CASTELLO VS JANE

CASTELLO VS JANE
Bab 25



Bab 25


Darren, James, dan Amanda adalah teman lama semasa kuliah Erin. Tidak seperti diriku yang tidak akrab dengan siapa pun kecuali dengan Castello. Erin benar-benar masih menjaga hubungan pertemanan mereka selama ini, bahkan dengan teman SD-nya juga dia masih menjaga hubungan silaturahmi.


“Oh, bukannya dulu kau naksir dengan Darren?” tanyaku.


“itu sudah berlalu. Lagian sudah sangat lama perasaan itu hilang.” Erin tersenyum mengingat waktu itu. “Kau tahu, aku dulu tergila-gila terhadap dirinya di masa kuliah, tapi tidak terjadi apa-apa. Kami memangsuka main mata satu sama lain, namun aku maupun dia tetap saja pacaran dengan orang lain,” lanjut Erin.


“Jadi, mereka akan pergi ke mana saja?”


“Ke mana-mana. Keliling Eropa itu yang pertama, lalu ke Timur. Tujuannya ingin melihat negeri-negeri lain sebanyak-banyaknya sebelum akhirnyay menetap di Australia setahun kemudian.”


“Wow, itu sangat menakjubkan. Lalu, pekerjaan mereka bagaimana?”


Erina mengangkat bahunya. “Amanda sudah lama bekerja lepas dan yakin bisa tetap melakukan pekerjaannya selama jalan-jalan itu. Yang lain sudah punya banyak tabungan dan bakal bekerja lagi kalau merasa perlu.”


“Menarik. Ku rasa aku sudah tidak tertarik untuk melakukan jalan-jalan begitu. Castello dan aku pernah menghabiskan waktu tiga bulan keliling Eropa dengan mobil VW setelah lulus kuliah dan waktu itu sungguh menajkubkan, tapi sekarang aku sudah terlalu nyaman dengan keadaan begini,” ujarku.


“Aku tahu maksudmu. Tapi harus kuakui aku sedikit irii dengan mereka.” Erin berkata jujur dengan raut wajahnya yang serius. “Sebagian dari diriku mengatakan karena Gary dan aku telah berpisah, aku bisa saja mempertimbangkan hal itu lagi.”


“Tapi, bagaimana dengan rumah serta pekerjaanmu yang berada di sini?”


“Justru itu yang membuat menarik,” ujar Erin.


“Sebenarnya itu bisa saja baik untukmu kalau kau melakukannya. Tapi, jangan membuat alasan hanya karena kau tidak ingin bertemu dengan Gary lagi. Kau tidak melakukan kesalahan apa pun, ingat itu! Bukan kau yang harus melarikan diri dari negeri ini.” Aku sedikit memperingati Erin dengan kejadian putus cintanya.


Erin tampak begitu bersyukur atas perhatian yang kuberikan. “Aku tahu. Setelah pembicaran kita siang tadi, aku tidak ingin kau berpikir bahwa aku tak bisa melupakan Gary. Sebenarnya aku sudah biasa saja. Hanya kadang-kadang kumat lagi. Kau tahu kan maksudku?”


Belum sempat aku menjawab, Julian muncul lagi lalu duduk dengan lunglali di samping Erin.


“Misi sudah terlaksana,” katanyan seraya melihat ke jam tangannya. “Mungkin tinggal sepuluh menit lagi tempat ini akan di tutup, tapi aku akhirnya menemukan seseorang lalu meninggalkannya seorang diri untuk kembali merayu.”


“Bagaimana bisa seperti itu?” tanyaku penasaran.


“Aku menghampiri kelompok gadis di pojokan sana lalu berhasil menarik perhatian salah satunya dengan menyunggingkan senyuman. Aku pun memperkenalkan bermacam-macam gaun. Lalu aku pun mendekat dan memperkenalkan Castello kepada mereka.” Julian menjelaskan secara rinci.


“Dan?” tanya Erin selanjutnya.


“Tak perlu khawatir. Dia sekarang sedang melakukannya.” Julian kelihatan sangat bangga denga dirinya sendiri. “Setidaknya aku berpikir begitu. Oh iya, Pria tampan yang mengobrol denganku itu bernama Justin. Dia pergi karena harus menumpang pesawat besok pagi jadi aku terpaksa keluar untuk memberikan ciumann selamat tinggal.”


“Semudah itu? Yah, aku tahu kau sangat mudah bernafsuu,” ujarku. “Lalu, apa kau yakin dengan Castello akan berjalan mulus dengan gadis-gadis itu?” lanjutku bertanya.


“Kau tahu, aku hanya bisa menjalankan misi ini sampai di situ saja. Dan yang harus dilakukan dengan Castello adalah..,” ucapan Julian terpotong tatkala Castello datang menghampiri.


Aku pun menoleh ke arahnya. “Apa yang terjadi, Cast?”


Castello hanya mengangkat kedua bahunya. “Entahlah.”


“Maksudnya?” tanya Julian sedikit kesal dengan alis yang terangkat sebelah. “Kau mendapatkan nomor teleponnya kan?”


Castello memalingkan kepalanya ke arah samping, malas untuk menjawab pertanyaan dari Julian.


“Cast!”


“Tidak.” Dengan tegas ia menjawab pertanyaan Julian.


“Kenapa?”


“Aku merasa murahan saat melakukan hal itu.”


“Aku tahu itu bukanlah sifatmu untuk mencari wanita, tapi kami mencoba untuk kau terbiasa akan hal ini,” ujar Julian lagi.


“Baiklah, kalian yang ada di sana. Saatnya pulang,” kata penjaga pintu sambil menghampiri meja kami.


Kami dengan enggan berjalan keluar.


“Jangan khawatir, Cast! Ini baru pertama kalinya bagimu. Lama-alam akan jauh lebih mudah. Percayalah.”


Semoga saja kata-kataku menguatkannya. Aku langsung menahan pintu yang terbuka untuk Erin.


...****************...


Aku kembali ke rumah orang tuaku. “Apa ada yang baru?” tanyaku kepada Mami sambil menggigit biskuit untuk yang kedua kalinya. Padahal aku tak begitu suka dengan keping yang pertama tadi, tapi yang mengesalkan sepertinya ada dorongan unutk memakannya lagi.


“Kau tahu sendirilah, ayahmu saat ini suka sekali mengutip puisi cinta akhir-akhir ini dan aku sendiri menghibur diri dengan belanja di Bond Street, pakaian dalam Chanel di situ tak ada tandingannya.”


Aku meraih cangkir teh dan mulai menyesapnya. “Mami, andai saja aku diangkat menjadi salah satu CEO Humas yang terkenal, aku akan membelikanmu ****** ***** chanel berapa pun yang kau inginkan.”


“Aku sangat yakin brand itu memiliki kapasitas yang berlebihan untuk ukuran brand terkenal.” Akhirnya Mami meletakkan kemoceng dam mengambil cangkir tehnya dan menyesapnya. “Ayahmu pasti tidak akan membedakannya dengan brand lain.”


“Yah, namanya pria memang selalu begitu.” kataku.


Aku bersandar kembali ke sofa tatkala kakakku, Dave, masuk.


“Apakah kau baik-baik saja, adikku?” tanyanya seraya mengibas-ngibaskan rambutku. Ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa sampai-sampai membuat air tehku keluar dari tempatnya.


“Ya, ampun,” protesku.


“Kenapa?”


“Kau nyaris membuatku terkena luka bakar tingkat tiga, Dave!”


Ia melihat pakaianku yang kecipratan teh. “Makanya jangan ceroboh.”


“Oh, jadi kau pikir ini adalah salahku? Bagaimana dengan pantatt semokmu itu yang sudah membuat minumanku bergelombang?” Seketika itu aku menyipitkan mataku.


Ia mengeluarkan suara dengusan seperti bison yang sedang mengamuk. “Bicaralah sesukamu.”


“Itu pasti. By the way, bagaimana kabar Cheryl?” tanyaku, memutuskan lebih baik bersikap manis.


“Apa?” Dave mengambil remot tv dan mulai mencari-cari saluran olahraga.


“Cheril, pacarmu. Bagaimana kau bisa lupa dengan pacarmu itu? Apa kau mempunyai yang lainnya?” Aku memancingnya untuk berkata jujur.


“Oh... baik-bailk saja. Jaga ucapanmu itu.” Ia mengubah ke saluran sport di chanel 5.


Aku menggunakan kata pacar sekenanya saja. Meskipun aku tahu, kalau Dave dan Cheril sudah jalan bersama selama tujuh bulan. Tapi bagi Cheril waktu sangat berarti baginya dan sudah saatnya ia bisa mendapatkan hubungan yang serius ke jenjang yang selanjutnya. Sementara Dave sudah cukup puas dengan seorang model seksi pakaian bikini untuk mendapatkan hubungan sekss rutin dengannya. Itu cerita Cheril ketika menunjukkan foto-fotonya.


Memang keadaannya tidak selalu seperti itu. Dave membuat semua wanita di sekelilingnya jatuh bangun karena dirinya memiliki sesuatu yang misterius. Menurutku, kakakku ini tidaklah tampan-tampan sekali, meskipun aku cenderung menyetujui pendapat wanita lain tentang dirinya kalau ia memang tampan.


Dan di sini lah aku menghabiskan waktu untuk menginterogasinya dengan pertanyaan yang membuatnya berpikir. Tapi kembali lagi pada dirinya yang malas untuk memusingkan apa pertanyaanku. Yah, aku berharap Cheril kuat dengannya. Semoga saja.


...****************...


up dikit ya gaes,


jangan lupa dukungannya


Terima kasih.


tbc