CASTELLO VS JANE

CASTELLO VS JANE
Bab 50



Castello langsung meneguk isi botol susunya, menghabiskannya.


"Begini, ya, aku tidak pernah mengatakan kepada Racel bahwa aku....,"


"Apa?"


"Bahwa aku akan menikahinya. Aku tidak pernah mengatakan bahwa kami akan serius," ujarnya.


"Kalau begitu, kau bisa memutuskannya," tegasku.


"Justru aku menyukainya, Jane. Dan aku juga suka dengan yang lainnya," ungkapnya.


Aku langsung memutar bola mataku "Oh, astaga!" Aku merosot di kursi dan menaruh kepalaku di tanganku.


"Memangnya kenapa?" Castello bertanya dengan polosnya.


"Kau sudah berubah menjadi se... Seorang lelaki! Seorang lelaki yang bertipikal seperti itu!" keluhku.


"Bukankah dari dulu aku memang seorang lelaki?" katanya dengan bingung.


"Tidak! Kau tidak seperti ini dulu. Kau dulu baik. Dan sangat baik," Aku berteriak dan mengebrak meja.


"Aku masih sama. Masih baik," ujarnya dengan mimik wajah yang terluka.


"Terserah kau saja. Dari kacamataku, kau sudah berubah dari seorang yang paling baik yang kukenal, menjadi secara resmi seorang bajingann tulen." Aku mengatakan kepadanya dengan penuh keyakinan.


"Aku bukan seperti yang kau tuduhkan," kilahnya.


"Sangkal saja. Sangkal saja semaumu." Aku mendengus dan memandang ke luar jendela dengan kesal.


"Sungguh, Jane. Aku tidak begitu. Setidaknya aku tidak berpikir aku seperti itu. sudah pasti aku tidak bermaksud begitu," ujarnya lagi.


"Itu bukan membela diri namanya. Bagaimana dengan Racel? Kau bahkan tidak memikirkannya dengan baik." Ucapku gusar. Aku tidak tahu sejak kapan Racel menjadi seperti itu. Aku tidak pernah sungguh-sungguh menyukai gadis itu dan sejujurnya dengan sikapnya yang menjilatt Castello mulai membuatku mual. Tapi aku merasa perlu untuk membela dirinya.


Castello menarik sebuah kursi dan duduk di sebelahku, tampak sedih. "Kau benar," katanya. "Aku harus memberitahu dia bahwa aku tidak ingin menjumpainya lagi. Menekankannya,


demi semua orang. Hanya saja... yah, dia begitu menarik, seperti katamu. Dan baik."


"Karena itu berhentilah mencari orang lain dan tetaplah bersamanya," kataku.


"Baiklah," Castello memutuskan. "Meskipun aku seharusnya jalan dengan Wendy malam ini."


Aku berdiri dan mendorong kursiku ke bawah meja dengan muak. "Aku menyerah!"


"Jane.... kembalilah. Mari kita bicarakan."


Aku berhenti di ambang pintu, melipat tangan dan berbalik, lalu membentak, "Oke. Apa?"


"Kau benar mengenai Racel, aku menerimanya. Dan aku akan melakukan sesuatu mengenai hal itu sore ini. Tapi, mengenai orang-orang lain yang kukencani... apakah perbuatanku salah? Yang kulakukan hanyalah pergi berkencan bersama satu atau dua orang yang baik. Aku belum melamar satu orang pun... aku tidak menipu seorang pun... aku hanya bersenang-senang. Intinya itu, kan?" ujarnya dengan bingung.


"Memangnya di mana salahnya, Jane?"


Aku memandang matanya, hatiku berdebar-debar.


"Lupakan saja, Cast. Kau tidak akan mengerti." Aku berputar di atas tumitku dan menuju pintu. Aku menyadari kemunafikanku... karena ada bagian dariku yang juga tidak mengerti.


...***************...


Akhir pekan berikutnya, semua hal menjadi lebih baik. Aku kembali berkencan.


Aku tahu beberapa orang mungkin tidak melihat ini sebagai suatu alasan untuk membuat perayaan, mengingat tingkat keberhasilanku. Tapi, sebagaimana aku temukan dengan terlalu baik, ini lebih baik daripada duduk diam di dalam rumah menonton Pretty Woman lagi dan mendengar erangan nikmat yang sayup-sayup terdengar melalui dinding dinding kamar Castello.


Selain itu, aku memiliki perasaan baik tentang yang satu ini. Sebut aku optimis membabi buta, tapi Will yang kukenal di acara makan siang, tampaknya seorang gentleman, tidak seperti beberapa pria lain yang berkencan denganku. Ia memang sedikit kurang.. bagaimana ya menyebutnya?... kurang dalam penampilan. Sedikit lebih pendek. Lebih kurus. Berhidung runcing. Itu membuatnya terdengar mengerikan padahal ia tidak demikian. Ia cukup tampan. Tentunya lumayan. Yang akan cocok untukku karena apa yang membuat pria seksi dan baik dan semua hal yang kucari-tidak ada hubungan dengan tampangnya. Aku sudah belajar sebanyak itu.


Aku juga yakin bahwa Will memiliki potensi untuk lebih toleran dibandingkan dengan yang lain jika aku melakukan sesuatu yang tidak pantas. Ini tidak berarti aku berencana akan melakukannya. Tentu saja aku tidak pernah merencanakan hal-hal yang tidak pantas.


Will adalah surveyor yang baru saja pindah dari Bristol. Cita rasa berpakaiannya sedikit konservatif. Bahkan, Will secara keseluruhan sedikit konservatif.


Dengan demikian aku mempertimbangkan untuk tidak memoles kulitku dengan lotion dan meninggalkan tren yang biasa aku pakai dalam bergaya. Julian melakukan perawatan kuku di tempat yang menawarkan promo beli satu dapat dua dan aku tidak bisa menolaknya juga.


Aku tidak pernah punya kuku akrilik sebelumnya dan aku tak percaya apa yang telah kulewatkan. Betapa aku kelihatan jorok sebelum jam dua siang tadi, dengan kuku tidak dipoles, pada ujung jari yang gemuk pendek, sungguh menyedihkan.


Sekarang, saat aku meletakkan tanganku dengan lembut di atas tas tanganku yang baru, aku merasakan gelombang rasa percaya diri. Ck, ck, ck, kukuku sungguh memesona. Julian mencoba menyarankan agar menggunakan kuku palsu yang lebih pendek, mengingat aku seorang Perawan Akrilik yang belum pernah menggunakan kuku palsu. Tetapi, kepalang basah, kan? Sekarang, kukuku kelihatan begitu menakjubkan dan lentik, dan kalau dilihat dari kejauhan aku pastilah terlihat seperti kakak perempuan Edward Cullen. Hanya bercanda. Semacam itulah.


Satu-satunya sisi buruk dari cakar-cakar megah ini adalah, dalam situasi tertentu dari memasukkan kunci ke pintu sampai dengan mengoleskan make-up banyak sekali hambatannya. Aku mendapat kesulitan yang menggelikan saat mencoba membuka tutup busa cukurku sebelum aku mencukur bulu-bulu kakiku. Sebelah sisi dari sebuah kukuku tergeser dan akhirnya kalengnya melejit melintasi kamar mandi da hampir mengorbankan sebuah jendela. Beruntung, kan menggunakan jendela yang berlapis ganda.


Ketika itu malam awal musim panas yang nyaman ketika aku sedang berjalan santai menuju bar restoran dan melihat Will telah duduk di sebuah bangku. Ia sudah memesan segelas gin dan tonik dan sedang mengetik di ponselnya saat aku mendekat. Tatkala ia mendongak, ekspresing segera membuatku santai.


"Wow," katanya, menjauhkan ponselnya dan berdiri untuk mencium pipiku. "Kau terlihat menakjubkan, Jane."


"Terima kasih." Aku tersenyum sambil duduk di sebelahnya. "Kuharap aku tidak membuatmu menunggu."


"Tidak sama sekali." Ia jelas berbohong karena gin dan toniknya sudah hampir habis. "Kau mau minum apa?"


Percakapan terasa kaku pada awalnya, tetapi setelah beberapa gelas minuman kami menjadi santai. Memang aku seharusnya fleksibel dengan kenyataan ketika ia bertanya tentang kualifikasiku dalam yoga (aku bahkan tidak ingat pernah memberitahunya) dan menjadi presiden klub catur lokalku, terutama karena permainan dengan papan yang terakhir aku mainkan adalah Buckaroo. Tetapi saat kami duduk untuk makan dan memesan hidangan, aku yakin kalau malam ini akan berjalan dengan baik.


"Apakah pindah tugasmu ini permanen?" tanyaku.


"Siapa yang tahu? Aku di sini karena pekerjaan, tapi aku bisa saja berakhir dengan menetap di sini. Itu akan menjadi sedikit aneh, menurutku, mengingat teman-teman dan keluargaku berada di selatan. Tapi aku mendapat teman- teman baru, kan?"


"Aku akan menjagamu, kalau kau mau," ujarku dengan sikap menggoda. Ketika ia tidak menjawab aku merasakan panik yang luar biasa. Mungkin usahaku untuk bersikap lebih ramah dan bersahabat telah dinilai salah.


Sejenak kemudian ada senyuman yang lebar terukir di wajahnya. "Masalah terselesaikan. Aku akan menetap."


...****************...


Tbc