
Bab 47
Julian mengusap hidungnya. "Apa? Kau apa? Aku tidak dapat mendengarnya dengan jelas. Bisakah kau mengulanginya?"
Aku menatapnya, tak mampu mengulangi kata-kata itu, apalagi memercayainya. "Aku menginginkan..." Suaraku tiba-tiba menghilang.
Julian menatapku dengan bingung. "Apa? Dansa? Atau kau mau minuman?"
Aku mengangguk, menghalau kebingunganku. "Yap. Aku ingin minum."
"Yah, ini giliranku untuk membelikanmu minuman." katanya sambil menarik dompet dari dalam tasnya. "Sebaiknya kau menunggu di sini, siapa tahu orang-orang mulai melemparkan celana mereka ke atas panggung."
Ketika Julian menuju ke tempat minuman, aku mendapati diriku mencari-cari Paul. Aku menghabiskan waktu dua puluh lima menit menjelajahi tempat ini, putus asa mengembalikan kewarasan pikiranku. Aku naksir Paul, bukan Castello. Paul, bukan Castello. Paul, bukan Castello.
Semakin aku mengucapkan kata-kata itu, semakin aku yakin dan merasa lebih baik. Sayangnya, kemajuan psikologisku yang baik itu hanya bersifat sementara. Sudah jelas bahwa Paul telah pergi. Ia meninggalkan kami dan menghilang. Hanya Tuhan yang tahu ia berasa di mana. Seketika aku merasa panik kalau- kalau ia melihatku sedang menonton Castello dan entah bagaimana ia tahu bahwa aku berfantasi menanggalkan pakaiannya.
Dengan bingung, aku mengambil mantelku dan minta maaf kepada Julian karena aku telah memutuskan untuk tidak minum lagi dan akan pulang, meskipun ia protes. Pada saat itu, Castello telah menyelesaikan tiga lagu dan tampaknya memiliki jumlah penggemar yang sebanding dengan penggemar Westlife. Sungguh dia tiba-tiba naik daun di dalam bar ini.
Aku sedang menuju pintu ketika, dengan tepuk tangan yang masih menggema di seluruh ruangan bar itu, aku merasa seseorang menepuk bahuku dan aku pun berbalik dengan cepat.
Castello. "Kau akan pergi, Jane? Tunggu, aku akan mengambil jaketku dulu," lanjutnya.
"Kau tidak perlu..." Kata-kataku terpotong ketika Castello ditabrak oleh seorang wanita berambut merah yang cantik sekali.
"Sungguh luar biasa," puji wanita itu, tangannya mengusap-usap bulu yang tumbuh di lengan Castello. "Di mana kau belajar..."
"Castello," sela suara lain. Itu adalah Racel, yang dengan jelas menghalangi tindakan wanita tersebut yang hendak merebut kesempatannya. Namun Racel menghadapi persaingan yang lebih besar daripada yang dapat ditanganinya.
"Hei, aku tidak tahu namamu, tapi aku bekerja di sini," kata seorang pria. Ia tampan, kulitnya agak cokelat dengan pakaian yang rapi. "Apa aku boleh memberimu kartu namaku?"
"Oh, aku bukan penyanyi profesional." Castello tertawa pelan,
kewalahan oleh perhatian orang-orang.
"Bukan itu maksudku," seru pria itu, "Aku hanya berharap mungkin saja kau memerlukan nomorku."
Bagus. Jadi sekarang Castello tidak hanya menarik bagi wanita, tetapi juga menggoda untuk sesamanya.. Cukup sudah yang kulihat.
"Aku duluan, ya." Sebelum Castello sempat menjawab, aku buru-buru melangkah ke pintu dan langsung menuju jalan. Setelah udara yang hangat di dalam bar, di luar terasa dingin sekali. Tidak ada tako satu pun yang masih buka.
Bisa ditebak, aku masih di sana hingga dua puluh lima menit kemudian, sampai hampir hipotermia, ketika akhirnya berhasil mendapatkan taksi. Aku merasa lebih hangat saat tiba di rumah, lalu dengan tergesa-gesa mengenakan piyama kemudian meringkuk sendiri di tempat tidur, merasakan kenyamanannya. Aku menatap langit-langit kamarku, satu-satunya pilihanku mengingat ketika kupejamkan mata kepalaku mulai berputar begitu hebat, seolah-olah otakku berada pada lingkaran yang berputar-putar.
Apa yang terjadi? Pikiranku kembali kepada Castello ketika di bar tadi. Castello yang tak kukenali, yang tak bisa kujelaskan, yang tampak seksii dan sempurna. Castello yang membuat pikiranku jadi seperti tak beradab, primitif. Castello yang tidak pernah kukenal sampai keberadaannya malam ini.
Aku memaksakan diriku memejamkan mata, tapi butuh waktu yang lama bagiku untuk bisa tertidur. Bahkan kemudian, tidurku gelisah, dengan mimpi-mimpi aneh yang tak kuinginkan. Sebagian dari mimpi-mimpiku adalah tentang sahabatku sendiri. Aku tidak ingin mengulangi perincian peristiwa itu.
Aku terbangun tiba-tiba karena suara pintu depan yang dibanting dan aku merangkak ke samping tempat tidur untuk meraih jam wekerku. Aku menekan tombolnya untuk mematikan jam weker yang sudah mengganggu tidurku. Aku kemudian mengambilnya dan mendekatkannya ke wajahku. Pukul tiga lewat lima belas menit dini hari. Aku menarik selimut ke atas bahuku dan akan tertidur lagi.
Sementara itu, pintu kamar Castello terbuka kemudian ditutup kembali dengan bersamanya suara cekikikan Racel yang menghilang ketika ia sudah sangat jelas, berakhir di tempat yang sangat ia inginkan sepanjang hari. Tempat tidur Castello. Castello tampak luar biasa dan ia berhasil melakukannya. Ia mendapatkan gadis itu. Apa yang akan terjadi kepada Castello untuk malam ini?
...****************...
"Selamat pagi, Cast! Bagaimana malammu?" Wajahku tersenyum seperti biasanya. Aku sudah ingin berangkat bekerja dengan tas tersampir di bahuku.
Sebelum Castello membalas pertanyaan yang aku lontarkan, aku melihat Racel yang berjalan menuju dapur untuk menyusul Castello.
"Hai lagi." Tiba-tiba Racel terlihat malu, dan terlihat dirinya memakai salah satu T-shirt milik Castello. Ada noda merah di lehernya.
"Hai, Racel." Aku tersenyum. "Akhir pekan yang indah?"
Racel pun tertawa. "Bisa dibilang begitu."
Aku bergegas meninggalkan mereka berdua agar mereka lebih leluasa untuk memadu kasih. "Aku pergi dulu. Nikmati harimu, dengan Cast, Racel!"
Aku menghabiskan waktu perjalananku dalam tiga puluh menit dan di sinilah aku. Aku berada di meja kerjaku pukul delapan dan menghabiskan satu jam pertama dengan berusaha memilah segunung e-mail yang tidak sempat kulihat sejak hari Jumat. Pada pukul delapan empat puluh lima menit, aku bisa mendengar Roger, Bosku, mendekat dari pintu ganda di koridor. Aku bisa mengenali tawanya di mana pun. Ia bicara dengan seseorang ketika pintu terbuka. "Hai, Roger!" Aku tersenyum ketika ia melangkah ke ruangannya.
Ia berhenti tertawa. "Selamat pagi, Jane."
Drew meluncur di belakangnya dengan senyum patuh. "Sampai nanti, Rog," katanya, sambil menyentuh lengan Roger. "Jangan biarkan wanita itu masuk ke kepalamu, ya?"
Drew duduk di mejanya sambil tetap tersenyum lebar. Giginya begitu putih, sehingga tidak enak melihatnya. "Bagaimana akhir pekanmu, Jane?" tanya Drew sambil menyalakan komputernya.
"Sangat menyenangkan, terima kasih. Aku menikmati saat-saat yang luar biasa di Grand National dan..."
"Aku bermain golf bersama Roger," sela Drew, menyandarkan punggungnya menunggu tanggapan.
Aku berhenti. "Oh. Bagus. Cuacanya memang cocok untuk main golf."
"Menyenangkan sekali bisa menghabiskan waktu yang sungguh berkualitas bersama bos. Itu salah satu hal yang kita dapatkan bila bergaul dengan baik di tempat kerja, tapi kadang-kadang kita perlu bersantai bersama teman-teman. Begitu, kan? Itulah yang dikatakan Roger ketika dia mengajakku bergabung dengannya untuk satu putaran."
"Kalian main di mana?"
"Di klub Roger. Dia akan memasukkanku sebagai anggota. Aku merasa sangat terhormat."
Perasaanku bagai tertikam oleh rasa iri. Roger tidak pernah mengajakku bermain golf. Oke, pengalamanku dalam golf hanya bermain satu putaran di sirkuit bertema Roma Kuno pada suatu hari Paskah yang basah ketika aku berusia tujuh tahun, tetapi bukan itu intinya. Roger harusnya menjadi mentorku. Bagaimana ia bisa bermain golf dengan Drew? Aku merasa bagai istri yang ditelantarkan.
Berbagai hal tidak pernah sama lagi setelah peristiwa di anugerah bisnis tempo hari. Tidak sulit untuk menebak alasannya, Roger memang tidak melakukan atau mengatakan sesuatu yang spesifik, tetapi ia bersikap dingin dan menjaga jarak dengan cara yang sama sekali baru bagiku. Dan aku benci dengan keadaan ini.
Sesosok bayangan muncul di mejaku dan ketika aku mendongak, kulihat Roger. "Ada kesempatan yang sangat bagus untuk mendapatkan klien baru di sini," katanya sambil memegang setumpuk kertas. "Sebuah firma akuntan besar. Aku butuh sebuah proposal yang brilian."
Aku tersenyum, lega. Aku sebetulnya banyak pekerjaan untuk saat ini, tapi aku akan menikmati memenangkan klien baru yang besar untuk mengingatkan Roger apa yang bisa kulakukan.
"Serahkan mereka kepadaku," kataku sambil mengulurkan tangan. "Julian dan aku akan bekerja sebaik-baiknya seperti biasa."
Roger mengerutkan dahi. "Sebenarnya, aku ingin Drew yang menangani yang satu ini. Kupikir itu cocok dengan keterampilan yang dimilikinya."
Ketika Drew mengambil tumpukan kertas itu, ia membalas tatapanku dan mengedipkan matanya. Tiba-tiba aku merasa begitu tertekan.
...****************...
tbc