
Bab 17
“Jangan khawatir,” sela Erin. “Kami akan mengajarimu.”
“Betul sekali,” tambah Julian. “Jane, mana bangku yang biasa kau taruh di dapur? Kami perlu itu untuk meniru suasana bar di sini.”
Aku bergegas mengambilkan kursi yang terletak di dapur dan membawakannya ke hadapan Julian. Di sisi lain Julian juga sudah membuat konsep bar yang sebagian berdiri dan ada bangkunya juga. Ia segera merebut kursi yang aku bawa dan menaruh di depan piano, di sebelah kursi lain yang sudah ada di sana.
“Begini saja,” ujar Julian. “Nah, sekarang giliranmu, Jane,” lanjutnya lagi.
“Apa yang harus aku lakukan?”
“Kau mulai duluan. Kau duduk di bar dengan gelas wine itu.”
Mata Julian sama sekali tidak berkedip. “Ayolah. Ini hanya untuk latihan saja.”
“Kenapa harus aku? Dan kenapa tidak Erin saja?” usulku.
“Aku tidak mengenal Castello dengan baik, Jane. Dia pasti santai apabila denganmu, Jane,” jelas Erin.
“Tapi...,”
“Ayolah, tidak usah pakai tapi-tapian,” Julian menyergah sambil menggiringku ke bangku. Aku pun segera menyiapkan piano itu, meraih gelas wine-ku dan dengan segera merasa amat canggung ketika berhadapan dengan Castello, sahabatku sendiri.
Mereka pun melakukan adegan sesuai konsep yang sudah di susun oleh Julian. Drama pun berjalan dengan banyak candaan antara Jane dan Castello, sedangkan Julian dan Erin memperhatikan mereka berdua. Sehingga Julian mengubah apa yang dikatakannya, “Sebagai catatan. Aku mengubah Aturan merayu nomor satu. Jangan pernah membahas tentang penyakit menular untuk pertama kali kencan.”
...****************...
Jam sudah menunjukkan pukul setengah tiga dini hari, Erin mulai meracau. Sementara aku nyaris tertidur dan Castello melakukan perannya dengan baik. Julian sendiri sepertinya sudah bosan mengajarkan cara merayu.
Tiba-tiba saja Erin bangkit dan berucap, “Oh, aku mau memesan taksi,” tetapi ia terduduk lagi dikarenakan Erin mabuk berat.
“Kau bisa tidur di kamar Jane, aku akan membantu Jane untuk menyediakan sofa-bed untuk kalian tidur,” tawar Castello.
Erin menoleh kepada Castello sambil tersenyum mabuk. “Aku yakin, suatu hari nanti kau akan mendapatkan kekasih yang tulus padamu dan kau akan menjadi pacar yang penuh dengan kasih sayang, Cas.”
“Terima kasih, Erin. Semoga saja itu benar terjadi,” bisik Castello.
...****************...
Aku tak pernah menganggap diriku ahli dalam hal busana, kecantikan, dan perawatan rambut, tapi dibandingkan dengan Castelllo, aku benar-benar seperti gadis yang beruntung. Aku jelas tahu cara untuk memperbaiki penampilannya. Dan mengingat jasanya kepadaku sudah tak terhitung lagi, maka anggap saja proyek ini sebagai balas budi terhadap dirinya. Semasa aku sekolah, lulus tanpa dibantu olehnya. Aku menganggap diriku sendiri cukup pandai dan yang lebih penting, bertekad untuk menjadi dewasa dan mendapatkan pekerjaan yang bagus.
Dan itu hanya kulihat di layar televisi saja. Ayahku membuka tiga kios yang menjual macam-macam aksesoris kulit asli buatan Italia yang sebenarnya diimpor dari sebuah pasar gelap di Taiwan dan Mami bekerja sebagai seorang staf pembersih. Meskipun aku menghormati mereka, aku tidak mau mengikuti jejak kedua orang tuaku, dan aku tak cukup mendapat dukungan untuk berprestasi dalam ujian.
Setiap aku berpikir bagaimana Castello mengubah kehidupanku, aku selalu teringat akan ujian Math di SMA. Kuakui bahwa aku tidak memiliki kepandaian dalam hal ini. Aku belajar mati-matian agar mengerti apa yang dibicarakan dalam pelajaran Math.
Intinya aku benci dengan Math. Aku tak pernah bisa paham, sekeras apa pun aku mencoba dan berusaha, aku tetap saja gagal. Setiap jam pelajaran Math, aku hanya dapat mengikuti selama lima menit. Selebihnya aku hanya menghabiskan waktu untuk menundukkan kepala dan meminta Castello mengajariku. Aku masih ingat jelas malam sebelum ujian dilaksanakan, Castello berkunjung ke rumahku, saat aku sedang menghabiskan teh panasku.
“Halo, Castello,”sapa Mami saat membukakan pintu untuknya. “Langsung saja ke ruang keluarga. Jane sedang beristirahat minum teh.”
“Terima kasih, Mrs. Swift. Bagaimana kabar dari Jane?” tanya Castello berbasa-basi.
“Sepertinya dia sedang menghitung uang Bill Gate,” sahut Mami yang mengejekku.
Aku menatap Castello. Ia berdiri dengan setumpuk bukunya. “Mau belajar untuk terakhir kalinya?" Ia tersenyum.
“Sudah terlambat. Riwayatku sudah tamat. Aku tak mungkin lulus ujian Math,” ujarku menunduk.
“Jangan pesimis dahulu. Lagi pula, jika kau ingin masuk universitas, kau perlu nilai minimal C.”
“Itu sangat Mustahil,” jawabku ketus.
“Aku berkata dengan jujur. Kau sudah hampir bisa. Kalau kita belajar sedikit lagi untuk beberapa jam ke depan, aku yakin kau pasti bisa,” ujarnya dengan ramah.
Kami lalul berjalan ke kamarku dan mempelajari asas-asas trigonometri dan aljabar selama lima jam berikutnya. Sungguh otakku ingin pecah rasanya. Yang sangat menakjubkan di sini adalah bagaimana Castello mengajariku dan dia cocok sekali menjadi figur seorang guru yang keren dan ramah. Uraiannya juga singkat dan jelas. Ia bisa membuat semuanya menjadi mudah dan gampang untuk dipelajari.
Malam itu aku tidur dengan cukup percaya diri. Kemudian di pagi harinya aku bangun dengan perasaan gugup tak terkira.
Aku ingat saat berjalan diam memasuki ruang ujian dengan tubuh gemetaran. Meskipun aku malam sebelumnya sudah belajar dengan Castello, tapi aku tetep tidak yakin dengan ini. Aku meletakkan tasku di depan ruang ujian, aku pun tersadar, di sepanjang umurku akuakan mendapat pekerjaan rendahan. Universitas hanyalah mimpi bagiku. Dan hanya ada satu kemungkinan. Aku tidak akan lulus ujian. Oh Tuhan! Jangan sampai terjadi.
Sembari mengeluarkan kotak pensilku, aku melihat ada secarik kertasa yang tersimpan di dalam kotak pensilku, lalu aku pun membukanya. Di dalamnya bertuliskan:
Tenangkan dirimu, Jane. Kau tak mungkin gagal dalam ujian kali ini. Aku berjanji akan hal itu. Sampai kau gagal, aku berjanji akan berlari selama sepuluh putaran di gereja Katedral yang kau tahu sendiri berapa luas yang ada di sana.
Aku langsung melirik Castello yang berada di ujung ruangan, mata kami salingn bertaut. Ia segera mengedipkan sebelah matanya kepadaku. Aku pun menggelengkan kepala sambil berusaha untuk tidak tersenyum untuknya.
Mujur baginya, dugaannya benar. Bahkan ajaibnya, aku mendapatkan nilai B. jauh di atas harapanku. Bahkan dunia dan alamsekitarnya tak jadi menyaksikan Castello berlari untuk mengelilingi gereja Katedral sampai dengan sepuluh kali dalam sehari. Aku bersyukur atas hal itu. Dan ini adalah sebuah kemenangan yang besar bagiku dan dirinya. Terima kasih atas bantuanmu, Cas.
...****************...
tbc