
Bab 40
Aku mengingat ucapanku sendiri tentang apakah aku akan setuju jika Paul kembali mengajakku berkencan lagi. Tapi itu kan sebelum ia benar-benar mengajakku. Lagi pula, sendirian di rumah ketika semua orang berkencan pada malam minggu sama menariknya dengan pesta yang diadakan di rumah nenekku. Jadi, aku mau diajak kencan lagi, meskipun mungkin terlalu gampang aku mengatakan ya.
Aku sangat berharap Paul menceritakan alasan paling cerdas untuk menjelaskan ketidakmunculannya pada acara tempo hari. Ada yang meninggal mendadak di keluarganya, anggota tubuh keluarganya ada diamputasi karena kecelakaan, gempa bumi besar yang membuat rumahnya hancur lebur, rata dengan tanah. Itu semuanya masuk akal. Alasan itu beserta permintaan maaf karena tidak menelepon hingga lebih dari seminggu.
Namun ternyata, Paul tak pernah mengungkit masalah itu dan aku pun terlalu malu untuk mendesaknya. Memang ini adalah pengkhianatan terhadap prinsip yang mengakar dalam tulang belulangku. Namun, putus asa mengharapkan dirinya tak berubah pikiran, aku pun mengambil pilihan mudah dengan tetap bungkam. Kehormatan diriku memang tercabik-cabik, tapi setidaknya aku tak perlu diam di rumah menonton Britain's Got Talent.
Ternyata dan ternyata, aku tetap harus membeli baju baru, yang harganya murah tentunya tidak ada yang standarnya terlalu tinggi. Aku tahu kalau singgah ke rumah orangtuaku bisa jadi masalah kalau membawa tas-tas belanja begini. Apalagi kalau ada enam buah.
"Ayolah, Jane, tunjukkan belanjaanmu kepadaku," bujuk Mami saat melihat tas-tas belanjaan yang kubawa.
"Tidak ada yang mahal," kataku kepada Mami, berpikir kenapa pula aku harus mencari-cari pembenaran.
"Benarkah?" tukas ibuku sinis sambil melihat-lihat rok bawahanku yang baru saja kubeli dengan merek Coast. "Memang kelihatan seperti dari toko obral."
Pintu dapur terbuka dan Dave masuk. Ia membawa sembilan tas belanja.
"Ya, ampun!" teriak Mami "Bisa dibilang kalian bakal melalui resesi global tanpa terpengaruh sedikit pun. Sepertinya pendapatan kalian jauh lebih banyak ketimbang seorang artis ternama seperti Keanu."
"Mami," kata Dave, meletakkan semua tas belanjanya di meja lalu menghampiri kulkas. "Ada makanan tidak?"
Dave tak henti-hentinya makan, pilihan makanannya pun tidak sehat. Bila ia berhenti latihan angkat berat, pasti ia sudah seperti gajah bengkak dalam hitungan minggu. Obesitas akan melanda dirinya.
"Ada makanan di situ," sahut Mami, "tapi kumohon jangan sentuh pai daging di sana. Ayahmu akan mengamuk dan...."
Dave berbalik memperlihatkan mulutnya yang penuh. Ia sudah menggigitnya. "Bilang kepadanya, aku utang satu," katanya.
Mami memutar bola matanya. "Apa yang baru saja kau beli? Ayo, sini kulihat."
"Tidak ada yang mahal," komentar Dave polos.
"Itu ada tas Reiss" aku menunjuk.
Wajah kakakku langsung berubah. "Memangnya kenapa?"
Aku mengangkat bahu. "Aku cuma mau bilang, tidak ada barang murah di tempat itu."
Mata ibuku melotot karena kesal. "Kau juga baru saja ke sana? Maksudku ke Whistles. Kujamin tak ada pelanggan yang langsung datang ke sana setelah pulang dari kantor Bursa Kerja."
Aku mengernyit. "Apa hubungannya?"
"Justru itu, dasar bodooh," cetus Dave.
Aku sudah memasang muka nenek-nenek paruh baya yang paling jelek, bersiap-siap menyemburkan komentar lanjutanku, tapi Mami menghentikanku.
"Sudahlah, kalian berdua. Apa kalian mau seperti ini terus sampai umur delapan puluh?"
Aku berdiri dan mengambil tas-tasku. "Aku pulang dulu, Mam," kataku. "Terima kasih tehnya."
Saat kami sampai ke lorong, aku ingat sesuatu. "Oh, aku lupa tanya... bagaimana kursus dansa salsanya?"
Mami memandangi kuku-kukunya. "Agak tak menarik. Seperti dugaanku"
"Tak menarik?"
"Yah," ia mendengus, "tidak cocok denganku. Yah, gerakan putar-putar pinggul itu, bikin tubuhku berkeringat semua, jadi agak-agak..."
"Agak bagaimana?"
"Terlalu susah."
"Oke. Jadi kau tidak menikmati kegiatan itu? Dan nanti tidak akan berangkat kursus lagi?" tanyaku memastikan.
Mami mengangkat bahu. "Bukan begitu, soalnya Ayahmu memaksa terus."
"Tidak." Pasti dikira aku menuduhnya melakukan tindak pidana menyebabkan luka serius pada tubuh seseorang. Aku nyaris meloncat masuk kembali dan mengulang kata-kataku karena aku yakin, tapi aku sudah puas dengan tersenyum mengetahui semua itu.
Mami membukakan pintu untukku. "Aku tidak paham wajah anehmu itu maksudnya apa. Kalau sampai bentuk wajahmu tidak bisa kembali normal, baru tahu rasa kau."
"Ha ha ha, aku pulang," ucapku.
...****************...
Aku sudah beberapa kali melakukan diskusi mencara segar, tapi belum pernah yang seperti ini.
"Bagaimana dengan sikap kesatria!" kata Erin. "Yang berupa tindakan-tindakan kecil seperti membukakan pintu untuk wanita, menarikkan kursi di restoran dan sekadar bersikap layaknya seorang pria sejati. Itu sang penting."
"Cerdas!" Julian seketika mengacungkan spidol permanen ke udara dan berputar untuk menambahkan kata itu di kertasnya. Ia sangat menjiwai perannya sebagai koordinator pelatihan hari ini yang mengangkat salah satu tema favoritnya. Sikap kita saat berkencan. "Itu bagus Cast. Jangan cemas, kurasa hal itu akan secara alami datang kepadamu. Mari kita simpulkan."
Castello berpikir keras. Sekarang ia sudah punya janji kencan dengan Racel dan ia sudah bertekad tidak akan merusaknya. Selama ia duduk di sofa kami dengan sajian daftar aturan berkencan hasil dari semuan kami semua, ia terus memperhatikan Julian dengan saksama.
"Nomor satu. Dengarkan dia. Kebanyakan pria selalu sibuk membicarakan diri sendiri dan tidak ada yang bisa menghentikannya. Maka, lebih baik tanyakan tentang dirinya. Di mana masa kecilnya. Pekerjaannya. Apa yang dia sukai dan tidak sukai. Bisa kau bayangkan?"
"Tentu saja," sahut Castello.
"Nomor dua. Bersikaplah penuh percaya diri. Kau mungkin merasa canggung, tapi alami saja. Jangan malah terlalu tegang, Rilekskan kedua bahumu. Pastikan kau selalu tersenyum. Jangan putar-putar jempol atau memainkan jari-jemarimu segala," ucap Julian menjelaskan lagi.
"Aku merasa ini seperti wawancara kerja," kata Castello.
"Memang, Cast," kataku kepadanya. "Lowongannya adalah 'pacar'."
"Nomor tiga," lanjut Julian, "adalah merayu. Kita sudah membicarakannya dengan terperinci. Sentuh lengannya
dengan lembut. Kontak mata. Tatap matanya."
"Yap," kata Castello. "Aku mengerti."
"Bagus," ujar Julian. "Karena ada satu aturan pamungkas. Satu aturan yang belum kita bicarakan dari awal. Sangat penting sekali agar kau tak melupakannya."
"Ada lagi?" tanya Castello tampak cemas. Julian mengangguk seketika.
"Nikmatilah kencanmu. Jangan tegang."
...****************...
Malam ini, ada hal baru dan menarik sedang terjadi. Aku dan Castello bersiap-siap untuk kencan.
Aku tergopoh-gopoh menyeterika pakaian, sedangkan Castello bersiap-siap di kamarku. Ia tak mau di dalam kamarnya. Katanya agar style yang ia pakai tidak salah. Aku memeriksa ponsel barangkali ada yang berubah pikiran. Ketika aku dan Castello sudah siap berangkat, energi kegugupan kami sudah meluap sampai-sampai mungkin cukup untuk menerbangkan pesawat kecil.
Castello menarik napas dalam-dalam. "Kau tampak sangat cantik.
"Kau juga kelihatan tampan," jawabku, anehnya aku tersipu malu.
Mata kami bertemu dan aku tak kuasa mengendalikan diriku. "Oh, Cast... sini peluk aku!" Aku merangkulkan kedua tanganku. "Menyenangkan sekali."
Ia bimbang tapi kemudian membalas erat pelukanku. Aku sejenak berpikir kalau-kalau aku bisa mencium ada sesuatu yang salah, namun ia melepaskan dekapanku dan tersenyum. "Aku tahu."
"Kau gugup?" tanyaku. "Aku pasti merasa lebih rileks terjun payung bersama seorang pembom bunuh diri."
"Kau tak usah mencemaskan apa pun, yang penting percaya diri saja," kataku sambil mengibaskan sehelai bulu halus dari pundaknya. Aku mundur untuk mengamatinya dan aku begitu terkesima betapa kata-kataku benar. Castello tampak sangat menawan malam ini. Bukan hanya karena baju biru pucat dan celana jins ketatnya. Kulitnya bercahaya, matanya berbinar-binar. "Racel bilang kau adalah wanita yang paling seksi."
"Kurasa otaknya perlu diperiksa." Castello menyeringai seraya membuka pintu depan.
...****************...
tbc