CASTELLO VS JANE

CASTELLO VS JANE
Bab 16



Bab 16


Julian menaruh gelasnya ke atas meja dan berdiri mendekat ke arah Castello. “Maaf, aku harus melihatmu dari dekat.”


Julian lalu berjalan perlahan memutari Castello, mengamati penampilan Castello secara terperinci seperti seorang ahli forensik yang sedang meneliti subjek yang sudah ada dihadapannya.


“Rambut, baju, tubuhnya. Kau jadi terlihat manis setelah melepas kacamatamu.” Julian lalu menarik dagu Castello, “Tidak usah repo-repot mencari pacar.., jadi pacarku saja, Sayang!”


“Julian, kau sungguh membuatku gugup,” Castello tergagap menanggapi.


“Kau harus tahu, Castello. Penampilanmu fantastis, Castello,” puji Erin.


“Aku sungguh percaya apa yang kalian ucapkan. Aku sudah mencoba untuk bercermin, tapi tanpa kacamata pantulanku jadi terlhiat seperti lukisan.”


“Aku jadi tak sabar untuk memulai pelajaran merayu.” Julian merapatkan telapak tangannya dengan gembira.


Castello tertawa canggung. “Oke. Tapi sebelumnya aku mau mengganti lagunya dulu.” Ia lalu berjalan menuju arah iPod berada dan memilih satu lagu. Sungguh ia tak tahu lagu apa itu karena tak memakai kacamata dan penglihatannya sangat kurang dan kurang.


“Nah, sekarang pelajaran pertama adalah tentang mengesampingkan rasa malumu dengan cara melepaskan seksualitas dalam dirimu,” jelas Julian.


“Apa maksudnya?”


“Seksualitas* dalam dirimu.” Julian berkata dengan santai seakan sedang membaca list apa yang ingin dibelinya.


“Harus kuakui akhir-akhir ini seksualitas* dalam diriku tak pernah disalurkan dengan baik,” aku Castello nampak dengan wajah seriusnya.


“Maksudku, kepribadian sensual* yang terpendam dalam dirimu yang ingin segera bebas dan kau harus siap untuk melepaskannya kepada wanita,” ujar Julian menghela napas sambil mencondongkan dirinya di atas sofa.


“Melepaskannya?” Kedua alis Castello terangkat naik.


“Malam ini aku akan membantumu untuk melepaskan bebanmu itu,” angguk Julian. “Jangan khawatir, kau sudah siap untuk melakukan hal ini. Aku bisa melihat dan merasakannya. Aku bahkan bisa mencium hawanya,” ujar Julian lagi.


Castello hanya menganggukkan kepalanya tanya mengerti dengan polosnya.


“Ehm.. aku mau angkat pizzanya dulu,” kataku sambil bergegas menuju ke dapur sebelum Julian sempat melihatku tertawa.


...****************...


Castello boleh jadi murid yang berprestasi dan selalu menjadi juara umum semasa sekolah dahulu, tapi ia bukan lagi siswa primary school, dan malam ini ia duduk di sofa dengan wajah penuh dengan kebingungan. Ia sama sekali tak paham apa yang sedang terjadi dengan dirinya.


“Aturan nomor satu,” seru Julian sambil mengarahkan pennya ke arah poster yang kami buat dari tangga lipat dan segulung kertas dinding, “Adalah merasa nyaman dengan dirimu sendiri. Apa kau nyaman dengan dirimu sendiri, Castello?”


“Aku baik-baik saja,” sahutnya sambil meneguk wine yang ada di tangannya.


“Kami tidak mau kau merasa baik-baik saja. Kami ingin kau merasa sedang berada di puncak dunia. Nyamanlah dengan dirimu sendiri dan orang lain pun akan merasa nyaman denganmu. Semua orang senang berada di dekat sosok yang percaya diri dan berkarisma,” jelas Julian.


“Juga lebih bergaya,” aku menimpali ucapan mereka.


“Dengan gaya rambut yang bahkan membuat Edward Cullen iri terhadap dirimu,” tambah Julian.


Castello semakin terkejut. Itu nampak di wajahnya saat ini, “Apakah aku setampan itu?”


“YA!” Kami menjawabnya dengan serentak.


“Jika memang seperti itu, apakah aku bisa masuk ke bar dan menunggu para wanita mengajakku berdansa di lantai dansa?” tanyanya.


Kami semua pun tergelak mendengar tuturkata dari Castello.


“Kenapa kalian tertawa? Apakah ada yang lucu dengan apa yang aku ucapkan?”


“Kau tidak semenarik itu, Castello,” ujarku.


Tampak wajahnya yang kecewa saat aku berucap.


“Faktanya, seorang wanita itu sedikit memerlukan dorongan. Banyak sekali dorongan yang tercipta. Tidak ada wanita mana pun yang mau merayu seorang pria kalau pria itu sendiri yang tidak menunjukkan tanda-tanda suka padanya,” ujar Julian panjang lebar.


Erin dan aku menatap Julian penuh dengan makna sampai akhirnya ia mengangkat bahunya dan berseru, “Oke, aku biasa merayu pria tanpa isyarat. Tapi aku adalah sebuah pengecualian. Aku bukan gadis idaman, Castello.”


Sekilas aku melihat kelegaan dalam mata Castello.


“Intinya, kau harus menarik perhatian si wanita. Tersenyumlah kepadanya dan katakan, aku suka padamu, menurutku kau menarik. Aku ingin berbocara denganmu lebih dekat. Bolehkah aku duduk di sampingmu? Dan kau harus bisa mengatakan semua ini kepadanya.., tanpa mengucapkan sepatah kata pun,” lanjut Julian.


“Berarti aku harus memberikan dia secarik kertas?” tanya Castello.


Terpaksa aku harus menahan tawaku di dalam mulut.


“Katakan semua itu dengan matamu,” ujar Julian dengan nada merayu.


“Maafkan aku. Aku nyaris tersandung karena pandanganku buram. Bagaimana aku bisa mengatakannya?” ujar Castello bingung.


“Ini bukan hanya soal mata saja, tapi ini masalah bahasa tubuh. Kau harus melakukan dengan keseluruhan bahasa tubuhmu dengan senyummu dan juga caramu bersikap,” tegas Julian.


“Jangan khawatir,” sela Erin. “Kami akan mengajarimu.”


“Betul sekali,” tambah Julian.


...****************...


tbc