CASTELLO VS JANE

CASTELLO VS JANE
Bab 39



Bab 39


Sudah lebih dari satu minggu semenjak terakhir kali kudengar kabar dari Paul dan sepertinya sudah tampak jelas kalau hubungan kesekian yang sedang kujajaki ini rusak tercampakkan di dalam tempat sampah emosiku. Tak ada kabar berita dari dirinya sedikit pun sejak saat itu.


Kepercayaan diriku jadi ikut hancur. Sejak kapan aku berubah tak menarik? Aku yakin aku tak pernah tidak menarik. Ironisnya, dietku, kecuali es krim cokelat itu, berjalan dengan sangat cemerlang. Kalau aku berdiri di atas timbangan di titik tertentu dengan satu kaki dan agak condong ke kiri aku setidaknya sudah menghilangkan kira-kira dua setengah kilogram, apalagi kalau aku menimbang badan sehabis dari toilet.


"Jane, kau bukannya tidak menarik. Malah sebaliknya, kau sangat cantik," Julian memberitahuku ketika aku menelepon dirinya dalam perjalanan pulang dari kantor. Memang seharian aku bersamanya di kantor, tapi percakapan seperti ini bukanlah konsumsi teman-teman sekantor.


"Beberapa pria memang tidak menyadari kebaikan wanita kalau tidak dihantamkan ke muka mereka," lanjut Julian menyadarkan.


"Aku belum pernah mencoba menghantam muka mereka, Julian," ucapku agak kesal.


"Aku tidak menyuruhmu begitu." Julian tertawa. "Tap serius, kau tidak boleh menyalahkan dirimu sendiri karena hal ini. Maksudku, kali ini kau harus bersikap tenang."


"Emm..." Aku hanya bergumam.


"Apa maksudmu, emm...?"


"Maksudku, iya," jawabku mantap. "Sikapku sudah sedingin es."


"Jadi, kau tak meneleponnya lagi?" tanya Julian memastikan.


"Umm..."


"Jane! Berapa kali?"


"Dua belas kali," jawabku malu-malu. "Mungkin tiga belas. Aku lupa."


"Ya, ampun," seru Julian kaget. "Kuharap kau melaku kannya sebanyak 1571 kali lagi," usul Julian.


"Aku mungkin putus asa, tapi aku tidak bodoh."


"Kau tidak putus asa," tukas Julian.


"Yah, kau benar." Aku memukulkan kepalan tangan ke gagang kemudi mobilku. "Oh Tuhan, kuharap kau benar. Aku tak mau putus asa, dan jujur saja memang tidak. Kedengarannya amat menyedihkan. Tapi aku bohong kalau aku bilang aku tidak khawatir. Bagaimana mungkin tidak? Kalau keadaannya sudah begini, aku baru bisa membuat rencana pencarian sasaran baru ketika aku masuk masa menopause."


"Dengar nasihatku, Jane! lupakan Paul! Kalau dia tidak bisa melihat kecantikan dan kecerdasan di dalam diri seorang wanita seperti dirimu, artinya dia tidak cocok denganmu," tegas Julian.


Aku mengangguk, yakin untuk merasa lebih yakin. "Kau benar. Bila seorang pria membiarkanmu menunggu saat janjian kencan lalu bahkan tidak sempat meneleponmu sampai lebih dari satu minggu..."


"Maka dia adalah pemegang gelar pria yang paling brrengsek," Julian menyelesaikan kalimatku yang terpotong.


"Yah, kurang lebih seperti itu," Aku menyetujui. "Bahkan bila dia mengemis-ngemis untuk berkencan denganku setelah semua ini, aku takkan mau. Tak akan pernah mau!"


"Anak baik," kata Julian, seperti sedang mengajari anak kucing yang baru bisa makan.


"Kau benar... Thanks, Jul. Jadi, sekarang kau di mana dan akan pergi ke mana dengan kencan seksimu itu?" tanyaku.


Semenjak bertemu dengan Justin, Julian terkadang kurang fokus. Aku sangat mengenal sahabatku ini dan sepertinya ia sedang benar-benar menyukai seseorang seolah-olah dalam sebuah tahap awal hubungan serius dalam sebuah konsep yang sangat asing baginya sama seperti membabat habis jenggot di wajah Sinterklas.


"Kami mungkin memilih untuk tinggal di rumah saja dan santai-santai di depan TV," katanya.


Aku berhenti sejenak untuk meyakinkan diri kalau aku tidak salah dengar. "Tidak biasanya kau begitu."


"Aku tahu," bisiknya, seolah-olah ia pun tak percaya dengan ucapannya sendiri.


Biasanya, ide kencan Julian selalu berupa makan malam mewah hanya berdua, lalu menghabiskan malam yang panas membara itu dengan minum-minum, kemudian menikmati liarnya gairahh asmara mereka setidaknya sampai pagi, sering kali sampai hari berikutnya.


"Apa semuanya akan baik-baik saja?" tanyaku.


Aku menyipitkan mataku. "Jadi, bagaimana dengan Justin?"


"Kau tahulah, dia baik. Sangat baik malah. Dia... aku tak tahu bagaimana mengatakannya. Dia baik sekali."


Aku nyaris menerjang ke seberang jalan karena kaget. Aku belum pernah mendengar sahabatku, Julian, menggambarkan seorang pria sebagai "baik sekali". Kosakata itu tidak pernah dikenalnya. Kalau "besar sekali", iya. Sering. "Banyak uang", selalu diucapkannya. Tapi "baik sekali?" pasti ada yang tidak beres dengan dirinya saat ini.


"Apa kau benar-benar menyukainya?" tanyaku memastikan.


Hening.


"Aku harus buru-buru... ada orang mengetuk pintu," ujar Julian. "Jangan khawatirkan kehidupan asmaramu, Jane. Kau tak pernah tahu siapa yang bakal kau temui."


Itulah nasehat dari Julian terakhir kalinya saat aku menelepon dirinya. Benar apa yang dikatakan oleh Julian, tidak perlu mengkhawatirkan kehidupan asmara. Kita tidak pernah tahu di masa depan, siapa yang akan menjadi jodoh kita.


...****************...


Saat aku sampai di rumah, aku melemparkan kunci ke meja kecil, lalu berhenti dan tersenyum. Musik klasik terdengar merdu. Hatimu pasti akan meleleh bahkan seluruh penghuni apartemen kalau mendengar ini akan meleleh dan menjadi fans utama untuk Castello. Benar. Castello sedang memainkan piano klasik yang merupakan itu miliknya, dititipkannya di kamarku. Entahlah apa tujuannya. Dengan alasan kamarnya penuh karena banyak lemari buku yang menurutku sudah seperti perpustakaan di film Harry Potter. Sangat penuh.


Ketika aku diam-diam mendorong pintu ruang tamu, Castello benar-benar sedang terhanyut dengan permainannya. Aku berdiri untuk mengamatinya, suka cita menjalariku. Merasakan kehadiranku, Castello berhenti lalu menoleh.


"Hei, Jane, aku tak melihatmu di situ," tegurnya.


"Jangan berhenti karena aku. Apa yang kau mainkan?" tanyaku mendekat.


"Debusty, Claire de Lune." Ia mulai lagi. "Kau suka?"


Aku menghempaskan diriku ke sofa. "Indah sekali."


Ia berhenti lagi. "Bagaimana kalau ganti lagu baru."


"Silakan."


Ia memainkan lagu yang lain lagi.


"Justin Timberlake? Castello, kau sungguh genius sekali. Tak seorang pun ditakdirkan hebat dalam segala hal seperti dirimu," ucapku bangga memuji Castello.


"Tidak dalam segalanya." koreksinya. Tak perlu ia menyebutkan apa itu.


"Tapi itu akan segera berubah, kan? Apa kau senang dengan kencan pertamamu?" tanyaku lagi.


"Ya," jawabnya. "Aku senang."


Tiba-tiba, entah mengapa, aku seperti ditikam oleh sebuah perasaan yang tak lain tak bukan pastilah bernama cemburu, aku benci sekali dengan diriku karena semua ini. Cemburu karena Castello bisa berkencan, seperti Julian, akan segera berkencan dengan seseorang yang sangat disukainya, sementara itu aku sedang tercampakkan dan akan menghabiskan waktu sendirian di rumah.


Aku memaksakan diri untuk tersenyum. Castello juga tersenyum lalu kembali ke pianonya, meneruskan alunan Debussy. Aku menyeret diriku meninggalkan sofa menuju ke kamarku untuk mengganti pakaian kerjaku, sambil terus kesal dengan godaan perasaan ini.


Aku tak bisa cemburu begitu kepada Castello, kan? Bagaimana mungkin aku bisa cemburu begitu? Seorang sahabat yang sangat baik dan luar biasa yang akhirnya menemukan wanita yang amat sangat memuja dirinya? Kenapa aku bisa menjadi orang yang sangat egois dan jahat, tidak bisa seratus persen bahagia untuk Castello. Apa karena tak seorang pun menginginkanku? Oh Tuhan, jangan biarkan aku putus asa mengharapkan pria hingga merasa cemburu. Gumaman yang ada di pikiranku menjerit.


Ponselku berdering di dalam tas. Aku langsung mencarinya.


"Jane," kataku


"Jane, ini Paul. Apa kabar?" suara diseberang sana menggema ditelingaku, memanggil namaku.


...****************...


tbc