CASTELLO VS JANE

CASTELLO VS JANE
Bab 34



Bab 34


“Aku merasa akan mengurung diriku sepenuhnya untuk kabur dari masalah ini. Ini sangat memalukan dan mereka akan mengingat ini sepanjang hidup mereka,” lanjutku.


“Oh, come on, Jane. Biarkan itu berlalu. Tak usah dipikirkan. By the way, apakah kau akan segera pulang ?” tanyanya.


“Emm, ya, aku ingin segera pulang setelah aku dari sini.” Aku berjalan ke arah pintu keluar.


“Jane, apakah Castello juga ikut pulang bersama denganmu?” tanyanya menahanku untuk melangkah lebih jauh.


“Iya. Kami baru saja ingin mencari taksi di luar. Ada apa, Racel?” tanyaku kemudian.


“Kupikir Castello tidak ikut pulang bersamamu. Yah, kau tahu itu,” sambil mengkedipkan sebelah matanya.


“Tunggu, maksudmu? Apa kau naksir dengan Castello?” tanyaku lagi. Kali ini aku berhenti pas di ambang pintu dengan raut wajah yang bingung.


“Oh, astaga, Jane! Wanita mana yang tidak naksir dengan cowok tampan seperti Castello. Apakah kau tidak sadar kalau Castello itu cowok tampan? Bagaimana bisa kau tidak naksir dengan cowok tampan yang tinggal satu apartemen denganmu dan kau melihatnya setiap hari?” ujarnya panjang lebar. “Yah, kau dengannya tidak ada hubungan apa-apa, kan?”


“Emm, apa benar begitu? Aku sampai tidak menyadarinya kalau dia adalah cowok tampan. Yah,dia sahabatku. Kami memang tidak ada hubungan apa-apa,” jelasku menjawab gundah gulana yang dirasakan oleh Racel.


Racel memiliki binar di wajahnya saat mendengar kabar itu. Ia lantas memuji Castello yang pintar dan cerdas, tampan dan perfect. “Dia masih lajang, kan? Dia bilang begitu kepadaku.”


“Ya, itu benar," jawabku singkat.


“Wah, apakah ada peluang untukku?” Racel nyaris pingsan kegirangan. “Coba ceritakan, menurutmu apakah aku harus mengajaknya berkencan? Kau lebih mengenalnya. Apakah dia akan berpikiran bahwa aku agresif?”


Aku melangkah mundur lalu menatap Racel. Menatap rambut cokelatnya, kulitnya yang putih bercahaya, bibirnya yang menggoda setiap para kaum adam saat melihatnya, selera berpakaiannya yang sempurna. Aku menggeleng-geleng. “Tidak, kurasa dia takkan menganggapmu terlalu agresif. Kurasa dia akan menyukainya."


“Benarkah? Terima kasih, Jane! Apakah penampilanku oke?”


“Kau jauh tampak lebih indah dan luar bias,” jawabku, membayangkan malam indah yang akan dijalani Castello daripada malam-malam milikku.


...****************...


Castello mengangkat bahunya. “Ya, tentu saja."


“Tapi kau tidak tahu apa humas itu. Memangnnya kau mau ngomong apa saat di panggung?"


Ia sedikit berpikir, “Mungkin saja berkaitan dengan suatu organisasi yang membutuhkan humas seperti halnya semua orang yang membutuhkan oksigen.”


Aku langsung tergelak. “Harusnya kau yang naik ke atas panggung dan menggantikan diriku. Aku tadi banyak omong kosong yang kuucapkan.”


“Aku tadi senang sekali,” ujarnya tiba-tiba.


“Kau telah mendapatkan nomor telepon Racel, kan?” tanyaku langsung.


Castello menganggukkan kepalanya daalam keadaan menunduk malu. “Apakah terlihat sulit dipercaya?”


“Sama sekali tidak. Kau harus memperhatikan betapa karismatiknya dirimu,” ujarku, memberi pukulan pelan di bahunya.


“Kita lihat saja. Apakah dirinya akan meneleponku nanti.” Pandangannya tetap menunduk.


“Pasti.” Aku belum pernah merasa seyakin ini seumur hidupku. “Kembali lagi ke masalahku yang tadi. Aku berharap membiarkanmu menolongku tadi, jadi aku takkan membuat pidato paling buruk dalam acara penerimaan anugerah sejak kesalahan yang terjadi di penghargaan Oscar.”


Castello menahan senyumnya. “Bukan berarti kau tidak pernah menyelamatkanku saat kita dulu berkemah di New Wales.”


...****************...


tbc