CASTELLO VS JANE

CASTELLO VS JANE
Bab 6



Bab 6


Setelah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya aku dan Castello sampai juga di gedung apartemen kami. Yah, sebenarnya super market itu tidak terlalu jauh dari apartemen kami, hanya membutuhkan waktu sekitar dua puluh menitan saja.


Aku membawa barang belanja menuju kamarku, begitupun dengan Castello. Dia tidak langsung pulang ke kamarnya, yah kau tahu, kamar kami bersebelahan. Tidak heran, dia sering sekali mampir ke kamar apartemenku, begitupun denganku. Aku memasuki ruangan yang hampir persis dengan ruangan penjara. Entah kenapa aku merasa sangat tidak cocok dengan warna dinding yang aku cat. Ku akui ini adalah kesalahanku saat mengecatnya.


Pertama, aku ingin mengecat dengan warna cokelat muda, tapi hasilnya tidak sesuai dengan harapanku. Kau tahu apa jadinya? Cokelat tua. Baiklah, aku menimpanya dengan warna yang lain, yang lebih soft, tapi hasilnya, ya Tuhan! Aku tidak mengerti apa yang telah terjadi. Itu nampak tidak berkesan cerah dan hidup. Itu seperti warna celana pramuka yang kotor yang tidak dicuci selama sebulan. Dan akhirnya, Castello memberitahukan aku bahwa dindingnya mengalami kelelahan, maka aku memutuskan untuk mengecatnya dengan warna tosca muda, seperti telur asin. Dan inilah jadinya, mirip dengan kamar penjara. Aku pun sudah kelelahan dalam hal ini, apalah daya untuk mengubahnya kembali. Meski begitu, aku lama-lama terbiasa dengan kamar bernuansa telur asin ini.


Bagaimana dengan kamar yang dimiliki Castello? Dia tidak ingin mengubah apapun dalam dekorasi. Kau tahu, dia seorang yang mencintai karya seni dengan natural. Tak ingin ada yang dirubah. Di dalam kamarnya ada rak setinggi langit-langit yang penuh dengan buku milikinya. Buku-bukunya juga menggunung di meja-meja kecil, lemari di lorong apartemen dan juga piano di ruang tengah. Itu pun bukan koleksi lengkapnya karena sebagian besar masih tersimpan di rumah orangtuanya.


Oke, ini hanya barang-barang favoritnya. aku tak tahu kenapa ada orang yang perlu empat edisi karangan Darwin. Tapi menjadi ilmuwan bukanlah sekadar pekerjaan bagi Castello, melainkan arti hidup baginya.


Castello atau lebih lengkapnya Dr. Castello yang bekerja di Pusat Penelitian Pengobatan Tropis dengan sekelompok ilmuwan untuk mempelajari malaria dan cara pencegahan penyebarannya di Afrika. Profesinya itu sungguh mulia dan membuatku merasa berada di level terendah. Yang jelas Castello tak hanya membaca buku ilmiah saja. Ia punya lebih banyak edisi pertama buku klasik dan fiksi kontemporer. Sudahlah, kita jangan membicarakan Castello. Hidupnya sungguh membosankan.


“Apa kau sudah membuka bolu es krim coklat itu?” tanyaku santai sambil bermalas-malasan.


Castello melirik dari balik buku yang sedang dibacanya di ruang tamu. “Aku sedang kurang berselera malam ini.”


Aku jadi panik saat mendengar ucapannya, tapi aku membiarkannya kembali membaca. Segera Castello mengamati ekspresi wajahku dengan heran.


“Kalau saja aku tak sednag berdiert dan takkan berkencan dua hari lagi, aku pasti akan melahapnya tanpa sisa,” ucapku.


“Siapa teman kencanmu kali ini?”


Aku tersenyum manis. “Namanya Jack. Aku bertemu dengannya di malam pebukaan drama baru di CK. Dia sungguh sangat tampan dan menggoda. Karena itulah aku tak bisa makan bolunya, padahal aku doyan sekali.”


“Biarkan aku yang makan nanti. Akan aku bawa pulang ke kamarku,” ucapnya sambil mengangkat kedua bahunya.


“Jadi?”


“Jadi apanya?” balasnya bertanya dengan bingung.


“Ya, jam berapa kau akan membukanya? Kira-kira saja,” jawabnya lugas.


Lihatlah aku sedikit memaksakan kehendak Castello.


Dengan sedikit kesal, Castello menghentakkan buku yang dia baca ke pahanya.


“Sudah kubilang, sekarang ini aku sedang tak berselera, tapi terserah juka kau ingin membukanya sendiri,” ujarnya sambil mengangkat kembali buku untuk dia baca dan menutupi seluruh wajahnya.


“Sudah jelas kau takkan membukanya,” tukasku kesal. “Aku kan sedang diet.”


“Apa bedanya siapa yang membuka kotaknya?”


“Oh, Castello. Bisakah kau membukanya supaya aku bisa mencicipinya sedikit tanpa merasa bersalah?” desahku.


Castello terdiam sejenak lalu tersenyum. “Tentu saja.”


Ia lalu pergi ke dapur untuk membuka kotaknya dan segera kembali dengan dua sendok kecil untuk memakan bolu es krim cokelat, masing-masing untuk kami. Ia duduk di sebelahku di sofa dan memakannya sementara aku mengganti saluran televisi.


“Kau sedang menonton apa?” Castello bertanya.


“Reality Show yang seru. Jenis acara kesukaanmu,” sahutku bercanda, karena itu bukanlah acara kesukaannya sama sekali.


Castello mengangkat alisnya sebelah, tampak terlihat bingung.


“Coba tonton saja dulu, Castello. Siapa tahu kau suka.”


“Tentang apa? Kalau tidak bagus, aku kira aku akan pindah ke kamarku dan membawa sebagian bolu es krim cokelat ini bersamaku.”


“Tentang orang malang yang tak pernah beruntung dalam urusan asmara yang menjalani proses perubahan style yang mereka miliki dan secara sukarela. Bukan cuma hanya pakaiannya saja, dia juga akan diajari bagaimana cara merayu dan bersikap dalam kencan. Mereka mendapat gaya rambut yang baru, facial, pemutih gigi..., dan apa kau bilang? Kau akan meninggalkan kamar ini? Jangan coba-coba untuk mengalihkan kakimu dan membawa pergi itu es bolu!”


“Bagian yang terbaik tetap akan dipertahankan,” jawabku. “Meskipun sering kali bagian yang baik itu tidak terlalu banyak.”


Sambil menjilati bolu cokelat seakan-akan bukan orang yang sedang melakukan diet pada hari pertama, aku menatap layar TV dengan terkejut. Peserta minggu ini adalah seorang perjaka berusia tiga puluh delapan tahub bernama Brian yang bekerja di bidang Teknologi Informasi dan giginya, oh my gosh! Kuning seperti warna piala world cup yang berwarna gold.


“Kukira masalahku sudah cukup berat,” komentar Castello.


“Tunggu saja,” sahutku mantap.


Lima puluh lima menit kemudian, Bian terlihat seperti seorang model jins Levi’s era 1960an yang digilai lebih banyak wanita ketimbang tokoh-tokoh yang terkenal pada zamannya.


“Harus kuakui, hasilnya mengesankan,” ujar Castello saat acaranya usai.


“Kan? Sudah kubilang ini akan bagus. Ya ampun.”


“Apa?” tanyanya.


“Bolunya habis.”


“Kau yang menghabiskannya, kan?” cetusku.


“Tentu saja bukan aku.”


“Castello, pasti kau yang melakukan itu. Aku tidak mungkin melahap setengah bagian bolu es krim ini. Aku sama sekali tidak sadar. Katakan bahwa bukan aku yang melakukan ini,” tegasku.


Castello tersenyum menanggapi celotehanku. “Tentu saja bukan kau, Jane. Aku yang makan lebih banyak. Kau cuma makan satu atau dua sendok kecil saja.”


“Huft..., sudah kuduga,” ujarku seraya mengeluskan dada dan mengeluarkan catatan Diet World Tracker milikku dan menuliskan dua setengah poin yang ku perkirakan yang masuk akal. Ketika aku menaruh kembali catatanku, Castello termangu.


“Ada apa?” tanyaku.


Castello hanya menggelengkan kepalanya sambil bergumam, “Tidak apa-apa.”


“Ayolah, ada apa? Kau tidak seperti biasanya. Pasti ada sesuatu yang salah.”


“Tidak ada apa-apa. Sungguh. Hanya saja...,”


“Hanya saja apa?”


Castello diam dan menunduk. “Kau tahu bagaimana sikapku di depan wanita?”


Aku memandangnya terkejut. “Maksudmu.., malu-malu?”


Ia pun mengangguk, “Menyebalkan, ya?”


Aku tertawa kecil, lalu melihat ekspresi wajahnya dan tawaku langsung berhenti. “Maaf, kau mau bilang apa?”


“Lupakan saja,” sahutnya sambil mengibaskan tangan.


“Jangan begitu, Castello.., aku minta maaf. Tadi kau mau bilang apa?”


Sejenak ia mengernyitkan alisnya, lalu menarik napas dalam.


“Terkadang aku ingin mempunyai pacar juga.” Wajahnya merah padam menahan malu.


...****************...


tbc