CASTELLO VS JANE

CASTELLO VS JANE
Bab 69



Bab 69


Keesokan harinya, aku menelepon Mami dan sedikit melakukan percakapan. Sampai aku mengubah mengganti topik pembicaraan. Aku juga ingin tahu perkembangan di tempat kerja yang baru yang baru-baru ini. "Bagaimana pekerjaan barumu, Mam?"


"Itu tentu saja sangat luar biasa. Aku sangat menyukai pekerjaan baruku," jawabnya antusias.


Aku turut senang dengan pekerjaan barunya yang membuat dirinya seantusias dan seriang itu. "Sungguh, kau terdengar antusias, Mami "


"Yah, untuk pertama kalinya, aku merasa seperti aku memiliki karier di depan mataku. Omong-omong, apa kau sudah selesai berkemas?"


"Belum seluruhnya. Sejujurnya, aku sebaiknya berkemas lebih cepat. Aku akan singgah dan menemui mu di akhir pekan, oke?"


Aku mengakhiri percakapan dengan Mami. Kuletakkan teleponku fan aku berjalan ke kamar tidur, mengamati ruangan yang seperti kapal pecah, tak kalah dengan kapal Titanic yang terbalik.


"Apakah tadi itu ibumu?" tanya Castello dari ruang tengah, "Bagaimana kabar pekerjaannya?"


"Dia begitu menikmati pekerjaan itu sehingga aku selalu menyangka bahwa tiba-tiba dia akan mulai menyanyikan himne perusahaan itu setiap hari." Aku mengambil satu set pelurus rambut lama dan membawanya ke ruang tengah untuk menambah tinggi tumpukan barang-barang di sana. "Aku takjub dengan banyaknya sampah yang telah kita kumpulkan dalam empat tahun ini."


"Aku juga," Castello tersenyum, menambah apa yang tampak seperti setengah perlengkapan scuba-diving.


"Di mana kau mendapatkan benda itu?" tanyaku.


"Ibuku membawanya pulang dari perjalanan." Castello menyeringai. "Benda ini menimbulkan sedikit keributan."


Tak tertahankan. Tawaku langsung meledak.


Tumpukan barang-barang yang akan kami sumbangkan sekarang begitu tinggi sehingga menyerupai puncak Gunung Kinabalu. Sulit untuk memutuskan benda mana yang paling tidak menarik, CD-ku-koleksi album-album sampah atau buku-buku ilmiah Castello.


"Aku tak percaya kau akan menyingkirkan buku itu," kataku, saat Castello menambahkan A Textbook of Malaria Eradication yang ditulis oleh Emilio Pampana.


"Aku sudah punya dua eksemplar."


"Bagaimana dengan buku-bukumu yang lain?"


"Akan kukirim ke tempat orangtuaku." Ia mengangkat bahu. "Rumah spiritual mereka."


Secara spontan, aku merasa air mataku merebak. Sepanjang pagi aku merasa lebih emosional daripada para finalis ajang pencarian bakat yang pernah ada di seluruh jagat raya. Aku sengaja kembali berkemas.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Castello dengan lembut.


"Ya," jawabku. "Alergi debuku sedang kumat," Aku segera berjalan ke dapur, yakin bahwa Castello tidak akan tahu kalau aku menangis, dan aku mulai membungkus barang pecah-belah.


"Jane..."


Jane berdiri di ambang pintu, wajahnya penuh dengan keprihatinan. Bibirku mulai bergetar. "Oh, kemarilah." Ia melangkah ke depan untuk memelukku. Aku menekankan wajahku ke lehernya yang lembut dan halus saat air mata mengalir di pipiku, menyengat kulitku. Semakin aku mencoba untuk berhenti menangis, semakin sulit air mataku berhenti.


"Aku akan merindukanmu, itu saja," aku berhasil memberikan sepatah-kata untuk menenangkan hatiku.


"Aku akan merindukanmu juga." Castelli dengan lembut membelai rambutku. "Lebih dari yang kau tahu." Kata-katanya membuatku menarik diriku ke belakang.


Mungkinkah ia bermaksud....


"Tapi semua ini bukan berarti kita tidak akan saling berhubungan lagi," ia melanjutkan. "Kita akan selalu menjadi teman."


Seribu kata tak terucap menempel di tenggorokanku, tapi satu-satunya kata yang berhasil kugumamkan adalah, "Ya."


Castello mencium keningku dan mengelus punggungku. "Sekarang... Ayolah, Nona, bersemangatlah. Kau punya apartemen yang indah untuk dihuni."


Ada ketukan di pintu depan.


"Aku akan memberi tip bagi mereka yang mau mengambil semua benda itu dari kami," ujar Castello tersenyum.


"Aku datang untuk melihat bagaimana kabar teman serumahku yang baru," kata Julian. Ia kelihatan lebih baik daripada beberapa minggu yang lalu, tapi tidak serapi biasanya, namun kulitnya tampak jauh lebih terang rambutnya lebih bercahaya.


"Oh," kataku. "Aku baru akan mengangkut semua ini dengan van besok pagi, jadi aku masih punya waktu untuk mengemasi semuanya."


"Dan bagaimana denganmu, Cast?" lanjut Julian. "Apakah kau siap untuk perjalanan besar dan panjang itu? Aku baru saja berkunjung ke tempat Erin dan dia hampir tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri."


"Ya, aku sangat bersemangat, terima kasih," ujar Castello. "Masih dua hari lagi."


Castello lalu menatapku dengan cemas, untuk melihat apakah aku masih menangis. Aku melakukan yang terbaik untuk terlihat tabah.


"Dengar, Cantik," Julian berbalik kepadaku. "Aku sudah membawa kunci apartemen itu. Apakah kau mau datang ke sana untuk mengintipnya? Aku tahu kita baru pindah besok, tapi aku sudah tidak tahan untuk melihatnya."


...****************...


APartemen baru kami adalah segala hal yang kuinginkan tinggi, dan berada di lokasi yang luar biasa. Aku berjalan ke kamar tidurku, yang dua kali ukuran kamarku yang lama dan lima kali lebih mewah. Tentu saja, apartemen ini mahal dibandingkan dengan apartemen yang lama. Saat aku membuka pintu balkon, angin sepoi-sepoi melewati lengan telanjangku dan mengangkat semangatku. Namun itu hanya sementara. Bahkan semua ini tidaklah cukup. Aku seharusnya mendesis penuh kegembiraan, namun aku tidak demikian.


Setelah kami merencanakan letak barang-barang dan perabotan, Julian dan aku memutuskan untuk berhenti sebentar untuk minum di sebuah bar di samping dermaga. Kami menemukan sebuah meja di tempat kami bisa menyaksikan matahari terbenam, saat para penonton konser berbaur dengan para pecinta seni.


"Aku akan senang tinggal di sini," kata Julian.


"Aku juga," aku menyetujuinya dengan tegas. "Bagaimana perasaanmu?"


Julian memutar-mutar jarinya di sekitar gelasnya. "Aku baik-baik saja. Percaya padaku, Jane. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri... aku tidak akan tenggelam dalam kesedihan."


"Bagus," kataku. "Setahuku kau bukan orang yang senang menenggelamkan diri dalam suatu masalah. Aku tidak yakin itu akan cocok denganmu." Ia tersenyum. "Apakah kau masih yakin bahwa kau akan berhenti mencari pria?"


Julian menatapku. "Sejujurnya aku tidak memiliki tenaga untuk itu saat ini. Aku sedang muak untuk berkencan. Aku ingin menyendiri untuk sementara waktu."


"Justin harus menjelaskan banyak hal," gumamku dengan kesal. Pada saat itu, mata Julian berkabut dan ia menatap ke dalam gelasnya.


Aku langsung menyesal menyebutkan nama itu. "Maaf, Jul."


"Tidak apa-apa. Aku bukan gadis pertama di dunia yang patah hati.


"Kurasa kau benar. Meskipun dengan menjadi yang kesejuta tidak membuat sakitnya berkurang."


"Benar. Tapi kau tahu, Jane? Aku tidak akan membiarkan hal ini melemahkanku. Kau dan aku... kita mungkin belum menemukan pria yang tepat, tapi kita baik-baik saja, kan? Kita punya pekerjaan yang hebat, sebuah apartemen yang hebat... dan kita saling memiliki."


Tiba-tiba aku merasa lebih bersyukur atas persahabatan dengan Julian. "Omong-omong," ia melanjutkan, "apa kau punya rencana malam ini?"


"Hanya berkemas." Aku menghela napas sedikit. "Aku akan melakukannya sampai tengah malam kalau begini terus."


"Sayang sekali. Erin meneleponku sebelumnya dan bertanya apakah aku ingin minum di bar."


"Oh... maaf." Aku merasa lega sekaligus bersalah karena memiliki alasan untuk tidak pergi dengan Erin.


"Tidak apa-apa," lanjut Julian. "Erin terdengar aneh. Kurasa dia gugup karena harus meninggalkan segalanya selama setahun."


Aku menatap Julian, menunggu percakapan yang selanjutnya.


...****************...


Tbc