
Di sore hari itu, kami tertawa, minum, dan bergembira selama dua pacuan terakhir sebelum naik kereta yang padat tapi penuh kegembiraan ke pusat kota. Tidak ada yang peduli ketika jempol kaki mereka yang bergerak terus dalam sepatu berhak tinggi, atau topi-topi terjatuh dan berakhir seperti habis dicuci di tempat cuci mobil. Seharusnya kami berhenti minum dan pulang untuk menikmati secangkir cokelat, tetapi kehidupan malam kota ini terlalu menggoda untuk dilewatkan.
Ketika kereta berhenti di stasiun untuk menurunkan beberapa orang penumpang, aku melirik Julian dan Justin. Tangan mereka berpegangan ke tiang dan saling merangkul dengan mata saling tatap penuh pemujaan. Julian melihatku yang sedang menatapnya.
"Kau baik-baik saja?" ia berkomat-kamit ke arahku.
Aku mengangguk dan tersenyum. Ketika Justin menariknya lebih erat, aku tahu aku tidak perlu menanyakan hal yang sama.
Sementara itu, Racel menyandarkan kepalanya yang sempoyongan karena kebanyakan minum ke bahu Castello, dua kursi dari tempat Paul dan aku duduk saling berpegangan tangan. Aku tidak bisa melihat wajah Castello karena Racel mengenakan topi ukuran yang menghalangi pandanganku pada Castello. Tapi dari ekspresi Racel, bisa kukatakan ia sedang meluap-luap.
"Apa rencana kita sesampainya di Liverpool?" Carl bertanya, sambil meletakkan lengannya di belakang kursi yang diduduki Erin. Jelas terlihat bahwa Carl menaruh hati kepada Erin sedangkan Erin tidak membalas, hanya saja Erin terlalu baik untuk menolak walaupun secara halus. Kendati membiarkan lengan Carl, Erin membungkuk ke depan untuk mengambil tasnya, pura-pura sibuk mengaduk aduk tasnya, dan setelah itu memeriksa ponselnya untuk membaca pesan masuk yang sebenarnya tidak ada.
"Di mana-mana pasti penuh," selaku.
"Ayo kita ke Mathew Street," saran Paul.
Aku ragu-ragu. "Apa kau tidak pernah lihat bagaimana Mathew Street diserbu setelah selesainya acara Grand National? Terakhir kali aku mencobanya, aku menghabiskan satu minggu bermimpi dipindahkan ke Prancis untuk dibantai."
"Semua tempat pasti akan diserbu," kata Paul.
"Ya, tapi pendapat Jane ada benarnya," ujar Julian. "Mathew Street menjadi milik kelompok-kelompok lain di malam seperti malam ini."
"Bagaimana dengan bar piano di Victoria Street?" kata Castello tiba-tiba. "Julian, kau kenal pemiliknya, kan?"
"Brilian!" seru Erin.
"Aku tidak tahan di sana," gumam Paul.
Aku tersenyum tidak yakin padanya. "Setidaknya kita tahu bahwa kita akan ke sana."
Sebelum Paul sempat memprotes. Julian menelepon mengatur acara di sisa malam itu.
Satu jam kemudian, kami telah melewati antrean, berkat upaya Julian. Tempat itu hampir tak bisa dikenali bar piano yang biasanya tidak menarik perhatian sama sekali. Kini dipenuhi orang-orang yang baru berdatangan dari pacuan kuda, lmungkin baru bukanlah kata yang tepat mengingat bagi kebanyakan orang pesta dimulai sebelum tengah hari.
Ketika Castello mengambilkan wine dan memberikannya kepadaku, aku dikagetkan oleh ekspresi wajah pelayan bar yang sangat mirip dengan ekspresi Racel. Pelayan bar itu melihat ke arah Castello dan tertarik dengannya. Tidak salah lagi.
"Ambil selembar untuk dirimu sendiri." Castello tersenyum, sambil menyerahkan beberapa lembar uang kertas.
Tangan pelayan bar itu tetap terulur dan matanya berbinat-binar menggoda, menatap mata Castello. Wanita itu cukup cantik. Dengan kemeja hitam yang dililitkan dan diikat di sisi tubuhnya, dengan rambut panjangnya yang berwarna karamel dan sangat kontras dengan warna kulitnya yang bagai krim. Sempurna.
Namun, ia menatap Castello dengan terang-terangan. Sangat sulit dipercaya.
Ketika pelayan itu kembali dengan uang kembalian dan menyerahkannya kepada Castello dengan senyum ramah, sesuatu yang lain terlintas dalam pikiranku yang membuatku sulit percaya. Castello balas tersenyum. menatapnya lekat-lekat.
Oh, Lihat, Castello tengah menggodanya. Setelah beberapa waktu yang rasanya lama sekali. Castello menoleh kepadaku. "Apa harimu menyenangkan?"
"Bukan ahli, tapi keberuntungan saja," ia meyakinkanku.
"Dewi Keberuntungan jelas menatapmu dengan mata cantiknya hari ini. Meskipun kurasa bukan Dewi Keberuntungan saja yang memperhatikanmu saat ini." Aku mencoba menyindir dirinya.
"Apa? Oh, biar aku ambilkan...," ujar Castello. Seorang wanita pengunjung di pacuan kuda lewat di depan Castello dan menjatuhkan handbagnya. Lantas Castello membungkuk untuk mengambilnya. Ketika wanita itu menerima tasnya, ia memperhatikan wajah Castello dan tampak terpukau.
"Oh, terima kasih." Wanita itu tersenyum malu-malu.
"Sama-sama." Castello balas tersenyum.
Wanita itu mengibaskan rambut ikalnya yang cokelat dengan gaya memikat.
"Terima kasih untuk minumannya, Castello," terdengar sebuah suara menyela yang ternyata itu adalah Racel. Pandangan matanya menelusuri wanita pemilik tas itu. Karena segera menyadari perannya sebagai teman kencan Castello, ia melingkarkan lengannya ke pinggang Castello dengan cepat. Racel berusaha keras terlihat santai, tapi aku menduga ia berharap Castello dapat mengerti dan peka terhadap dirinya.
...***************...
Malam berlalu begitu cepat, seolah-olah seseorang telah mendorongnya maju dengan cepat. Kami mulai keluar pada pukul sebelas lewat tiga puluh siang. Sebelum aku menyadarinya, saat ini sudah jam satu pagi dan kami masih terlihat kuat. Setelah kami memesan makanan ringan di bar untuk mengganjal perut, sekarang aku punya tenaga baru dan merasa seolah-olah aku bisa melanjutkan sampai fajar datang.
"Julian bercerita banyak tentang dirimu," ujar Justin kepadaku sambil meneguk birnya.
Julian dan yang lainnya mengobrol dengan salah satu teman kerjanya, jadi saat itu untuk pertama kalinya aku berbicara sendiri dengan Justin. Sejauh ini, kami sudah berbicara tentang balap kuda, tentang keanggotaanku di gym (yang sudah kedaluwarsa entah kapan, aku pun sudah lupa) dan tentang apakah koktil hanya untuk perempuan.
"Dia juga bicara tentangmu," ujarku.
"Dia gadis yang menyenangkan," katanya.
Aku memperhatikan ekspresinya. "Menyenangkan" tidak cukup untuk menggambarkan apa yang kulihat. Julian serius dengan pria ini yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan, jadi aku mengharapkan sesuatu yang lebih emosional.
"Dan kau juga gadis yang menyenangkan." Justin tersenyum lebar.
Aku tersenyum gelisah mendengar hal yang baru saja dikatakan oleh Justin.
"Halo, Sayang," kata Julian, yang muncul entah dari mana. Justin mencondongkan tubuhnya ke arah Julian dan menciumm bibirnya dengan lembut. Setelah mereka saling melepaskan pelukan, Julian berpaling ke arahku dan tersenyum lebar.
"Aku beruntung, ya?"
Aku pun tersenyum seraya menganggukkan kepalaku untuk menyetujui apa yang dipertanyakan oleh Julian. Memang terlihat sangat beruntung, dilihat dari binar matanya, dia juga sangat memiliki perasaan yang mendalam terhadap sahabat perempuanku ini, Julian. Yah, aku berharap mereka berdua bisa menjalin hubungan yang lebih serius dan tak sekadar main-main. Dan apa yang pernah dikatakan oleh Julian, ia ingin serius dalam hubungan ini. Bisa sampai bertunangan dan menikah.
...****************...
tbc