CASTELLO VS JANE

CASTELLO VS JANE
Bab 15



Bab 15


“Mereka mau datang jam berapa?” Terdengar suara Castello dari lorong.


“Kira-kira sepuluh menit lagi.” Aku mengeluarkan wine dari kulkas dan menuangkannya ke dalam gelas, sebelum mencatat nilai kalori yang ada di daftar nutrisi menurut buku dietku. Kedengarannya sangat aneh, tapi inilah aku. Menurutku, cairan tidak mungkin mengandung nilai yang sama denga sebatang cokelat dairy milk. Itu sama sekali tidak masuk akal.


“Kau belum bersiap juga?” aku balik bertanya kepadanya. “Tak usah terlalu repot memikirkan penampilan, kau akan menjadi penggombal ulung nantinya,” lanjutku.


“Aku tahu.” Castello yang muncul dari pintu dapur.


“Kau apakan rambutmu, anyway?” tanyaku.


Bukannya bergaya acak seksii alami seperti sehabis mandi, Castello malah terlihat seperti habis menyiram berliter-liter minyak goreng ke atas kepalanya.


“Ben bilang aku harus mencoba pakai produk ini, kan?” Castello langsung mengulurkan wadah wax rambut miliknya.


Aku mengerang pelan.


“Bukan reaksi seperti itu yang aku harapkan,” ujar Castello setelah melihatku.


Aku lantas menarik tangannya dan membawanya ke kamar tidur.


“Tolong perhatikan baik-baik sebelum mencobanya. Berikan padaku,” ujarku langsung merebut wax ditangannya. “Kau hanya memerlukan secuil ini saja untuk di aplikasikan ke seluruh rambutmu, Castello.”


“Oh, begitu. Pantas saja harganya mahal untuk produk sekecil itu,” ujarnya. “Sepertinya kau tak suka dengan rambut baruku ini, Jane,” lanjutnya.


“Huft,” Aku menghela napasku. “Akhirnya kau paham juga. Selain itu, memang kontak lensamu belum siap, tapi bagaimana lagi. Jika kau mengejutkan Julian dan Erin dengan muncul tanpa mengenakan kacamata, kau akan tampak seperti Tom Cruise.”


“HA ha ha.., kau ini ada-ada saja,” tawanya.”Aku akan tak bisa melihat apa-apa nantinya,” lanjutnya lagi.


“Kau kan memakai kontak lensa, dan kemarin kita sudah memeeriksanya,” ujarku menggelangkan kepala melihat reaksi yang dia berikan.


“Jane, aku hampir buta, kalau aku melepas kacamataku, aku akan cenderung melukai atau bahkan membunuh siapa pun yanng berada dalam radius dua puluh meter dariku.”


“Ha ha ha, setidaknya kau saat ini sudah oke untuk gaya berpakaianmu. Dan itu sebuah kemajuan untukmu,” ujarku kemudian.


“Syukurlah kalau begitu,” sahut Castello senang.


“Sekarang pergilah untuk keramas lagi sampai rambutmu bersih dari minyak jelantah itu. Lalu lakukan apa yang telah diajarkan oleh Ben terhadapmu,” perintahku.


Castello langsung beranjak pergi dan kembali menuju kamar sebelahnya.


“Hei, kau mau ke mana?” tanyaku lagi saat melihat Castello melangkahkan kaki menuju ke pintu untuk keluar.


“Aku akan mandi di kamarku saja. Agar kau bisa bersiap-siap juga.” Apa yang diucapkan Castello itu memang benar. Aku hanya menganggukkan kepalaku saja walaupun dia tahu ada kamar mandi tamu di apartemenku.


“Baiklah kalau begitu, ingat, sampai rambutmu terlihat seperti habis diusap-usap tangan kekasihmu,” teriakku saat Castello sudah membuka pintu dan berjalan keluar.


...****************...


Dua puluh menit kemudian, Julian dan Erin datang ke apartemenku. Erin masih mondar-mandir di depan kamarku sedangkan Julian sudah berdiri tepat di depan kamar memencet bel. Aku kemudian berlari kecil untuk membukakan pintu itu.


“Masuklah. Ada apa dengan Erin?” tanyaku.


“Dia sedang menikmati rokoknya. Sebentar lagi akan selesai kurasa,” sahut Julian.


Benar saja tak lama Erin menyusul mereka yang masih ada di depan pintu, seolah-olah aku lupa untuk mengajak mereka masuk ke dalam kamarku.


“Masuklah kalian,” ajakku kemudian.


“Maafkan aku. Aku tadi merokok dulu. Aku tidak mau merokok di dalam rumah orang lain,” jelas Erin.


“Aku kira kau sudah berhenti dengan kegiatan yang satu itu,” kataku.


“Iya. Itu dulu. Aku sempat berhenti tapi nyatanya aku tak bisa berhenti dengan sempurna. Aku tak berhasil.”


“Bagaimana pendapat Daddy tentangmu yang merokok ini?” tanya Julian.


“Ya, seharusnya begitu. Tapi apa pun kekuranganmu harusnya Gary akan mencintaimu,” ujarku.


“Yeah, kurasa begitu.” Erin tersenyum.


Begitu Julian dan Erin masuk ke ruang tengah, aku menuangkan wine untuk mereka, memanaskan pizza di oven dan menyetel lagu di iPod secara acak dan bergabung dengan mereka.


“Apa yang terjadi setelah kami pergi tadi siang? Aku sudah tidak sabar ingin melihat rambut Castello dengan penampilan barunya,” ujar Julian dengan bersemangat.


“Dan kacamata barunya,” tambah Erin.


“Jangan-jangan nanti ada segerombolan wanita yang heboh mengetuk pintu apartemennya,” ujar Julian bercanda.


Aku terdiam sambil berpikir bagaimana cara untuk memberitahukan kepada mereka. “Ini tak semudah yang kalian bayangkan dan tak sebanding dengan apa yang kita bayangkan.”


“Apakah ada yang salah?” Julian menyipitkan kedua matanya.


“Tidak ada yang salah sebenarnya, hanya saja.., ini bukanlah hal yang biasa bagi Castello,” sahutku lagi.


“Bagus kau mengatakan yang sejujurnya saja, Jane,” pinta Julan lagi.


“Apa maksudmu, Jane?” tanya Erin kemudian.


Aku pun mendesah dengan napas yang panjang, “Kurasa Castello belum terbiasa dengan penampilan barunya.”


“Bagaimana dengan pekerjaan Ben? Bagus, kan?”


“Iya, itu sangat bagus, tapi sepertinya Castello kurang memahami apa yang diajarkan oleh Ben. Dia masih harus berlatih untuk menata rambutnya,” sahutku lagi.


“Untuk kacamata?” tanya Erin.


“Tidak ada kacamata. Karena semua itu tidak cocok untuknya. Entahlah yang paling mahal sekali pun.”


“Kau serius?”


Aku pun menganggukkan kepalaku. “Tapi itu bukan permasalahannya, karena ia lagi memesan kontak lensa.”


“Oh.., begitu juga boleh,” ujar Julian.


“Tapi sungguh kalian jangan berharap bahwa malam ini dia berpenampilan seperti Daniel Craig yang muncul secara tiba-tiba. Aku takut kalian akan kecewa.”


“Jangan terlalu berharap. Kami paham apa maksudmu,” tukas Julian.


Ting Tong


Bunyi bel berbunyi yang menandakan seseorang telah datang di balik pintu. Aku segera berlari dan membukakan pintu untuk mempersilakan tamu masuk.


“Selamat malam nona-nona. Ada yang mau menambah minumanya?” ujarnya langsung menuju ke arah Julian dan Erin. Aku yang di balik pintu pun teramat terkejut dengan penampilan Castello malam ini.


“Bloody Mary!” Julian berseru. Erin menutupi mulutnya yang menganga dengan tangannya.


Dengan cepat Castello membereskan rambutnya bahkan terlihat lebih baik daripada waktu keluar dari salon dan ia telah melepaskan kacamatanya untuk sementara. Ini adalah yang pertama kalinya aku melihat Castello seperti itu. Aku pun harus mengakui bahwa dia terlihat memesona.


Castello langsung berjalan ke arah Julian dan menuangkan wine ke dalam gelasnya, berpura-pura tak melihat rahang Julian yang terbuka lebar sampai ke lantai.


“Kalian berdua terlihat cantik malam ini,” ujar Castello sambil tersenyum dengan ringan. Aku terkikik geli saat melihatnya.


“Apakah ini sungguhan dirimu, Castello?” tanya Julian menatap Castello. “Kau terlihat memesona,” lanjutnya lagi.


“Terima kasih atas pujiannya, Nona Julian,” kata Castello. Aku tahu ia sangat girang mendengar pujian itu, tapi ia tetap bisa menutupi kegirangannya dengan tenang seakan orang-orang sudah biasa memuji dirinya.


...****************...


tbc