CASTELLO VS JANE

CASTELLO VS JANE
Bab 61



Bab 61


Tampaknya Drew telah memamerkan kebolehannya. Setelah empat babak, ia dan teman-temannya yang cerewet dan menjengkelkan itu menjadi tim yang memimpin, diikuti oleh Castello dan aku. Ini tidak buruk, terutama karena aku hanya menyumbangkan tiga jawaban.


"Baiklah," aku mendengus gusar, "apa gunanya jika kita tahu tahun meninggalnya Pablo Picasso? Aku..."


"Sembilan belas tujuh tiga," bisik Castello, menulis jawabannya.


"Apa?"


"Itu tahun meninggalnya Picasso. Setelah ini akan muncul pertanyaan tentang geografi." Castello dengan cekatan menulis jawaban atas segala pertanyaan, mulai dari ibu kota Grenada (St. George's) sampai negara dengan garis pantai terpanjang (Kanada) dan nama bendungan di perbatasan Zambia-Zimbabwe (Karibia).


Dengan santun Castello berunding denganku setelah setiap pertanyaan diajukan, tampaknya tidak menyadari bahwa aku tidak akan menolak jawabannya dan mengajukan usulan jawaban sendiri.


"Menang di kuis ini tidak menandakan seseorang itu cerdas," kataku pada Cast. "Tentunya aku tidak bermaksud meremehkanmu... aku tahu kau benar-benar cerdas. Hanya saja, beberapa orang membaca buku-buku kuis dan menghafalkan jawabannya... apa hebatnya keterampilan semacam itu? Setidaknya dalam kasusmu, kau menjawab pertanyaan karena kau benar-benar tahu semua itu, meskipun hanya Tuhan yang tahu bagaimana caranya. Separuh dari orang-orang ini telah menghabiskan terlalu banyak malam untuk mempelajari buku panduan kuis mereka."


Aku sedikit mengubah sikapku ketika aku berhasil menjawab pertanyaan lainnya, dengan tepat pula, menyebut James Harding sebagai editor The Times.


"Kalau begitu tidak seluruhnya sia-sia," kataku, senang dengan diriku sendiri.


Sayangnya, aku mengecewakan diriku sendiri ketika, pada segelas wine sesudahnya, aku secara spontan berteriak "Ibiza" ketika ditanya bendera negara mana yang memiliki paling banyak warna. Rupanya itu adalah Afrika Selatan, meskipun aku bertaruh bahwa para pengacau yang terkikik di meja sebelah juga tidak tahu jawabannya.


Saat kuis berlanjut, Drew dan teman-temannya menjadi lebih cerewet, lebih mabuk, lebih menyebalkan, dan berbangga diri. Celakanya, mereka terus-menerus menang.


Lalu, seolah-olah para dewa tersenyum kepada kami, babak selanjutnya diumumkan: musik klasik. Setelah lima pertanyaan, Castello meletakkan penanya.


"Aku tidak yakin pada pertanyaan tentang Dido and Aenear," katanya sambil menggerutu.


"Jangan khawatir, Cast." Aku menepuk kakinya. "Aku juga tidak yakin."


Dalam kuis tersebut, kami tidak benar-benar mengalah meskipun, mengingat reaksi mereka, kami mungkin telah melakukannya. Kami mengalahkan mereka dengan selisih hanya dua poin: 78-76.


Drew sangat marah, beranjak dari kursinya dan langsung menuju ke toilet pria. Aku benar-benar gembira, melompat dan memeluk Castello tanpa sadar seolah-olah ia memenangkan Grand Prix Monaco. Sambil tertawa, ia melepaskan diri dari pelukanku dan menatapku.


"Sepertinya kau senang karena sudah menang."


"Kau kadang-kadang ahli dalam hal mengecilkan suatu perkara, Cast. Aku memang senang sekali karena bisa menang." Tidak dapat mengendalikan diri, aku mencium pipinya, sebelum menarik diri karena malu. Castello juga nampak canggung.


"Aku lapar," katanya, memecah keheningan.


"Bagaimana kalau kita pulang dan makan roti bakar sebelum tidur," saranku.


"Kau wanita yang tahu bagaimana caranya hidup, Jane." Castello menyeringai.


Castello dan aku berada di pintu pub ketika Drew muncul, salah satu kuman yang dapat berbicara dalam sebuah iklan cairan pembersih.


Aka tidak sombong," kataku memprotes.


"Hah! Sombong itu nama tengahmu. Setiap kali kau menenangkan kontrak, atau mendapatkan slot berita di Jovan, atau Roger memintamu untuk mengurusi klien besar, Kau sombong... makhluk yang sangat sombong."


Aku mengernyitkan dahi. "Kau puitis seperti biasanya, Drew. Maksudku Andy."


Drew menyipitkan matanya. "Kau menyebalkan," gumamnya, nyaris jatuh menimpaku.


"Demi Tuhan!" Aku mendorongnya dengan marah.


"Itu hanya kuis."


Aku tidak mengatakan apa-apa.


"Benar-benar buruk, kan?" Drew menyeringai. "Ayolah, apakah kau yang membocorkan berita itu?"


"Mengapa aku membocorkan berita itu, kalau akibatnya aku kehilangan seorang klien?"


"Hmm, benar juga." Drew mengerling menyebalkan. "Kalau begitu mungkin kau memberitahukan informasi itu kepada seseorang yang seharusnya tidak kau beritahu.... Julian mungkin? Kau sepertinya menceritakan segalanya kepadanya."


Drew mengenali ekspresiku dan tersenyum penuh kemenangan. "Aku benar, kan? Kau memberitahunya. Julian bisa menjadi biang gosip, kalau aku tidak salah dengar. Kalau aku jadi kau, aku akan berhati-hati mulai sekarang."


"Mengapa kau begitu tertarik pada apa yang terjadi dengan masalah yang sedang kuhadapi?" Untuk beberapa detik aku yakin bahwa Drew berada di balik bencana Peach Gear. Lalu aku menyadari bahwa tidak mungkin seperti itu. Tidak mungkin ia bisa tahu tentang masalah dengan vest top itu sebelum sampai ke telinga pers.


"Itu tidak ada hubungannya denganku." Drew terkekeh, "Maaf, Swift, tetapi kau tidak dapat menyalahkan aku, Jadi, bagaimana kau akan keluar dari masalah itu? Oh, aku tahu... mungkin kau bisa tidur dengan bos. Itu yang seharusnya segera kau lakukan, dasar perempuan murahan. Aku belum pernah bertemu siapa pun yang pernah berganti-ganti teman tidur sebanyak yang kau lakukan, Jane."


"Aku tidak berganti-ganti teman tidur, Drew." Aku benci diriku sendiri karena termakan umpannya. "Aku hanya belum menemukan seseorang yang tepat."


"Kau lebih suka melancarkan jalanmu dengan cara tidur dengan mereka?"


Pikiranku berdesing untuk mencari serangan balasan cepat yang mampu menebasnya, namun tidak ada yang tampaknya mampu menebas dengan cukup dalam, ketika Castello menengahi.


"Kami sudah cukup mendengar darimu, Andy," kata Castello dengan tenang, mengajakku ke pintu.


"Drew," Drew menggeram.


"Baiklah," ujarnya dengan tenang. "Drew. Intinya, Jane tidak ingin berdiri di sini dan mendengarkan semua ini. Aku juga tidak."


Castello berbalik dan menggandengku melewati pintu.


"Dasar orang aneh sialan!" Itulah yang kami dengar.


Castello berhenti. Aku mendongak untuk melihat reaksinya. Tetap benar-benar tenang, ia hanya berkata, Ayo. Mari kita pulang."


"Kau selalu menjadi orang aneh, kan, Cast?" Drew tampak seperti anjing gila. "Aku tidak percaya kau dan Jane sudah jadian. Hah! Kalian memang pantas mendapatkan satu sama lain. Perempuan murahan dan si orang aneh sialan."


Castello berbalik dan melotot pada Drew. "Apa katamu?"


"Kau dengar aku, Kecoa." Castello menggeleng, dengan ekspresi iba di wajahnya.


Hal ini tampaknya membuat Drew lebih marah. Saat Castello melangkah pergi lagi, Drew menerjangnya. Memukul dan mengumpat, ia menggasak Castello dengan segenap kemarahan yang mengalir melalui pembuluh darahnya yang beracun itu. Aku berdiri, tertegun, dengan tanganku menutup mulutku dan jantungku berdetak kencang karena panik. Kemudian terjadilah sesuatu yang tidak pernah kubayangkan.


Castello mengangkat kepalanya, mencekik tenggorokan Drew dan memukul Drew. Telak di wajah.


Drew jatuh ke tanah.


"Oh. Tuhan." Aku menatap Drew yang teronggok di depanku ketika Castello menghela napas, meluruskan kemejanya dan berjongkok di sebelah Drew untuk memeriksa keadaannya.


"Jangan mendekat," Drew merintih, mencoba merangkak menjauh.


Castello berdiri, jari-jarinya menyisiri rambutnya dengan baik. "Aku tidak ingin melakukan itu," katanya. "Aku benar-benar tak ingin melakukan itu."


...****************...


Tbc