CASTELLO VS JANE

CASTELLO VS JANE
Bab 8



BAB 8


“Aku yakin kita akan berhasil dengan proyek yang kita buat ini. Julian pasti bisa membantumu. Dia kan sangat jago dalam menggombal.”


“Kau sungguh-sungguh? Aku pernah melihat Julian sedang merayu, dia sungguh mirip seekor singa betina yang kelaparan.”


“Justru karena itu,” tegasku. “ Dan pernah lihat Julian menjadi seorang juru belanja pribadi sebelum mendapat pekerjaannya yang sekarang. Dia pasti bisa menyulapmu menjadi seperti Tom Cruise.”


Aku terdiam sejenak untuk mengambil napas, sementara itu wajah Castello justru terlihat semakin aneh.


“Maaf kalau tadi aku agak berlebihan,” kataku dengan pelan.


Beberapa saat suasana berubah sunyi.


“Tidak mengapa, Jane,” ucapnya itu sungguh di luar dugaanku. “Kau memang benar.”


“Sungguh?”


“Sungguh. Aku tidak mau menghabiskan sepanjang hidupku sebagai seorang pecundang atau sebagai kawanmu yang selalu jomblo. Maksudhku, kau kan tak mungkin akan menemaniku sepanjang hidupmu.”


“Apa maksud dengan ucapanmu itu Castello?”


“Cepat atau lambat, kau akan menikah dan berkeluarga dengan seseorang. Mungkin juga orangnya, siapa namanya itu? Oh, Jack.”


Kini aku mengerutkan dahiku ke atas.


“Pasangan kencanmu Jumat nanti.”


“Kau akan menjadi sahabatku, Castello. Selamanya. Oke!”


“Baguslah. Tapi aku juag ingin bercinta dengan wanita.”


Jika kau bisa membayangkan wajahnya Castello saat ini, sungguh kau akan terpingkal-pingkal. Wajahnya sungguh seperti orang yang memohon dan menampakkan wajah bodoh*h. Ups.., maafkan aku, kawan!


Aku terbahak. “Kau ini berkata seolah-olah perjaka saja. Bagaimana hubunganmu dengan Sharen?” lalu siapa nama pacarmu yang di universitas dulu? Sungguh aku lupa, ha ha ha...,”


“Karen Widow.”


“Itu dia.”


Castello menatapku dengan pandangan yang menusuk. “Yang pertama berjalan sangat singkat, dan yang kedua bagaikan sebuah kekeliriuan besar. Seorang Casanova bisa menangis mendengarnya.”


“Aku paham. Aku paham. Jadi, apa kau setuju dnegan rencana yang kita buat?”


Castello menarik napasnya dengan berat, “Ya, ku rasa begitu.”


Sesampainya di dapur, aku harus menggigit kepalan tanganku agar pekikan gembiraku tak sampai terdengar oleh Castello. Sampai kemarin saja aku tak akan percaya kalau Castello mau menjalani sebuah rencana untuk merubah dirinya ini. Aku akan mewujudkannya menjadi kenyataan yang nyata. Aku akan memastikan sahabatku itu tak berlama-lama untuk melajang.


Castello beranjak dari duduknya dan berteriak untuk pindah ke kamarnya.


...****************...


Aku begitu bersemangat dengan rencana yang telah dibuat semalam. Sampai-sampai aku nyaris untuk membatalkan kencanku dengan Jack malam ini hanya demi memulainya lebih cepat.


Tapi Julian sedang keluar untuk berkencan dengan seorang pria tua kaya yang sering ditemuinya belakangan ini, sementara Erin dan pacarnya Gary sedang menonton bioskop. Lagi pula, kami tidak mungkin memulainya dengan baik pada jumat malam. Kami akan memulai berbelanja dan mengubah Castello besok.


Aku pun tetap pada rencanaku semua dan prgi ke bar yang agak kumuh tapi masih keren, tempat Jack dan aku bertemu janji. Melihat betapa seksi sosoknya ketika berjalan masuk ke dalam bar, aku pun tahu bahwa keputusanku memang tepat.


“Hi, kau sungguh cantik malam ini. Apa kabar Jane?” Jake tersenyum sambul menghampiriku di bar.


Jake adalah dosen pengajar mata kuliah seni theater, jadi dia bisa ku jadikan objek untuk memandang wajahnya dan tubuhnya sepanjang hari. Apakah aku terlihat mesum? Ha ha ha, kau terlalu jujur dengan itu. Saat ini, Jack mengenakan celana Jeans, sepatu vintage, dan kau s yang memperlihatkan otot bisepnya yang kekar itu. Sungguh seksi bukan?


Aku bersolek dengan gaya yang santai, seolah-olah aku mengambil bajuku dengan semabrangan dari tumpukan pertama di lemariku, sebuah jins ketat dengan blus katun india dan sepatu bot tinggi. Hanya seolah-olah, sebab kenyataannya aku menghabiskan tiga kali waktu makan siangku untuk menjelajah setiap butik yang ada di kota demi menemukan semua barang yang kuperlukan.


Kami bertemu minggu lalu saat aku sedang mengangani liputan media seputar drama abru di Circle. Jack sedang berkunjung malam itu dengan para mahasiswa.


Obrolan pun dimulai dengan membahas pertemukan kami waktu itu. Sedikit membosankan karena aku sebenarnya tidak terlalu ahli dalam hal kesenian. Dan jujur saja aku tidak tahu apa cerita di balik drama yang kemarin itu. Walaupun aku menontonnya sebanyak tiga kali.


Aku pun duduk bersandar dan mengamati ekspresi wajah Jack. Dia cukup puas dan terkesan dengan pendapatku selama ini.


“Kau benar sekali. Selain dengan penjelasanmu itu, masih ada lagi tragedi terputusnya hubungan antar manusia yang berkelanjutan dan bagaimana hal tersebut mampu mempengaruhi dunia yang berjalan dalam dua puluh empat jam ini,” ucapnya.


Aku hanya menanggapinya dengan deheman yang tenang.


“Tentu saja, segalanya begitu simpang siur.” Jack tertawa.


“Pastinya,” tegasku sambil berharap agar ia segera mengubah topik pembicaraan.


Obrolan itu berlanjut dan aku sangat tidak ingin memperpanjang topik yang tak ku mengerti.


“Maaf, permisi sebentar.. aku harus ke kamar kecil,” ujarku.


Aku pun berjalan meninggalkan Jack sendirian di sana untuk sementara.


...****************...


tbc