CASTELLO VS JANE

CASTELLO VS JANE
Bab 46



Bab 46


Racel telah berhasil membuat Castello memusatkan perhatian kepadanya selama satu jam terakhir dan ketika aku menyusul mereka, Racel sedang berada dalam suasana hati yang gembira.


"Apakah Castello teman satu apartemen yang baik?" tanya Racel menyeringai.


"Oh, dia adalah sebuah mimpi buruk," kataku. "Jangan biarkan pesona lembutnya mengecohmu, Racel. Dia orang yang sulit kalau sedang mau begitu," lanjutku.


"Terima kasih, Jane," Castello tertawa.


"Aku bercanda," kataku menambahkan. "Castello benar-benar luar biasa. Pokoknya hebat. Perilaku Cast yang boleh dibilang antisosial itu hanya kalau sedang bermain piano dengan volume yang terlalu keras."


Racel terpana lagi. "Kau bisa main piano? Aku suka sangat piano."


Aku mulai berpikir bahwa jika kukatakan kepada Racel bahwa Castello membersihkan saluran air di waktu luang, ia akan bilang suka juga. Namun, aku tidak bisa mengeluh, ini adalah efek yang tepat kami harapkan dari Proyek untuk Castello. Hanya saja aku tidak pernah berharap hal itu akan sesukses ini.


"Kau pasti pemain piano yang hebat. Oh, tentu saja. aku yakin," lanjut Rachel.


"Biasa saja." Castello merendah. "Sekadar bisa, tidak lebih dari itu.


"Sekadar bisa?" Aku tersenyum mengejek. "Kata siapa?"


"Oh Cast,, ada piano di sini," cetus Racel.


"Ada piano di sini?" Tiba-tiba Castello terlihat gelisah.


"Ayolah, kenapa kau tidak bermain untuk kami?" Mata Racel berbinar-binar.


"Oh, aku tii... tidak bisa," Castello tergagap-gagap. "Maksudku, sudah ada musik yang dimainkan."


Racel tampak kecewa. "Kau yakin aku tidak bisa memaksamu?"


"Cukup yakin," tukas Castello.


Racel tersenyum tapi kekecewaannya terlihat jelas, bukan itu jawaban yang diinginkannya. "Maaf, aku ke toilet dulu," katanya.


Selagi Racel menghilang ke sisi lain bar, Julian muncul entah dari mana. "Apakah aku mendengar Racel mencoba membujuk Cast untuk main piano?"


"Ya," kata Castello, "tapi kukatakan kepadanya bahwa melakukan sesuatu yang bodoh seperti itu tidak akan ku..."


"Tidak ada yang bodoh dengan kemampuan bermain musik," tukas Julian menyela. "Beberapa tokoh dunia memanfaatkan daya tarik mereka dengan musik. Jika mereka berada di belakang meja, tak seorang pun yang akan melirik mereka. Di atas panggung, itu soal lain," jelas Julian.


"Oh, ya?" Castello mulai memandangi pintu darurat.


"Iya!" seru Julian. "Jika kau pikir Racel terkesan sampai sejauh ini, tunggu sampai kau melihat reaksinya ketika menyaksikan permainan pianomu. Ayolah... biarkan kami melihat permainanmu. Jangan buat Jane dan aku kecewa," tukas Julian.


Cast menatapku dan bahunya terkulai. Kami berdua tahu ia tidak punya kesempatan untuk melarikan diri.


Kemudian aku dan Castello menatap piano itu ketika Julian menghilang untuk memberitahu seseorang agar mematikan musik.


"Apa yang akan kau mainkan?" tanyaku, merasakan kegugupan Castello.


"Entahlah," desis Castello. "Kurasa Vivaldi tidak diterima dengan baik di sini."


"Bagaimana dengan 'Chasing Cars'? Aku suka lagu itu saat kau memainkannya... terutama selingan di bagian tengah lagu. Dan kau hafal semua liriknya."


"Kau punya suara bagus." Aku membaca ekspresi wajah Castello. "Tapi... yah, mungkin kau benar."


"Ayolah, Cast!" Julian muncul lagi dan menyeretnya ke tempat piano itu berada, sebelum mundur kembali untuk bergabung dengan Racel dan aku.


Racel dan Julian bertepuk tangan dengan semangat, tapi sebagian dari orang-orang di bar itu tidak menyadarinya. Dengan enggan, Castello melepas jaketnya dan melemparkannya ke atas piano, mengendurkan ikatan dasi dan menggulung lengan bajunya. Aku melihat Castello yang dulu. Castello yang sebenarnya akan panik ketika seorang wanita berbicara kepadanya sekadar untuk menanyakan arah.


Castello menarik napas dalam-dalam. Sejenak membuangnya dengan perlahan dan membuat gerakan menyakinkan yang penuh dengan ketenangan. Ketika ia membuka dan tersenyum. Aku balas senyumannya dan memberikan dukungan untuk dirinya.


Castello menempatkan jari-jarinya di atas tuts piano dan mulai bermain ...


Aku segera mengenali beberapa bait di pembukaan lagu itu, meskipun versi yang kebanyakan dikenal orang dimulai dengan suara gitar. Penampilannya sungguh luar biasa dalam membawakan lagu itu, terdengar percaya diri.


Suasana di dalam bar riuh daripada sebelumnya tapi ia menuntut untuk didengarkan. Dengan demikian banyak yang memperhatikan, Castello makin tenggelam dengan musiknya. Melakukan sesuatu yang membuatku sangat takjub. Ia mencondongkan tubuhnya dan mulai bernyanyi.


Aku sudah mendengar suara Castello ratusan kali. Ia menyanyi sambil memainkan piano di kamarku. Ia menyanyi di kamar mandi, kalau dia berada di kamarku, bahkan membuat roti bakar sekalipun. Namun, malam ini, suaranya begitu menakjubkan megah dan meriah, diiringi nada-nada indah pianonya. Aku hampir tak bisa mengalihkan pandanganku terhadap dirinya.


Suara Castello menggema. Racel begitu bahagia saat mendengarnya. "Kurasa aku jatuh cinta!"


Julian meraih lenganku. "Ini benar-benar sulit dipercaya, Jane!" ia terkikik.


"Dia memang selalu memuaskan..."


"Jane," Julian menyela omonganku. "Lihatlah semua orang, terutama para wanitanya," ujar Julian mengitari di semua ruangan.


Aku mengikuti pergerakan Julian yang mengitari ruangan itu, Sungguh pemandangan yang fantastis, dan itu seperti mimpi. Castello dikelilingi oleh pria dan wanita. Itu sebagian besar adalah wanita. Mereka bertepuk tangan, mengagumi penampilannya.


Aku melangkah ke depan untuk melihat lebih jelas. Pria yang kulihat itu adalah orang yang sudah sangat akrab denganku, sekaligus sama sekali tidak kukenal. Itu Castello, tetapi pada saat yang sama ia juga seseorang yang berbeda.


Castello rileks sekarang, benar-benar menikmati, dan menyadari efeknya pada orang banyak. Mataku mengamati garis-garis wajahnya saat ia menyanyi dengan intens dan penuh kegembiraan. Mataku mengikuti lenturnya pergerakan bisepnya ketika jari-jarinya menekan bilah-bilah piano, benar-benar menguasainya. Mataku mengamati lehernya yang sensual, kelembutannya, jakunnya...


Apa yang terjadi? Mengapa aku memikirkan hal-hal aneh tentang Castello? Tentang Cast!


Aku merasakan jantungku berdebar kencang dan darah" naik ke wajahku. Aku senang Paul tidak ada di sini sehingga tidak melihat sikapku. Itulah poinnya di mana Paul? Dan apakah aku peduli?


Aku mendongak dan darahku berdesir ketika tatapanku terpaku pada mulut Castello. Untuk alasan yang tidak kupahami, aku mendapati diriku bertanya-tanya bagaimana bila aku memiliki perasaan padanya dan menciiumnya?


"Kau baik-baik saja, Jane?" tanya Julian, sambil menyentuh sikuku.


"Tidak," jawabku.


"Ada apa?"


Lagu telah mencapai bagian akhir dan ruangan bar ini seperti meledak oleh tepuk tangan yang meriah. Castello berusaha mencari-cari wajahku di antara keramaian. Saat matanya bertemu mataku, aku merasakan sesuatu yang hangat mengalir di pangkal pahaku dan aku diserbu oleh sebuah gambaran dalam pikiranku, aku membuka ritsleting celananya dan melingkarkan kakiku di pinggangnya sambil mengerang dengan penuh kenikmatan. Itu salah satu mimpi kotor terdahsyat tentang seseorang yang sama sekali tidak pantas dijadikan objek mimpi.


Aku langsung merasakan seluruh tubuhku lunglai. Aku menoleh ke arah Julian dan berkata dengan suara yang parau. "Tidak apa-apa. Tapi...,"


"Apa? Kau jangan membuatku ketakutan," ujarnya.


"Aku rasa, aku menginginkan Cast," ujarku.


...****************...


Tbc