CASTELLO VS JANE

CASTELLO VS JANE
Bab 57



Bab 57


Ketika sore berlalu, aku merasa ada sesuatu yang aneh tentang persiapan yang kulakukan untuk malam ini. Castello dan aku sudah makan bersama-sama selama hampir sebagian besar dalam masa dewasa kami, namun untuk beberapa alasan kali ini aku merasa seperti bersiap-siap untuk berkencan. Terasa ada sensasi gugup di perutku setiap kali memikirkan malam nanti. Ketika mandi, anehnya aku tertekan oleh pikiran tentang apa yang akan kukenakan.


Pada akhirnya, dalam upaya untuk memperjelas bahwa . ini bukan kencan, aku memilih celana jins lama favoritku. Biasanya aku memakainya agar terlihat kasual tapi seeksi, meskipun jelas, saat ini, aku tidak bermaksud untuk tampil sekksi. Aku hanya ingin terlihat santai, tidak lusuh.


Aku menahan keinginan untuk menggulung rambutku dengan penggulung rambut yang panas dan justru membiarkan rambutku dengan tatanan blow yang sederhana, lalu aku menata meja. Aku memasang taplak meja yang sudah kucuci sebelumnya dan meletakkan lilin di tengahnya. Aku mengecek masakanku dan merasa puas semua berjalan dengan baik, kemudian menuju ruang tamu dengan segelas wine.


Castello tiba pukul tujuh tiga puluh tepat, sangat jelas ia berusaha datang tepat waktu.


"Astaga. Kau terburu-buru?"


"Aku tertahan tadi." Ia agak terengah-engah sambil menyisir rambutnya dengan jemari tangannya. "Maaf. Apakah aku terlambat?"


"Tidak... Tentu saja tidak. Tidak apa-apa. Tenang saja," sahutku dengan penuh senyuman.


"Apakah aku punya waktu untuk mandi?" selanya.


"Tentu saja. Aku bisa terus memanaskan hidangan ini selama kau mandi."


Aku pergi ke dapur, dan Castello muncul lima menit kemudian sambil memasang kancing celana jinsnya. Mataku tertarik ke pangkal pahanya. Ketika tangannya sibuk memasang kancing, aku melihat sekilas perutnya yang datar, kencang, dan ada sesuatu di atas celananya. Gelombang panas menyebar ke sekujur tubuhku. Aku berbalik dan dengan serius mengaduk masakanku.


Setelahnya, pujian Castello atas makan malam itu begitu berlebihan sehingga orang akan menyangka ia makan malam di sebuah restoran ternama.


"Jane, masakanmu benar-benar luar biasa."


Aku mengisi gelas kami. "Ya ampun, kau membuatku malu."


Aku ragu akan hal itu. Meskipun demikian, aku usul, ya.. daripada mengaku kepada para pria yang kau kencani ini bahwa kau pemain akrobat yang hebat, atau apa pun yang kau katakan, kenapa kau tidak memasak untuk mereka? Mereka pasti akan lebih terkesan."


"Sebagai catatan, aku tidak pernah mengaku sebagai pemain akrobat. Bagaimanapun juga, aku membuka lembaran baru. Aku tidak mau membual lagi untuk membuat pria terkesan," ujarku dengan penuh tekat.


"Oh, ya? Memangnya kenapa?"


"Aku memikirkan ucapanmu kemarin dan aku sependapat. Selain itu, tiba-tiba ada alasan yang sangat kuat dan membuatku tersadar."


"Oh?"


"Kenyataan bahwa cara itu tidak pernah berhasil."


Castello tertawa dan berdiri untuk mengambil piringku.


"Bagaimana kalau kau biarkan saja piring-piring itu?" aku memberi saran. "Kita bisa ke ruang tamu, menutup pintu dan berpura-pura piring-piring itu tidak ada. Paling tidak sampai besok," usulku kemudian.


"Baiklah, jika kau bersikeras." Castello menempatkan piring-piring itu di wastafel. "Meskipun aku sadar aku tidak terlalu banyak mengerjakan pekerjaan rumah tangga belakangan ini. Aku merasa bersalah ketika melihatmu membersihkan kamar mandi dan memasak."


"Oh, jangan begitu." Aku mengibaskan tanganku. "Bertahun-tahun aku begitu pemalas dan itu harus ditebus."


Aku dan Castello pindah ke ruang duduk, dan ia merosot di sofa. Aku mendapati diriku mengamati wajahnya. Bibir yang penuh. Rahang yang tegas. Kulit kecokelatan yang halus. Castello membuka matanya dan melihatku memandanginya. Aku melompat dari tempat dudukku dan beringsut ke iPod.


"Kau ingin mendengarkan musik apa?"


"Astaga, kita pasti masih kelas lima saat lagu ini masuk ke tangga lagu populer," kataku.


"Ah, iya, kelas lima. Hari-hari yang hebat," katanya, tatapannya menerawang.


"Hari-hari apa?"


"Coba kuingat... kau terobsesi dengan salah satu pemeran dari movie yang kita tonton waktu itu."


"Tapi sebaliknya, aku harus puas dengan Daniel Prosser di kelas enam." Aku tertawa.


Castello menyeringai. "Meskipun agar adil bagi Daniel, model rambut jabriknya itu bagus juga."


Kami menghabiskan beberapa jam berikutnya dengan minum-minum, tertawa dan menyanyikan semuanya tangga lagu yang berada di Ipodku. Ketika aku ingat, untuk melihat jam yang menunjukkan pukul satu lewat lima puluh menit dini hari.


"Ya ampun, lihat sudah jam berapa ini. Aku sampai tidak sadar malam sudah berlalu begitu cepat," kataku.


"Benar-benar seperti dulu."


Kami kembali tertawa mengingat masa-masa itu yang selalu menghebohkan satu sama lain, berbincang bersama dalam pekatnya malam.


Aku kembali menyesap wineku, dan menatap matanya utnuk beberapa alasan aku merasakan gelombang kelegaan, bahagia atas penegasannya bahwa Castello yang selama ini kukenal masih sama seperti biasanya. Sebagian dari diriku selalu tahu bahwa temanku ini tidak pernah tertarik pada pakaian yang modis dan potongan rambut mahal. Semua itu hanyalah alat untuk mencapai tujuan mencari seseorang yang bisa membuatnya jatuh cinta.


Castello menatap tangannya. "Aku harap juga begitu. Karena, dengan semua wanita itu... aku tidak pernah bisa melakukan hal seperti ini dengan mereka."


"Apa?"


"Duduk-duduk dan minum sampai mabuk dan menyanyikan lagu-lagu seperti ini."


"Yah, butuh seseorang yang benar-benar istimewa sebagai teman untuk melakukannya, kan?" Aku tergelak.


Aku mendongak dan menyadari bahwa Castello tidak tertawa. Aku mengamati ekspresi wajahnya, namun sulit untuk ditebak. Saat aku menatap bibirnya yang sedikit terbuka dan matanya yang gelap, aku merasa detak jantungku menjadi lebih cepat dan suatu gelombang pasang adrenalin bergejolak di sekujur tubuhku.


Kami berdua saling menatap mata satu sama lain berlama-lama dengan agak canggung dan suhu tubuhku naik dengan tiba-tiba. Aku tidak bisa mendengar apa-apa kecuali detak jantungku sendiri yang menggelegar di dalam kepalak dan waktu tidak bergerak.


Meskipun setiap kepingan kewarasan mendesakku agar tidak bergerak, aku mendapati diriku mencondongkan badan ke arahnya. Mulutku kudekatkan ke mulutnya. Aku memejamkan mata dan bertanya-tanya dengan mabuk apakah sesuatu yang kuharapkan akan terjadi benar-benar akan terjadi.


Aku tahu Castello adalah sahabatku, bukan kekasihku, dan bahwa menciumnya akan mengubah segalanya. Namun aku tidak kuasa menahan diriku. Seolah-olah aku ditarik oleh kekuatan alam. Saat bibir kami saling bersentuhan, ia menegang. Aku menanggapi dengan menggerakkan tubuhku lebih dekat dengan tubuhnya, menciumnya dengan lebih mantap. Pada awalnya Castello tidak bergerak, seolah-olah ia terkejut.


Kemudian bahunya menjadi lemas, tubuhnya beringsur ke tubuhku dan ia meraih tengkukku. Castello melakukannya dengan penuh keyakinan, tangannya yang kuat meraba-raba rambutku tanpa ada keraguan.


Mulut kami saling menyelami, kami saling menjelajahi sementara aku merasa lemah karena gairah. Pada awalnya ciuman itu lembut dan tidak tergesa-gesa, kemudian menjadi bergairah dan tak terkendali. Berciuman dengan sahabat sendiri tidak seperti apa yang pernah kualami. Pikiranku berputar dengan kenikmatan, menemukan bagian yang baru dan agung dari pria ini yang begitu akrab dengan diriku namun ternyata belum semuanya kukenal.


Aku terengah-engah...,


...****************...


Tbc


Mon maaf gak panas-panas amat lah, ya, kek negara tetangga.