CASTELLO VS JANE

CASTELLO VS JANE
Bab 37



Bab 37


"Jadi intinya, aku membutuhkan seseorang untuk membantuku di salah satu klien yang membutuhkanku," aku menyimpulkan. "Pertanyaannya adalah... siapa yang dapat membantuku?"


"Kau harus pegang the games one," Roger memutuska "Dia klien yang lebih penting dan akan ada media nasional yang meliput."


"The games one" adalah peluncuran video game baru di Inggris yang dibuat di Liverpool. Permainan ini telah diadopsi oleh salah satu perusahaan video game paling masyhur sedunia dan pada akhirnya nanti akan disebarkan ke seluruh dunia. Karena kota ini dipilih untuk melaksanakan fase pertama peluncuran, mereka membutuhkan sebuah organisasi yang memiliki koneksi lokal untuk membantu menyatukan dan mengenalkan produk mereka.


"Aku paham maksudmu, hanya saja yang aku khawatirkan adalah rumah sakit yang sudah menjadi klien besar kita dan sudah bertahan lama," tuturku.


"Mereka juga sangat ingin bisa segera memunculkan profil kepala eksekutif yang baru, jadi sangat penting sekali agar kita bisa membujuk kru TV mewawancarai wanita itu. Ditambah lagi, dengan adanya kepala yang baru ditempatkan ini, kita harus semakin memantapkan keberadaan kita sebagai agensi utama mereka," lanjutku lagi.


"Tapi tugas yang itu lebih mudah."


Aku mengangguk dengan enggan, tak yakin, tapi tak punya usul lain. Siapa pun yang mendapatkan tugas rumah sakit ini haruslah seorang yang andal.


"Serahkan urusan rumah sakit itu ke Drew saja," kata Roger seraya berbalik ke komputernya.


Aku mendengar suara napas tercekat dan baru sadar kalau ternyata itu suaraku.


"Maaf?"


Roger mendongak lagi, "Ayolah, Jane. Drew itu seorang account manager. Dia pasti lebih dari sekadar bisa."


Aku menggigit bibirku dan mengangguk pasrah. Drew harus lebih dari sekadar bisa. Aku belum pernah bisa menemukan alasan kenapa Roger tak dapat melihat kelemahan Drew. Tidak, sebenarnya sudah, karena Roger adalah bos yang hebat dari berbagai segi namun ia belum melihat ke bawah secara keseluruhan. Selama perusahaan mencapai target, ia selalu merasa puas. Hal ini sebenarnya bagus, namun di saat-saat seperti ini aku tidak bisa tidak merasa jengkel. Roger sama sekali tak menyadari kalau salah satu klien hampir saja memutuskan kontrak kerja dan tidak memakai kami lagi karena kinerja Drew yang buruk sekali. Di satu sisi aku ingin Roger mengetahui hal ini demi kebaikan perusahaan, namun di sisi lain aku merasa hanya akan membicarakan keburukan orang lain. Lagi pula, seseorang yang sedang berada di dalam rumah kaca tidak boleh melempar batu kepada orang lain.


"Baiklah," jawabku tak ingin membantah. "Drew."


Roger menganggukkan kepalanya dan langsung berpaling, hingga membuatku menerka-nerka bahasa tubuhnya lagi.


"Semoga hanya itu, Jane. Aku masih punya banyak pekerjaan hari ini," kata Roger dengan ketus.


"Tentu, Roger," jawabku seraya berjalan membelakangi pintu. "Emm... Bagaimana kalau semua ini sudah selesai, kita jadi makan siang seperti yang sudah kita rencanakan?"


Ia bergeser sedikit di kursinya. "Bisa. Tapi sekarang aku masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini juga."


Aku pun mengendap-endap meninggalkan kantornya. Di kepalaku, tak bisa berhenti membayangkan akankah hubunganku dengan bos ku sendiri akan kembali seperti dulu lagi.


...****************...


Setiap kali ponselku berbunyi, aku nyaris terlonjak dari kursiku seperri ada kawat listrik yang berhasil mengejutkanku secara tiba-tiba. Kali ini, aku mengobrak-abrik tasku, lagi-lagi berdoa semoga Paul yang mengirim pesan sehingga ada sesuatu yang membuatku ceria pagi ini.


Ketika aku melihat layar ponselku, ternyata dari Castello. Rasa kecewa yang menusuk-nusuk pun kurasakan sampai ke sumsum tulang.


Semoga sudah lbh baik, n jgn lupa, pidatomu itu minimal tak terlupakan. Cast!


Meski begitu aku tetap tersenyum. Aku merasa hancur tapi aku bersyukur masih punya seorang sahabat di dalam diri Castello, sementara itu aku jelas belum mendapatkan seorang pacar dalam diri Paul.


"Kudengar aku masuk ke tim untuk membantu," seru Drew yang meluncur ke kursinya dan melakukan gerakan untuk mendaratkan tangannya di tempat ia biasa meletakkannya, yaitu di antara pahanya. "Tidak bisa mengatasinya sendirian, ya?"


"Tidak masalah." Drew mengangkat bahunya. "Oh, aku mendengar tentang pidatomu semalam. Sayang aku tidak di sana. Kau sekarang jadi berita utama, lho."


Temperatur darahku mulai naik dan berhenti sedikit di bawah titik didih Lithium.


"Bagaimana dengan Mr. Curtez?" imbuhnya. "Dia salah satu klien favoritku."


Aku bergetar. "Oh, ya? Apa kalian bertemu di sekolah kepribadian?"


"Aku yang mengusulkan ke Lily untuk mengatur tempat dudukmu di sebelahnya." Ia menyeringai. "Aku membayangkan kalian berdua akan seperti rumah kebakaran." Drew seraya tersenyum saat mengatakan hal itu.


"Oh, jadi begitu?" Aku berusaha menutup mulut tapi amat sangat susah kecuali aku mengalami sakit gigi.


"Hei, semua! Kurasa tak boleh ada koran hari ini."


Aku mendongak dan kulihat Lily menambah dosis semprotan pencokelat kulitnya sampai-sampai warnanya secokelat biji salak.


"Kau tampak sangat sehat, Lily," kata Drew seraya meletakkan kedua tangannya ke belakang kepalanya sambil memandang Lily dari atas ke bawah penuh apresiasi.


Lily terkikik. "Aku takkan bisa bohong dengan mengatakan aku habis dari Barbados, kan? Aku baru dari Fake Bake." Ia berbisik kepadaku. "Tahu tidak, Jane, aku merekomendasikan salon di Whitechapel itu... perawatannya bagus dan menyeluruh. Tidak seperti tempat yang baru kudatangi. Pulang-pulang aku mirip Wednesday Addams. Sialan."


Memang selama tujuh tahun aku kenal Lily belum pernah kulihat kulitnya sedikit lebih terang, selalu cokelat kemerahan seperti itu.


"Cocok untukmu." Drew menyeringai. "Tapi aku tak bisa menemukan apa pun yang tidak cocok denganmu." Lily semakin terkikik kegirangan mendengarkan itu.


"Kau tahu," lanjut Drew, "Aku kesal sekali hari itu karena tak bertemu denganmu di Dog and Whistle sepulang kerja, Lily. Bagaimana mungkin aku bisa merayumu kalau kita tak pernah pergi minum?"


"Dog and Whistle bukan seleraku," sahut Lily menyesal.


"Oh, ya?" ujar Drew. "Ke kuis pub malam juga tidak? Bergabunglah dengan kelompokku, Lily, aku akan menunjukkan kepadamu rasanya menjadi pemenang seumur hidup. Aku pernah bilang belum kalau aku anggota tim pemenang kompetisi Kuis Pub Tahun Ini untuk wilayah Northwest selama tiga tahun berturut-turut?"


"Sepuluh menit yang lalu belum," gumamku.


"Kau pernah menceritakannya," kata Lily tampak terkesan. "Aku ingin berotak encer seperti itu."


"Aku kan belajar di sekolah favorit," tukas Drew.


"Beruntung sekali kau," Lily berkata sambil membayangkan. "Jujur saja, aku tak pernah pintar dalam masalah akademik."


"Bukan masalah, Lily," Drew menatap ke dada Lily "Kau punya kelebihan-kelebihan yang lain, itu pasti," tukasnya jujur.


Drew memang memendam rasa kepada Lily makanya dari itu dia selalu tergoda dengan Lily.


...****************...


Tbc