
Bab 53
"Dan...?"
Castello mengerutkan keningnya.
"Hmm...," kataku malu-malu.
Ada ekspresi menuduh terlintas di wajah Castello. "Kau bilang bahwa kau bisa main anggar?"
"Aku..." Aku akan protes, tapi segera menyadari bahwa itu tak ada gunanya.
"Jane, apa aku boleh memberi saran?" tanya Castello.
"Mengapa tidak? Silakan saja," Aku mengangkat bahu.
"Masalah kuku itu patut disayangkan, tapi kadang-kadang terjadi hal-hal yang berada di luar kendalimu... dan tidak ada gunanya mengkhawatirkan hal itu. Ada hal-hal yang berada dalam kendalimu yang perlu dipikirkan."
"Maksudmu?"
Ia menatap mataku. "Kau harus berhenti berbohong kepada orang lain, Jane." Keterusterangan dari pernyataan itu serasa menikam perutku. Aku tiba-tiba merasa malu dan bersikap defensif.
"Aku tidak bohong, Cast," bantahku. "Aku hanya... hanya... oke, aku mengakui kalau aku sering berlebihan. Sedikit. Tapi tidak lebih dari itu."
Castello mengernyit. "Kau yakin?"
"Tentu saja..." Kemudian aku menghentikan ucapanku, dan mendengus. "Tidak," kataku pasrah. "Aku tidak yakin. Kau benar, Cast." Air mataku merebak, kemudian Castello membungkuk dan menggenggam tanganku.
"Aku tidak tahu apa yang membuatku berbuat demikian," rintihku. "Keputusasaan, kurasa. Aku hanya ingin salah satu acara kencanku berjalan dengan baik. Agar seseorang berpikir bahwa aku cukup spesial untuk ditemui kembali."
"Jane, aku sudah sering mengatakan kepadamu, kan?" kata Castello. "Kau sudah cukup istimewa sebagai dirimu sendiri. Berbohong tidak akan menghasilkan apa-apa... Apa kau mengerti?"
"Mengerti, kalau pikiranku sedang jernih," gumamku. Aku menunduk menatap tangan Castello, meremas tanganku sendiri, lalu kembali menatap matanya. Ia melepaskan tangannya dan berdiri.
"Sebaiknya aku kembali kepada Davina." Castello melangkah ke pintu. "Tapi kau akan memikirkan hal itu, kan? Jadilah dirimu sendiri... dan berhentilah membual."
"Oke." Aku mendengus.
Castello menatap ke lorong, lalu kembali menatapku. "Kau akan baik-baik saja, kan?"
Aku mengangguk. "Tentu. Kembalilah kepada... Davina" Ia tersenyum dan pergi, menutup pintu di belakang.
Aku tidak pernah merasa begitu putus asa untuk terus berbicara. Untuk menganalisis tekanan yang menggelikan ini, di mana harus mengatakan kebohongan besar kepada setiap orang yang pergi denganku. Dan aku sangat ingin Castello mengatakan kepadaku bahwa, di atas segalanya, ia masih menyayangiku, bahwa aku masih sahabatnya di dunia ini.
Tapi ketika kudengar suara cekikikan Davina yang menembus celah-celah pintu kamarku, aku menarik bantal ke atas kepalaku dan mengutuk diri sendiri karena pernah memiliki ide tentang Projek Castello.
Berkat ide cemerlangku, aku kehilangan hubungan terbaikku dengan seorang pria. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa.
...****************...
Sesuatu yang aneh terjadi pada ibuku. Saat makan siang, aku menyelinap ke toka John Lewis. Aku sedang mencoba lipstik Clinique ketika aku melirik ke sekitar dan kulihat ibuku berada di sana. Di konter Elizabeth Arden. Bukan dengan satu tapi tiga produk di tangannya.
Aku tahu bagi kebanyakan orang hal ini bukan sesuatu yang mencurigakan, tapi ibuku tidak sering pergi ke konter kosmetik di toko kelas atas. Ia biasa membeli make-up dari Julie, temannya. Angan-angannya tentang produk perawatan kulit mewah adalah sebotol Skin So Soft dari Avon, yang sudah dibelinya sejak lama.
Aku harus tahu apa yang terjadi. Aku berjalan mendekatinya kemudian menepuk bahunya. Ibuku hampir menjatuhkan sebotol krim anti-selulit.
"Apa kabar?" sapaku.
Mami terkesiap. "Astaga, Jane, kau hampir membuatku kena serangan jantung!"
"Tidak biasanya kau mencari make-up di tempat-tempat seperti ini, kan?"
"Aku hanya melihat-lihat." Bahunya menegang.
"Tapi sepertinya kau membeli barang-barang itu," celetukku.
Mami mengerutkan keningnya. "Memangnya kenapa kalau aku membelinya, Inspektur Clouseau?"
Aku melepaskan pegangan tanganku. "Ini di luar kebiasaan, itu saja. Apa kata Julie nanti?"
"Aku tidak memakai Avon lagi belakangan ini," kata Mami pelan, sambil mengambil wadah krim mata.
"Tidak, dia tidak akan bingung. Kurasa kalau aku tidak membeli satu-dua pak bedak setiap enam bulan sekali tidak
akan membuat bangkrut bisnis Julie."
"Jangan salah sangka... aku senang melihatmu membelanjakan uang untuk keperluanmu sendiri sekali- sekali."
"Aku ke sini hanya untuk melihat-lihat beberapa pernik- pernik ini dan itu, tapi kini aku malah seperti sedang diinterogasi di Guantanamo."
"Maaf. Aku hanya terkejut melihatmu di sini."
"Daripada sibuk di dapur, maksudmu?" Tanpa menunggu jawaban, Mami pergi untuk membayar barang-barangnya. Semuanya lebih dari enam puluh pound dan ia menyerahkan Barclaycard-nya tanpa ragu-ragu. Aku harus menahan diri untuk tidak menegurnya lagi.
"Sudah makan siang?" tanyaku ketika kami keluar.
"Belum. Aku akan membeli sesuatu dan memakannya di bus."
"Mami, ada waktu untuk makan roti lapis bersamaku? Aku yang traktir," kataku. "Aku hanya punya waktu setengah jam.
Kafe ini ramai tapi Mami dan aku berhasil mendapatkan meja di sebelah pintu. Aku mengambil sepotong daging ayam yang berbalur bumbu pesto sementara ibuku menuangkan empat bungkus gula ke dalam tehnya. Mami suka makanan yang manis-manis.
"Kau sudah mengubah model rambut rupanya komentarku, menyadari bahwa bukan hanya make-up nya yang berbeda.
Wajah Mami bersemu merah. "Yeah. Trevor Sorbie sendiri yang menata rambutku dengan model 'Nice n Easy ini. Bagaimana menurutmu?"
Meskipun itu sebuah sarkasme, jelas terlihat bahwa warna baru rambutnya bukanlah hasil dari pengerjaannya sendiri di rumah. Hasilnya terlalu profesional. Tapi jika ia tidak mau mengaku, aku juga tidak akan memaksanya.
"Bagaimana kencanmu hari Sabtu kemarin?" Mami menggigit roti lapisnya.
"Jangan tanyakan itu," kataku. Ia menunggu penjelasanku. "Aku serius, benar-benar tidak usah ditanyakan."
Ia mengangkat bahu. "Sayangnya kau tidak seberuntung Castello beberapa hari ini. Apa aku sudah cerita padamu bahwa Dave melihatnya minggu lalu? Dave hampir tidak mengenalinya. Kalau dilihat enam bulan yang lalu kau tidak akan pernah menduga Castello akan berkencan dengan wanita berambut pirang yang berkaki panjang, kan?"
"Dia bersama wanita berambut pirang?" Aku bahkan tidak tahu ada wanita pirang sebagai teman kencan Castello. Aku menduga wanita itu berambut cokelat yang merupakan spesialisasi Castello.
Mum berhenti bicara dan menatapku. "Kau tidak cemburu, kan?"
"Mam...." jeritku.
"Maaf. Santai saja. Aku hanya bercanda."
"Baiklah. Perlu dicatat, tidak, aku tidak cemburu. Tentu saja aku tidak cemburu," ketusku.
"Baiklah. "Tentu saja dia tidak cemburu," Mami mengulangi ucapanku.
Aku mengunyah makananku dan memandang ke luar jendela. "Omong-omong, apakah Ayah masih mengajakmu berdansa salsa?" tanyaku.
Ia mengangguk, tanpa menunjukkan ekspresi apa pun di wajahnya. Aku mendapati diriku tersenyum menyeringai.
"Jadi, sudah sejak tiga bulan yang lalu sampai sekarang,"
kataku. "Lumayan, mengingat itu hanya 'omong kosong. Itulah yang kau katakan tempo hari, kan?"
Mami memandangku lagi-kali ini tatapannya memperingatkan. "Lumayan menyenangkan selama aku siap pergi ke sana."
"Aku akan datang juga kapan-kapan."
"Jangan sembarangan!" Mami terlonjak. "Aku sungguh-sungguh. Aku tidak akan membiarkanmu muncul di sana dan mulai menggoda orang lain."
"Aku tidak akan melakukan itu," protesku. "Aku benar-benar tertarik, itu saja."
"Oh, ya? Nah, kalau memang tertarik pergilah ke tempat lain."
"Baiklah," aku bergumam.
...****************...
Tbc