
Bab 74
Dalam keadaan normal aku merupakan seorang pengemudi seperti nenek-nenek kalau aku sedang di belakang kemudi, dengan keras kepala tidak mau melampaui batas kecepatan, bahkan sering di bawahnya.
Tetapi kini dengan jarum spedometerku menyentuh 120 kilometer per jam, aku melaju di jalan tol, meninggalkan Nissan Micra, dua kendaraan angkut kelas berat, dan enam gerbong karavan jauh di belakangku.
Jantungku jumpalitan di dalam dadaku, sementara ribuan adegan film berkelebat di benakku. Dua kekasih menghambur mendekat dengan lengan terbuka. Kepala-kepala berpaling. Ciumman yang berlangsung selamanya....
Aku menurunkan kecepatan dan menikung ke jalan alternatif.
Masalahnya, pertemuan kembali tersebut tidak langsung terjadi. Pertama, ada Erin. Tidak peduli Erin menaruh hati pada Darren atau tidak, tetapi tetap ada etika yang harus dipenuhi. Sebutlah aku kuno dan norak, tetapi menyatakan cinta kepada pacar seseorang sangatlah tidak etis. Padahal itulah tepatnya yang akan kulakukan dengan segala risikonya.
Setelah itu tentunya si pria itu sendiri. Apa pun kata Mami dan Julian, apa pun yang ingin kupercaya satu-satunya bukti nyata bahwa Castello mencintaiku jika ia menyatakannya sendiri kepadaku. Selama ini tidak berkata apa-apa dan kenyataan itu membuatku kurang percaya diri.
Meskipun demikian, ada satu hal yang tidak dapat kubantah, yakni ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut lagi. Aku tidak boleh menunda-nunda lagi, ragu-ragu lagi. Apa pun yang terjadi hari ini, Castello harus tahu perasaanku yang sesungguhnya...
"Oh, Tuhaan," aku terengah. "Oh, Tuhaaan."
Aku melaju di depan tulisan "Keluar" di papan Bandara Manchester. Dan artinya aku melewati pintu keluar Bandara Manchester. Dan artinya... aku tidak akan berhasil.
Sambil mengeluh frustrasi, aku memukuli kemudi dengan kepalan tanganku.
"Kau memang bodoh! Bodoh, Jane!!" tukasku, sementara air mata putus asa mengaburkan pandanganku. "Dasar bodoh, dungu!" Aku mengerling ke jendela samping dan para penumpang di Fiat Punto itu menatapku seakan-akan mereka mencurigaiku sedang kecanduan narkoba.
"Aku memang bodooh, tolool!" seruku. Mereka kelihatan semakin khawatir.
Lima menit aku mengumpat-umpat keras, dengan panik mencari pintu keluar yang berikutnya. Begitu ketemu. aku menikung ke situ, memotong jalur pengemudi di depanku dan menerobos lampu lalu lintas di tikungan. Terengah-engah dan berkeringat dingin. Aku melihat jam.
Satu jam lagi mengudara. Aku masih punya waktu. Lampu lalu lintas berganti hijau dan aku menginjak pedal gas dalam-dalam, berpacu di putaran sampai aku kembali ke jalur mobil lagi, kembali ke bandara.
Pikiranku penuh sesak, tetapi aku tidak boleh salah jalan lagi. Aku mempercepat laju mobilku di sepanjang jalan bertuliskan "Keberangkatan". Aku meninggalkan mobilku di luar pintu "Keberangkatan", membiarkan lampu hazard tetap menyala, dan para calon penumpang memandangku dengan tidak senang selagi mereka berkutat dengan barang- barang bawaan mereka.
Aku melompati pembatas di anjungan keberangkatan, mendorong serombongan remaja yang mengenakan kaos Ripley Junior Swimming Team, dan menyikut sekelompok orang yang berkumpul di depan papan informasi penerbangan.
Pemberhentian pertama perjalanan Castello adalah Madrid dan, sewaktu aku membaca papan informasi, harapanku bersemi ketika aku melihat ada penundaan. Kalau Castello termasuk salah satu penumpangnya, aku masih bisa menyusulnya. Kemudian aku melihat tulisan "CFKHH" ke Madrid-konter check in nomor 31.
Aku berlari ke konter itu dan berhadapan dengan antrean panjang. Aku mengamati dari depan, memperhatikan wajah para pengantre. Tetapi setelah lima menit berlarian ke depan dan ke belakang dan tidak mengenali seorang pun aku terpaksa menerima kenyataan bahwa Castello dan Erin tidak ada di situ.
Kemudian aku mendapat ide. Aku menyela di depan, dengan mengabaikan tatapan orang-orang yang nyata-nyata memancarkan ketidaksenangan.
"Maaf, maaf, ini urusan mati dan hidupnya seseorang. Sungguh."
"Aku sudah sering mendengar yang semacam itu," komentar seorang pria di depan. "Silakan duluan.
Di konter check-in, aku disapa seorang wanita berwajah masam dan berambut pirang.
"Paspor," perintahnya sembari mengetik sesuatu di komputernya.
"Tidak bawa."
Wanita itu mengulurkan tangan ke meja, menolak bertatapan, dan meraba-raba dengan tangannya.
Wanita itu mendongak. "Paspor," ulangnya masam.
"Tidak bawa," kataku lagi.
Ia memberengut seakan-akan aku adalah kasus terburuk yang dihadapinya sepanjang tahun itu. "Apa?"
"Anda ingin terbang ke Madrid, tapi Anda tidak membawa paspor?"
"Sebetulnya saya tidak ingin terbang ke Madrid. Saya hanya ingin tahu apakah teman saya sudah check-in..."
"Di mana tiketnya?" ia menyela.
"Saya tidak punya sebab saya tidak..."
"Nomor referensi e-ticket?"
"Tidak ada. Begini, saya tidak hendak terbang."
"Anda mau terbang ke Madrid, tapi tidak membawa paspor ataupun tiket ataupun nomor referensi e-ticket?" tanya petugas itu heran.
"Saya tidak mau terbang ke Madrid!" aku menjerit.
Petugas itu menatapku, terkejut. "Kalau Anda berbicara dengan nada seperti itu, saya akan memanggil sekuriti. Bandara ini punya aturan ketat tentang penghinaan... lisan ataupun fisik... terhadap petugas. Lihat itu."
Wanita, itu menunjuk papan pengumuman di atas kepalanya yang berbunyi, "Bandara ini memberlakukan peraturan ketat tentang penghinaan Lisan ataupun fisik- terhadap staf."
"Maaf," ujarku sembari menyembunyikan rasa frustasiku. "Saya tidak mau terbang ke Madrid, tetapi pria yang saya cintai akan terbang ke sana. Saya hanya ingin memastikan dia sudah check-in atau belum. Kalau sudah, berarti hidup saya akan hancur. Tapi kalau belum, saya bisa menyusulnya dan menyatakan cinta saya."
Wanita itu menatapku, termangu. "Mari kita luruskan. Anda tidak ingin pergi ke Madrid?"
Aku berusaha untuk tetap tenang. "Benar."
"Anda hanya ingin tahu seorang penumpang sudah check-in atau belum?"
Akhirnya. "Benar."
Wanita itu berbalik dan mulai mengetik sesuatu di komputernya. Akhirnya ia kembali memandangku. "Saya tidak berhak memberi keterangan."
"Apa?"
"Saya tidak berhak..."
"Saya sudah mendengarnya tadi... tapi mengapa?"
"Perlindungan data. Terorisme."
"Apakah saya kelihatan seperti *******?" tukasku "Memangnya bagaimana tampang *******?" Aku berdiri termangu, tidak tahu harus bagaimana.
"Tolonglah," bisikku. "Tolong beritahu saya. Kalau Anda pernah mencintai seseorang, Anda akan mengerti mengapa saya ingin tahu. Kumohon. Namanya Castello."
Wanita itu menatap mataku. Kemudian kembali ke komputernya. Ia membungkuk ke arahku, wajahnya sekeras siput. "Kalau Anda membocorkannya kepada seseorang...." desisnya.
"Saya bersumpah." jawabku, memutuskan menjadikannya sahabat baruku. Wanita itu kembali ke komputernya dan mengetik sesuatu lagi. "Dia sudah pergi," katanya. "Maaf"
Aku langsung tertunduk lesu mendengar kenyataan bahwa Castello sudah pergi bersama dengan Erin. Ini sangat bahaya. Tapi aku tak putus asa di sana, aku yakin dia belum pergi, karena di informasi detail penerbangan ke Madrid mengalami penundaan.
...****************...
Tbc