
Bab 63
Ingin menangis rasanya saat aku melihat mereka bersama, bersenang-senang bersama. Terlihat bahagia sekali. Oh, tidak!
Castello kembali pukul delapan pada hari Minggu malam sesak itu sudah ada sejak kemarin, mengencang setiap kali aku memutar ulang adegan itu sambil mengepalkan tanganku karena mual.
"Hai!" Aku mencoba tersenyum saat aku mendongak dari piringku yang berisi taoge. Makanan itu bahkan tidak terlalu menggugah selera, setiap suap yang tidak enak merupakan' penghinaan terhadap kata "layak dimakan".
"Hai." Castello tersenyum, berdiri di pintu. Ia tampak sedikit acak-acakan, benar-benar tampan dan sama sekali tak bisa disentuh.
"Apakah akhir pekanmu menyenangkan?" tanyanya.
"Sangat menenangkan," aku berbohong.
"Oh, bagus," ujarnya, bermain dengan gelang kulitnya. "Oke... aku mandi dulu."
"Oke," sahutku.
Ia mengangguk dan melangkah keluar dari pintu. "Cast, biar kutebak kencanmu berjalan lancar? Dengan Erin?"
Ia terpaku, memikirkan dua kata yang terakhir. Matanya menatap wajahku, memiliki ekspresiku. Hanya saja aku siap untuk ini. Dan ketika ia melihat tampilan yang meyakinkan, yang sudah kupasang di wajahku, ia menjadi santai.
"Ehm.... iya."
"Bagus," celetukku dingin.
"Kalau begitu kau tahu kalau itu adalah Erin?"
Aku mengangguk, seolah-olah aku hampir terkejut ia bertanya seperti itu.
"Aku melihat kalian saat belanja kemarin." Nada bicaraku terdengar begitu biasa sampai-sampai hampir membuat rahangku copot. "Hai, aku benar-benar bahagia untuk kalian."
Castello meluruskan punggungnya "Oh, ya?"
"Tentu saja. Kenapa tidak? Kalian berdua kan teman dekatku."
"Tidak ada yang terjadi sebelum akhir pekan ini," katanya dengan jujur kepadaku. "Kami tidak menyembunyikan apa pun atau...,"
Aku langsung menyelanya. "Tidak papa, Cast."
Ia tersenyum untuk menanggapi aku tidak masalah dalam hal ini. "Terima kasih, Jane. Itu sangat berarti bagiku."
Ia terpaku, memikirkan dua kata yang terakhir. Matanya menatap wajahku, menilik ekspresiku. Hanya saja aku siap untuk ini. Dan ketika ia melihat tampilan niat baik yang meyakinkan, yang sudah kupasang di wajahku, ia menjadi santai.
"Ehm... iya."
"Bagus," cetusku dingin.
"Kalau begitu kau tahu kalau itu Erin?"
Aku mengangguk, seolah-olah aku hampir terkejut ia bertanya demikian.
"Aku melihat kalian belanja kemarin." Nada bicaraku terdengar begitu biasa sampai-sampai hampir membuat rahangku copot. "Hei, aku benar-benar bahagia untuk kalian."
Castello meluruskan punggungnya. "Oh, ya?"
"Tentu saja," kataku dengan riang. "Kenapa tidak? Kalian berdua teman dekatku."
"Tidak ada yang terjadi sebelum akhir pekan ini," katanya padaku. "Kami tidak menyembunyikan apa pun atau..."
"Castello, tidak masalah. Sungguh," aku menyela.
"Baiklah, itu bagus." Castello tampak lega. "Aku bertanya- tanya apakah kau mungkin merasa sedikit lucu tentang hal ini... kau tahu, karena Erin adalah temanmu."
"Apa? Lucu? Sama sekali tidak!"
Castello tersenyum, tampak benar-benar tersentuh. "Terima kasih, Jane.. Itu sangat berarti bagiku."
...****************...
Kami bertiga pun akhirnya dapat berkumpul dan menceritakan satu sama lain saat akhir pekan yang kami jalani.
"Aku sangat menikmati suasana pacaran," kata Julian, mengambil buah zaitun dan memasukkannya ke mulutnya." "Tapi aku rindu suasana kita bertiga, makan siang dan bicara omong kosong."
"Omong kosong?" Erin tertawa. "Kupikir kita sedang melakukan pembicaraan yang sangat menggairahkan dan penting."
"Tentang sepatu," kataku.
"Bukan hanya sepatu," tambah Julian. "Meskipun aku tidak tahu mengapa kehidupan percintaanku tiba-tiba menjadi sangat menonjol dalam setiap percakapan."
"Kalian tidak pernah mengira?" seru Julian. "Kalian harus mendengar ibuku."
"Kau memberitahu ibumu?" pasti serius. tanyaku. Ya ampun, ini pasti serius.
"Mereka belum bertemu. Aku belum berubah sampai sejauh itu. Tapi kupikir aku akan meletakkan dasar bagi..." Suara Julian menjadi lirih.
"Bagi apa?" desakku.
Julian tampak ragu. "Yah... lupakan saja."
"Memangnya kami bisa?" cetus Erin.
Julian memelankan suaranya. "Oke... tapi jangan sebarluaskan dulu, ya."
Erin dan aku mendekat.
"Kurasa Justin akan memintaku untuk tinggal bersamanya.
"Oh, ya?" Erin terkesiap.
"Julian, itu luar biasa," kataku. Dan aku serius. Semakin aku mendengar cerita dari Julian tentang dirinya dan Justin, semakin aku yakin bahwa aku telah berprasangka buruk terhadap Justin. Pria itu jelas tengah dimabuk cinta sama seperti Julian.
"Yah, itu memang belum terjadi." Julian bersandar kembali. "Dia memberikan beberapa petunjuk dan... sebut saja ini intuisi wanita."
Aku menikmati makan siang kami, namun aku akan berbohong kalau mengatakan bahwa segala hal tidak terasa aneh setelah aku melihat Erin dan Castello, sahabatku. Aku sudah mencoba untuk tidak membiarkan hal itu memengaruhiku, namun aku tidak kuasa menahannya.
"Bagaimana kabar kekasih?" tanya Julian, seolah-olah bisa membaca pikiranku.
"Baik, kurasa. Aku jarang bertemu dengannya belakangan ini. Sebaiknya kau tanya Erin." Ujarku spontan.
Wajah Erin memerah, dan aku merasakan tusukan penyesalan.
"Castello... baik-baik saja," jawabnya dengan tidak nyaman.
"Yah, aku sangat senang untuk kalian," kata Julian, menyesap minumannya. "Kami khawatir setelah perpisaanmu dengan Gary, bukankah begitu, Jane?"
Aku menyunggingkan senyum. "Ya., kau benar."
"Dan sekarang kau dengan Castelli. Aku tidak bisa memikirkan pasangan yang lebih baik, bukankah begitu, Jane?"
"Benar."
"Kurasa prospek kalian cukup bagus, benar kan, Jane?"
"Ya."
"Dan setelah perombakan itu, aku..."
"Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?" Kata-kata itu meluncur dari mulutku sepenuhnya tanpa sadar. Julian menatapku seolah-olah aku kerasukan.
Erin berdeham dengan canggung. "Tentang aku dan Cast, maksudmu?"
Aku mengangguk.
Erin mengerutkan dahi. "Aku tidak tahu, sungguh. Kupikir tidak ada yang harus diberitahukan pada awalnya. Tidak ada yang terjadi. Castello menemaniku ke beberapa acara kantor dan... yah, kami berlaku seperti teman. Kami memang berteman... jadi mengapa aku perlu repot-repot memberitahu siapa pun tentang hal itu?"
"Tapi sekarang kalian bukan sekadar teman, kan?" seru Julian, mendorong Erin sedikit. "Dari apa yang kudengar, hubungan kalian jauh lebih mendalam daripada sekadar pertemanan!"
Wajah Erin semakin memerah. "Baru akhir pekan ini terjadi sesuatu."
"Sesuatu?" Julian tertawa terbahak. "Jane hampir saja membentuk tim pencarian orang hilang... karena Castello tidak pulang selama akhir pekan ini."
Dari dalam diriku, aku mencoba terlihat senang. Kurasa aku tampak gembira seperti pemimpin prosesi pemakaman tapi aku sudah mencoba. Erin melirikku dengan gugup.
Aku menguatkan hatiku, lalu berkata, "Itu bagus, Erin. Bagus sekali. Aku turut bahagia mendengarnya."
Erin tersenyum penuh rasa terima kasih dan aku merasa seperti seorang penipu ulung. Dua teman terbaikku telah menemukan cinta dalam diri satu sama lain dan aku harus berpura-pura bahagia. Betapa mengerikan diriku ini.
"Aku hanya terkejut, begitu lama waktu yang kau butuhkan untuk mendekatinya," lanjut Julian.
Erin menelan sepotong tomat. "Aku memikirkan hal itu beberapa waktu yang lalu. Aku menyadari betapa aku menyukainya segera setelah berpisah dengan Gary, tapi aku khawatir jika aku mengalami hal yang sama dengan Castello. Jika itu orang lain, aku tidak akan berpikir dua kali. Lalu, akhirnya, aku sadar bahwa aku menyukainya sehingga aku punya dua pilihan yaitu duduk diam memikirkan hal itu selama-lamanya atau mengambil kesempatan dan mendekatinya."
"Yah, aku senang kau memilih yang kedua," kata Julian. "dan aku yakin Castello juga seperti itu."
...****************...
Tbc