CASTELLO VS JANE

CASTELLO VS JANE
Bab 33



Bab 33


“Ada apa dengan mereka? Apa ada yang lucu dari ucapanku di atas panggung itu?” tanyaku di luputi wajah sedih bercampur bingung, heran.


“Apa kau tak sadar dengan apa yang kau katakan barusan?” Castello tampak terkejut.


“Apa?”


Ia bergeser dari kursinya dan menyorongkan badannya untuk membisikkan sesuatu. “Jane, kau menjuluki bosmu sebagai Roger P****.”


Aku langsung berkilah dan menggelengkan kepalaku. “Tidak. Aku menyebut namanya dengan benar.”


Castello mendesis dan menggelengkan kepalanya pelan, “Bukan, Peaman tapi P****.”


Aku mengulangi dan meyakinkan bahwa yang aku sebutkan itu sudah benar dan itu adalah namanya. Seketika itu juga Castello menjelaskan kepada diriku. Aku tetap pada pendirianku, sampai-sampai aku mati rasa dan tak bisa merasakannya.


“Tidak,” aku berteriak parau. “Tidak mungkin! Itu mustahil.”


Castello meletakkan tangannya ke lenganku lalu aku mendongak dan melihat Roger, Bosku, telah kembali ke tengah-tengah acara. Sambil memegang penghargaan itu, aku tersenyum kepadanya. Sungguh aku kesulitan untuk menunjukkan kemenangan yang baru diraih. Namun air mukanya menyiratkan kalau ia sedang tidak merasa bahagia.


“Roger, aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Aku benar-benar menyesal.”


Roger meneguk wine nya lagi.


“Sudahlah. Lupakan saja.” Nada bicaranya tidak menunjukkan apakah ia hendak memaafkan aku atau ia bahkan ingin membunuhku dengan cara tubuhku dikubur di bawah lemari kantor. “Kita bicarakn besok di kantor,” lanjutnya.


“Kau takkan mendepakku, kan?” Oh, Tuhan, Roger, kumohon jangan pecat aku. Aku memohon denganmu sangat-sangat dan aku mencintai pekerjaanku ini. Mencintai perusahaan ini. Aku akan melakukan apa pun. Apa pun....”


“Jane. Kumohon, hentikan.”


Dan ternyata memang Roger sedang menerima telepon dari seseorang yang penting. Itu dari panti di mana ibunya berada saat ini. Akhir-akhir ini ibunya mengalami perubahan yang aneh dan Roger tak mau membiarkannya begitu saja. Hal terkecil yang diinginkan ibunya, Roger pasti akan mengabulkannya walaupun hanya meminta membawakan baju tidur dari H&M.


“Tenanglah, Jane. Aku tak akan memecatmu. Untung bagi klien-klien yang kau miliki akan mengeluh kalau aku melakukan hal itu,” cetusnya. “Dan tentunya mereka akan terkesan karena direktur perusahaan humas mereka sudah berubah nama menjadi P****.”


“Oh, My. Maafkan aku,” ulangku dengan wajah memelas.


Castello muncul disampingku.Roger langsung mengisyaratkan untuk membawaku pergi dari acara itu dan mengantarkanku pulang. Aku benar-benar terlihat kacau.


Tanpa basa-basi, Castello langsung menarikku untuk berdiri. “Mungkin sudah saatnya untuk kita pergi, Jane,” ujarnya lirih.”Julian bilang akan menemuimu besok pagi. Salah satu kliennya memaksa mengajak pergi ke klub, tapi dia bilang tak usah khawatir. Kita pergi saja, ya, lalu naik taksi,.” Castello berusaha membujukku.


Aku pun mengangguk pelan dengan perasaan yang teramat kalut. “Aku perlu ke kamar kecil dulu, Cast.”


Aku pun berjalan di mana kamar kecil berada. Aku menatap wajahku di depan cermin toilet dan bersedih di sana untuk beberapa saat. Aku tak kuasa melangkahkan kakiku untuk keluar. Rasanya sangat malu sekali. Ketika aku keluar, aku melihat Racel, wanita yang duduk di samping Castello dan berbicara kepadanya, sedang memperbaiki riasannya di depan cermin toilet.


“Kau tak apa-apa, kan?” tanyanya saat melihat dari pantulan cermin ke arah mataku yang sudah sembab habis menangis.


Aku mengangguk, “Aku masih berharap aku takkan dipecat dan semuanya akan kembali normal lagi.”


“Tenang saja, Jane. Kalau aku berada di posisimu, aku tak akan mencemaskan hal itu. Karena semuanya sudah mabuk... jadi mereka tak akan mengingat hal itu,” katanya kepadaku sambil menyapukan maskra di bulu matanya yang lentik.


“Terima kasih, Racel.” Aku memaksakan untuk tersenyum.


...****************...


tbc