangan mengambil roti lapis dan menggigitnya sambil memikirkan jawaban yang tak kunjung kudapatkan.
...****************...
Kembali kepada Erin.
Erin masih dengan perasaan yang galau. “Lagi pula, aku tak yakin akan datang malam ini,” katanya pesimis ketika kami berbicara di telepon jam tiga sore. “Aku malas saja, Jane.”
“Jauh lebih buruk kalau kau berada di rumah dan meratapi Gary. Cobalah keluar dan mencari suasana baru bahkan kesibukan bersamaku.” Aku tetap bersikukuh untuk mengajaknya.
“Kalau dicerna dengan baik, ada benarnya perkataanmu, Jane.”
“Castello sangat membutuhkan dukungan kita,” kataku menggebu.
“Aku tahu. Bagaimana kalau aku bertemu Gary di sana? Aku pasti tak akan kuat.”
“Kita akan menghadapinya bersama, ok. Kau tenang saja. Kau tidak akan bisa menghabiskan sisa hidupmu dengan bersembunyi sperti itu, hanya karena khawatir akan berpapasan dengannya kapan saja. Jangan takut, okey?” Aku berusaha untuk menyetujui ajakanku.
Pukul delapan malam, aku, Erin, beserta Castello sudah berada di dalam taksi menuju ke pusat kota. Tak disangka, tekanan terhadap Castello sangat membuatnya tidak nyaman. Serapat-rapatnya ia menutupi kegelisahan bahkan tekanannya masih tetap kentara dengan jelas bahwa ia mengalami tekanan yang sangat.
Castello menaggapi dengan seringaian. “Kata-katamu sungguh menenangkan,” ujarnya sopan.
“Di mana kau menemukan lensa kontak baru itu?” tanya Erin yang sambul memulas lip balm di bibirnya. “Kau kelihatan jauh lebih tampan dibandingkan kau mengenakan kacamatamu.”
Senang melihat Erin yang bersolek. Padahal siang tadi aku mulai mencemaskannya lagi. Aku sangat yakin malam ini adalah malam yang ia butuhkan.
“Ya, aku menemukannya di sebuah optik setelah selesai melakukan hairstyle di sebuah optik. Butuh waktu sebentar untuk membiasakan diri, sama seperti baju dan tatanan rambut baruku. Tapi aku tidak yakin dengan hal ini,” kata Castello.
“Sudahlah. Buang pikiran negatifmu. Kau kelihatan tampan dengan penampilan hari ini,” ujar Julian. “Pada akhirnya nanti semua itu akan menjadi embel-embel belaka. Aku ingin mendengar satu hal darimu, apakah ini pertama kalinya kau mencoba untuk menarik perhatianlawan jenismu?” tanya Julian kemudian.
Castello menyerngit. “Ya, kau benar. Aku baru saja keluar dari persembunyianku selama ini yang berada di bawah tanah.”
“Ha ha, aku cuma bertanya saja,” ujar Julian tertawa polos.
“Aku banyak menghabiskan waktuku di malam hari bersama anggota tim olahragaku setelah pertandingan. Kalau maksudmu adalah pertama kalinya aku bergaul demi tujuan kilat jatuh di pelukan wanita, aku akan menjawab ‘iya’. Aku bukan tak punya niat begitu, hanya saja..,” ucap Castello sambil tersenyum manis.
Perbincangan pun terjadi cukup lama sampai taksi berhenti di suatu tempat.
Tempat itu tepat di dermaga. Dermaga itu tampak indah saat malam begini, cahaya dari bar-bar dan restoran membuat air laut berkelip menandai saatnya kehidupan malam dimulai.
Bar yang kami pilih tampak lebih sibuk daripada biasanya, tidak tahu kenapa. Sepertinya tempat ini juga menarik perhatian wanita-wanita glamor untuk datang hingga orang bisa mengira itu seperti Paris Fashion Week.
Aku mencoba membaca raut wajah Castello dan ternyata aku juga tertipu dengan penampilannya. Apa yang dikatakan Julian benar juga, Castello malam ini kelihatan berbeda dan tampan. Ciri-ciri utamanya masih menonjol terutama di bagian mata, bibir dan dagu. Aku berharap ketika kami menetapkan penampilannya seperti ini, kami bisa mengubah Castello menjadi Castello yang keren.
“Ada apa denganmu? Kenapa kau tersenyum sendiri seperti itu?” tanya Castello ke arahku.
“Oh, aku? Tidak ada.” Aku seketika tersadar dari lamunanku.
...****************...
Perhatian Julian pda misi mengubah Castello menjadi buyar dalam dua puluh lima menit pertama. Pandangannya teralihkan terhadap seorang pria yang memiliki tinggi sekitar seratus sembilan puluh sentimeter seperti Johnny Deep masuk ke dalam bar itu, dan yah, kalian tahu dia menyukai lelaki seperti itu.
Seraya menyuruh Castello mengamati dan belajar, Julian melangkah tegak menyebrangi ruangandengan sepatu berhak tinggi seperti gedung pencakar langitlalu mencolek siku Johnny D dengan gaya yang seksi miliknya.
Julian tak peduli kalau pria itu sedang memulai percakapan dengan sekitar delapan orang yang sedang berkerumun. Tak peduli dengan itu, ia menyibakkan rambutnya dengan begitu menggoda, menyenggol gelas milik orang lain hingga nyaris membuat orang itu menenggak habis minumannya. Bahkan saat ia mengenalkan dirinya, tak peduli terhadap wanita-wanita yang sudah berada di sana yang berkerumun mengelilingi si pria dan menatap ke arahnya tajam.
Dalam sekejap, Julian sudah terlibat percakapan intim dengan Johnny D, bahkan dia mengizinkan Julian duduk dipangkuannya sekarang.
Castello yang melihat hal itu langsung menggelengkan kepalanya tak percaya dengan yang dilihatnya. “Jika saja aku harus sampai seperti itu, aku mundur dari misi ini.”
...****************...
tbc