CASTELLO VS JANE

CASTELLO VS JANE
Bab 68



Bab 68


Ia tersenyum penuh rasa terima kasih dan sesuatu terlintas dalam benakku, Paul tidak mengatakan satu sindiran pun sepanjang malam ini. Ia benar-benar telah berubah. "Aku sangat senang kau bersedia jalan denganku lagi malam ini."


Aku hanya mengangkat bahu.


"Aku hampir lupa betapa menakjubkannya dirimu." Aku tersenyum canggung, saat lampu meredup, bagian dari diriku merasa lega tidak harus memikirkan sebuah jawaban. Aku tidak terbiasa dengan keadaan di mana para pria bertingkah seperti ini di sekitarku. Sulit untuk menduga mengapa hal itu terjadi. Mungkinkah bahwa semakin aku tak peduli, semakin tertarik para pria padaku? Aku berharap itu tidak.


Saat pertunjukan berlangsung, aku merasakan tatapan Paul pada diriku lagi. Ketika aku mendongak, di wajahnya terpancar ekspresi melamun. Aku pun buru-buru melengos.


Aku menyukai Paul, setidaknya kupikir begitu. Namun setelah segala kegalauanku dengan sahabatku sendiri, aku berusaha keras agar diriku bersemangat dalam kencan ini.


Pertunjukan itu berakhir. Untunglah si komedian yang tidak lucu itu hanya beraksi sebentar saja, dua komedian lain yang lucu itulah yang melanjutkan dan memuaskan para penontonnya. Pada saat kami keluar dengan orang-orang lain, aku tidak bisa memutuskan kelanjutan seperti apa yang kuinginkan.


"Jadi," kata Paul, "apa yang ingin kau lakukan sekarang?"


"Entahlah. Apa saja pilihannya?" ujarku tak bersemangat.


"Baiklah, kita bisa pergi minum di bar, atau ke klub. Heebie Jeebies dekat dari sini dan teman-temanku ada di sana." Ia melirik dan menangkap ekspresi wajahku. "Meskipun, kalau dipikir-pikir lagi, itu mungkin tidak."


Aku hanya menunjukkan senyumanku.


"Atau," lanjutnya ragu-ragu, "silakan kalau kau mau datang ke tempatku. Untuk minum-minum sebelum tidur."


"Bagaimana kalau minum di bar?" aku menawarkan secara spontan.


"Oh. Itu yang kuharapkan," katanya.


Saat kami menuju ke sebuah bar, aku mencoba membangun perasaanku bagi Paul. Ketika ia meremas tanganku, aku merasa terhibur. Tak diragukan lagi Paul menginginkanku malam ini. Pasti. Ketika kami sampai ke bar, ia bersikeras membelikan minuman lagi, meskipun aku memprotes untuk menolaknya.


"Ya," jawabnya. "Kenapa? Kau ingin melakukannya lagi suatu saat nanti?"


Aku malah ragu dengan Castello yang malam ini, ia bersama Davina. Ketika pikiranku kembali pada percakapanku, Castello memintaku agar lebih jujur dalam kencanku.


"Tidak juga," kataku pada Paul.


"Aku merasa konyol mengatakan ini, tapi aku mungkin telah menyesatkanmu tentang banyaknya pengalaman yang kumiliki dalam hal olahraga luar ruangan."


Paul tersenyum. "Sudah kuduga."


"Aku bukan seorang ahli... dalam hal mendaki gunung atau dalam hal apa pun. Aku hanyalah diriku. Diriku kuno dan membosankan," Akhirnya aku berterus terang tentang diriku yang apa adanya.


"Tidak ada yang membosankan tentang dirimu, Jane," katanya, dan sebelum aku mendapatkan kesempatan untuk berpikir, ia mulai bergerak ke arahku. Matanya tertutup dan bibirnya bertemu dengan bibirku, dan aku menyadari diriku menatap wajahnya dari jarak yang sangat dekat saat ia mulai menciuumku, dengan intensitas yang paling dahsyat di ekspresi wajahnya.


Aku langsung memundurkan seluruh anggota tubuhku, terutama wajahku.


"Ada apa, Jane?" tanyanya.


"Aku..." Aku hendak menjawab. Tapi, aku tidak punya jawaban. Aku hanya tahu bahwa Paul bukanlah orang yang kuinginkan. Aku hanya tertunduk dan menghindari pandangan Paul yang bertanya-tanya terhadap sikapku.


...****************...


Tbc


"Sorry guys, pendek dulu, yak. Besok baru up agak banyak. udah malam dan kelupaan. Jangan lupa tinggalkan jejak. Thanks. Baiiiii"