CASTELLO VS JANE

CASTELLO VS JANE
Bab 23



BAB 23


Aku sampai memposisikan diriku sebagai mata-mata agen kosong kosong tujuh di movie James Bond. Bahkan sekarang aku seperti agen ganda Rusia yang seksi dan menggoda. Tapi tentu saja aku bukan dari saluran televisi yang membesarkan namaku, atau sedang berada di dalam kotak persembunyian di gedung opera untuk menjalankan misi membunuh seorang musuh, melainkan bertumpu tangan di atas lutut kursi sebuah pub dan sedang mengukur tingkat kesuksesan kalimat-kalimat percakapan temanku.


Aku menghitung sampai tiga lalu mengangkat kepalaku, memindai seluruh ruangan secara diam-diam lalu merunduk lagi.


“Aku bisa mati kalau caranya begini,” kataku. “Kita tidak bisa bersembunyi seperti ini di sini semalaman. Pergilah ke toilet lagi..., sana,” ujarku menyuruh Erin.


“Satu jam ini aku sudah ke sana dua kali dan semuanya tak menyenangkan,” sahut Erin. “Kenapa di sini ramai sekali sih? Biasanya tempat ini sunyi.”


“Entahlah. Mungkin ini hari gajian. Oh, ayolah, Erin. Ini demi Cast.”


Erin menyerngit. “Kalau aku ke toilet lagi, orang akan mengira aku punya masalah kandung kemih.”


“Menurutmu apa aku lolos kalau aku yang ke toilet?” tanyaku ragu.


“Bisa jadi. Kita biarkan saja ini mengalir secara alami. Dia masih di sana, jadi dia pasti sudah melakukannya dengan benar,” ujar Erin berpendapat.


“Aku akan menengoknya, kau tunggu di sini.”


Aku pun menegakkan tubuhku dengan menumpukkan tanganku di lutut lalu memutar kursiku, bersiap menjalankan misi pengintaian. Sekarang aku sudah bisa melakukannya layaknya aktivis seni. Melongok ke atas, mengidentifikasi sasaran, membidikuntuk melihat situasi terakhir, dan merunduk lagi. Dari awal hingga selesai dibutuhkan waktu kira-kkira satu setengah detik. Kalau aku belum berhasil mendapatkan hasil pengintaian yang cukup memadai, maka aku akan ulangi lagi urut-urutannya.


“Bagaimana hasilnya? Apa kau bisa lihat?” tanya Erin.


“Tidak, kurasa dia sudah pindah. Dasar setan*. biar kucoba lagi.”


Kepalaku melongok dari balik kursi tinggi, mengamati pemandangan dari kiri ke kanan, lalu merunduk lagi.


“Jelas sekali dia sudah pindah. Sungguh setan* licik dia. Wah, ini pelanggaran namanya,” ucapku kesal.


“Apakah semuanya baik-baik saja, Madam?” tanya seseorang yang menghampiri kami.


Aku terkejut dan bangkit berdiri, membenahi pakaianku. Lalu berhadapan dengan seorang yang sepertinya kesal.


“Saya manajer di sin. Staf kami melihat anda bertingkah aneh sekitar satu jam terakhir ini,” katanya memperkenalkan diri.


“Aneh? Apa yang aneh? Sama sekali tidak. Saya sedang mencari-cari teman saya,” Aku mengulang perkataannya dengan kesal sekaligus memberitahunya.


“Tentu saja,” Manajer itu tersenyum, jelas sekali ia tak terpengaruh. “Hanya saja, Mr. McAfee adalah selebriti yang sudah lama menjadi langganan kami, dan saat dia berada di sini, kami selalu berusaha membuatnya senyaman mungkin menikmati waktunya di sini.”


Alis manajer itu terangkat karena tersingung dengan pertanyaanku. “Saya rasa kita berdua tahu, Madam, kalau anda sangat tahu siapa Tom McAfee.”


Aku langsung berpikir sejenak, entah karena masalah ini otakku langsung ngelag tak bisa terkoneksi dengan benar. Tom McAfffe, supermodel Australia beberapa hari terakhir terlihat berada di kota ini sebelum berlangsungnya pertandingan sepak bola besar di akhir pekan nanti.dia dikenal sebagai supoeter Klub Sepab bola Liverpool, tidak hanya sekali ini ia berada di sini. Penampilannya begitu glamor dan luar biasa sehingga setiap pergi ke mana pun selalu menjadi perhatian.


“Tom McAffe berada di sini?” Aku kembali mengernyitkan hidungku.


Manajer itu memandangku seolah mengatakan kalau aku tidak mengenal si supermodel yang sedang naik daun itu. “Di sana itu, Madam,” Manajer itu menunjuk ke arah Mr. Mc Afee berada.


“Ya ampun,” kata Erin seraya langsung menghapus lipstik. “Pantas saja tempat ini begitu ramai.”


“Hanya saja, saya beritahukan, kami tidak mengizinkan penguntit di tempat kami,” imbuh manajer itu.


“Penguntit?” jeritku bertanya-tanya.


“Kami bekerja dengan bersungguh-sungguh agar figur terkenal dapat menikmati waktu santai mereka sebaik mungkin.,” lanjut penjelasan Manajer.


“Saya, yah..., saya.., saya bersumpah saya bukan penguntit.” Aku betulan kesal dan langsung naik pitam.


Manajer itu menanggapi dengan cemberut.


“Sangat tidak masuk akal kalau anda menuduh saya sebagai penguntit.” Aku pun menjadi marah-marah karena tuduhan itu. Dan menjelaskan pengalamanku yang berdekatan dengan seorang figur terkenal, tetapi tidak pernah sampai dituduh sebagai penguntit. Hingga Castello datang menghampiriku dan yang lainnya.


“Apakah semuanya baik-baik saja, Jane?” tanya Castello.


...*********...


*Selamat Hari Raya Idul Fitri 1444 H* 🥰❤️


Minal 'aidin wal faizin.


Mohon maaf lahir & bathin atas segala khilaf dalam tulisan ya readers ❤️🙏


terimakasih banyak kalian sudah mau meluangkan waktu untuk membaca novel ini.


tbc