CASTELLO VS JANE

CASTELLO VS JANE
Bab 44



Bab 44


"Aku memiliki metode ilmiah dalam memilih kuda," kata Julian. "Metode itu tak pernah mengecewakanku,"


"Oh, ya?" cetus Erin. "Aku melihat hari ulang tahun mereka dan hanya memilih kuda yang berbintang Sagitarius."


"Kenapa Sagitarius?" tanya Castello.


"Karena terlahir Sagitarius itu dinamis, atlet alami, dan pemikir besar. Lihat, ini salah satunya... Alabama Rain Sempurna. Pemenang sejati."


"Lima ratus banding satu," aku berkomentar.


"Jangan pedulikan," Julian bersikeras. "Ini kuda yang memiliki karakter... lihat saja nanti."


Justin menyeringai dan merangkul Julian dengan penuh kasih "Kau ahli dalam bidang ini rupanya?" goda Justin dengan sayang.


"Oh, tentu saja," sahut Julian. "Tapi kau sudah tahu tentang itu." Julian tersenyum menggoda seperti biasanya, tapi berani sumpah, aku dapat melihat tanda-tanda wajahnya merona. Justin memberinya ciuman lembut di bibir. Ketika mereka melepaskan diri, Julian menunjukkan sikap tenang yang memperdaya semua orang kecuali Erin dan aku.


Sulit untuk tidak bersikap hangat terhadap Justin, dan itu bukan hanya karena sikapnya terhadap Julian. Sebagai manajer restoran yang baru menjalani pelatihan, Justin kurang berprestasi dalam karier dan sifatnya bertolak belakang dengan tipe pria-pria yang biasa berkencan dengan Julian, terutama karena ia enam tahun lebih muda. Tetapi Justin hangat, menawan, dan rupanya tidak mungkin bagi Julian untuk menolaknya.


"Bagaimana denganmu, Castello?" Racel bertanya penuh semangat. "Apakah kuda-kuda itu bagus menurutmu?"


Kencan Castello dan Racel malam itu jelas berjalan dengan baik bila dilihat dari sisi Racel. Hari ini Racel, tampak begitu tergila-gila, sehingga kurasa ia sangat khawatir hubungan mereka kandas.


"Aku tidak bisa bilang bahwa aku ahli," jawab Castello, tapi aku akan mencobanya. Dan jika aku tidak menang, aku yakin Jane akan menalangi sewa apartemen untuk bulan ini."


"Jangan terlalu berharap. Aku nyaris tidak mampu membayar bagianku sendiri setelah membeli sepatu ini," sahutku.


"Aku akan ke garis pagar itu dan melihat-lihat mana yang istimewa," Paul berkata sambil melingkarkan lengannya di sekeliling pinggangku. "Kau ikut, Jane?"


Aku tersenyum puas ketika kehangatan terasa mengalir di sekujur tubuhku. Betapa senangnya memiliki pacar lagi. Aku menganggukkan kepalaku, "Baiklah."


Setelah sempat merasa senang oleh kemungkinan berduan saja bersama Paul, tidak lama kemudian aku merasa kurang antusias. Bukannya jalan-jalan romantis di ujung arena balap kuda itu, Paul malah mengajakku berjalan mondar-mandir di sisi arena, berdebat dengan bandar judi yang bertopi datar, kemudian menyeretku ke arena tempat kuda-kuda dipamerkan sehingga ia dapat melihat telinga kuda-kuda tersebut. Mengapa ia memeriksa telinga kuda-kuda tersebut? Karena menurut Paul, kegagahan daun telinga kuda adalah kunci keberhasilannya. Menurutku pribadi, aku melihat kepercayaan Julian terhadap zodiak yang lebih meyakinkan, tapi Paul benar-benar mantap dengan pendapatnya.


Kami menuju area untuk menonton tiga balapan pertama sebab, meskipun kami memiliki tiket yang lebih mahal, Paul mengklaim bahwa suasana di sini jauh lebih bagus. Tempat ini tentu saja lebih ribut, gaduh, dan lebih banyak dipenuhi oleh orang-orang yang mabuk.


Aku tidak ingin memberi kesan bahwa aku tidak menikmati suasana ini. Tapi, setelah datang ke sini dengan teman-teman baikku, sekarang aku ingin bersama teman-teman baikku saja terutama karena Paul jelas-jelas tidak bermaksud membisikkan kata-kata manis di telingaku dan mengajakku memisahkan diri. Ia lebih tertarik pada telinga kuda-kuda itu daripada telingaku dan mengajakku memisahkan diri.


Pada balapan ketiga ia menang dua ratus pound dan merasa sangat gembira, sedangkan aku kalah lebih dari empat puluh pound, tetapi aku memang tidak menaruh harapan terlalu tinggi, sehingga aku tidak terlalu kecewa.


"Menang dua ratus pound, padahal kita bahkan belum mengikuti perlombaan besarnya." Mata Paul berkilau saking gembiranya. "Lumayan, kan?"


"Ternyata kau memang benar tentang telinga kuda." Aku tersenyum.


Paul mengedipkan sebelah matanya. "Sudah kubilang, kan?"


"Apa kau ingin kembali ke yang lainnya?" aku bertanya, lebih berupa ajakan daripada harapan.


"Mengapa tidak? Mari kita lihat apakah ada yang bernasib lebih baik daripada aku."


Pada saat kami sampai ke yang lainnya, jelaslah bahwa sebotol sampanye tadi hanya sebagai pembuka. Sudah ada banyak perayaan lain tanpa kehadiran kami.


"Jane!" Racel berteriak, bola matanya hampir seperti melompat. "Kau tidak akan percaya."


"Apa?" tanyaku. percaya.


"Castello jago sekali," katanya meluap-luap. “Dia bertaruh pada dua pemenang dan sedang memasang satu taruhan lagi."


"Kau bercanda? Sungguh fantastis, Cast! Kau menang banyak?"


"Oh," timpalku skeptis.


Castello menyeringai. "Memang, akan lebih menyenangkan kalau menang."


"Kau benar, Cast," kata Julian, lengannya masih melingkar erat di pinggang Justin. Aku yakin ia tidak bergerak dalam dua jam terakhir sejak terakhir kali akan melihatnya. "Kau akan memasang taruhan pada kuda yang mana untuk balapan kali ini? Karena kuda mana pun yang kau pilih, aku akan memilihnya."


"Wah, itu jadi beban moral," sahut Castello sambil tertawa.


"Pasang saja pada Mister Misery," tukas Paul. "Tidak ada kuda lain yang lebih meyakinkan sebagai pemenang di Grand National selain kuda itu."


"Kuda hebat," Castello setuju.


"Apa kau akan memegangnya?" tanya Julian.


"Tidak, aku pegang River Runs," ujar Castello.


"Memangnya bagus?" tanyaku.


"Yah, secara statistik, kuda itu punya segalanya untuk menang. Tampaknya kuda itu menyukai kondisi kering seperti hari ini dan bobot tubuhnya juga menguntungkan. Tambahan lagi, aku tidak bisa menentang referensi literatur. Aku suka Norman Maclean."


"Aku tidak tahu siapa itu Norman Maclean," Julian mengangkat bahu. "tetapi tampaknya kau tahu apa yang kau lakukan, jadi itu cukup baik bagiku."


"Omong kosong," sergah Paul. "Aku tadi melihatnya di arena pamer kuda dan tampak begitu santai sepanjang pagi."


Castello tertawa kecil. "Aku tidak akan mempertaruhkan mobilku, siapa tahu kau benar."


"Aku yakin Mister Misery pemenangnya," Paul bersikeras.


Untuk putaran itu. Kami masing-masing bertaruh minimal pada dua ekor kuda. Aku memilih Ebony tanpa alasan tertentu kecuali karena aku menyukai lagu lama itu. Aku juga diam-diam memasang lima pound untuk River Runs.


Pada saat pacuan dimulai, suasananya benar-benar gaduh.


Atmosfer penuh pengharapan terasa sekali mengingat ada tujuh puluh ribu orang lebih berkumpul di sekitar arena pacuan dan di tribune untuk menyaksikan kuda-kuda yang sudah siap dilepas. Ini adalah pacuan yang pernah kutonton di TV- bersama jutaan pemirsa lainnya. Tetapi berada di samping garis finish adalah pengalaman yang sama sekali berbeda. Aku dapat mencium bau adrenalin, merasakan kegembiraan dan, ketika sinar matahari memancar ke arena, aku seolah-olah dapat mendengar suara detak jantung semua orang di sana yang berdegup lebih cepat.


Paul melingkarkan lengannya di tubuhku dan mengenakan kacamata hitam di wajahnya. Kemudian pistol ditembakkan sebagai tanda dimulainya pacuan, kuda-kuda herlari sekencang-kencangnya dan para penonton bersorak riuh-rendah.


Aku tidak tahu berapa lama pacuan kuda sepanjang empat-setengah-mil ini berlangsung, tetapi tampaknya terjadi sangat cepat. Kuda-kuda terjatuh dan erangan kekecewaan menggema di antara kerumunan penonton. Beberapa kuda lainnya mundur dari pacuan, harapan berjaya tahun ini berguguran. Ketika kuda-kuda yang tersisa hendak mencapai garis finish, semua orang seperti menahan napas.


Aku terkejut karena untuk pertama kalinya kedua kuda pilihanku merupakan pesaing yang serius. River Runs menempatkan diri dengan mantap di posisi keempat, sementara Ebony berebut tempat di bagian depan dengan Mister Misery.


Suara komentator dari BBC jadi begitu bersemangat seolah-olah ia telah menghirup helium, dan ketika kuda-kuda itu memutari lingkaran untuk menuju garis finish,


suasana benar-benar gegap gempita. Orang-orang meraung dan melompat, dan ketika kuda-kuda tersebut saling berpacu beberapa meter lagi, aku harus mengingatkan diriku untuk bernapas. Beberapa detik sebelum finish, Mister Misery tampak yakin untuk menang, hanya keajaiban yang akan mengubah hasilnya sekarang.


Tapi dalam detik-detik terakhir, keajaiban itu benar-benar terjadi. River Runs tiba-tiba mengeluarkan lonjakan energi yang mengesankan seolah-olah seseorang telah menyuntikkan Red Bull padanya.


River Runs melaju kencang menuju finish, melewati Ebony dan sejajar dengan Mister Misery. Pada saat mereka berdua melewati garis, terdengar suara riuh dari kerumunan penonton ketika setiap orang saling pandang, bingung. Siapa yang menang?


"Pemenangnya adalah... River Runs," suara komentator menegaskan pemenangnya, kemudian terdengar sorak-sorai yang memekakkan telinga membelah udara di arena pacuan itu. "Diikuti oleh Mister Misery di posisi kedua, Ebony di posisi ketiga dan Forrest di tempat keempat."


"Sial," gumam Paul sambil menggelengkan kepalanya. Tidak jelas apakah umpatan itu mengacu pada kudanya ataukah Castello.


...****************...


note : nama kuda. River Runs, Mister Misery, Ebony.


Tbc