
Bab 11
“Apa?” Erin dan aku terkejut saat mendengar Julian ucapannya.
Julian sendiri nampak tidak kaget dengan pernyataannya itu. "Kalian kenapa? Bukannya itu hal yang wajar?"
"Iya memang hal yang wajar. Tapi kalau kau yang berucap, aku sedikit tidak mempercayainya. Bukan apa-apa, Julian, seperrnya kau tak pernah berniat untuk menjalin hubungan serius," ucapku terang-terangan.
"Ha ha ha, aku tahu," tegas Julian, "Tapi apa salahnya aku mulai mempertimbangkannya?"
"Kenapa?" tanya Erin dengan bingung.
Julian terdiam sejenak mengingat sesuatu yang terjadi Minggu lalu. "Angle, sepupuku telah bertunangan. Biasanya dia begitu putus asa dan selalu berkeluh kesah di sepanjang hidupnya. Tapi minggu lalu, kalian tahu? Wajahnya berseri tak terkira dan selalu tersenyum. Hal itu yang membuatku selalu berpikir ingin berkomitmen dalam sebuah hubungan. Lagi pula, aku sudah pernah mengalami semua hal."
Tiba-tiba saja, pintu fitting room terbuka dan kepala Castello pun mencungul dari balik pintu itu. "Aku tidak yakin dengan hal ini. Apakah ini cocok untukku atau tidak."
"Oh My, Mr. Castello yang terhormat!" sahut Julain, "tentu saja itu akan cocok untukmu. Semua baju itu keren dan kau pasti terlihat hebat. Sekarang aku mau melihatnya. Ayo, cepat tunjukkan padaku!"
Julian beranjak dari duduknya sebagai penata gaya bagi Castello. Ia sungguh menjelma seperti interogator yang handal. Castello pun memberanikan dirinya untuk melangkah maju dari balik pintu itu, walaupun enggan untuk melangkah maju. Kami bertiga hanya bisa menganga melihat penampilan yang ditunjukkan oleh Castello.
"Bagaimana? Kenapa kalian terlihat bengong seperti mulut monyet*? Apakah penampilanku tidak pantas?"
Hingga tadi, kami mengira bahwa baju pilihan kami sudah tepat untuk Castello. Namun itu adalah kekeliruan, sungguh kekeliruan yang fatal? Entahlah.
"Kenapa jadi seperti itu?" ucap Julian.
"Apanya?" tanyaku.
"Dia.., membuat baju-baju keren tadi jadi.., seperti itu."
Setelah kami semua mengamati penampilan Castello selama hampir sepuluh menit, kami pun menemukan permasalahan yang ditimbulkan. Pertama, Castello memberikan informasi tentang ukuran baju. Dan itu membuat penampilannya seperti sekarang ini. Bagaimana dengan celana panjangnya membuatnya tampak seperti tukang bersih-bersih dari abad sebelum Masehi.
Kedua, kami telah menjelaskan sesederhana mungkin, tetapi Castello salah memadu padankan setelan itu. Ia memadankan kemeja malam yang bergaya dengan celana panjang berwarna abu-abu yang seharusnya untuk santai sehari-hari. Meski dia merupakan seorang profesor yang memiliki kecerdasan, tetapi ia bisa juga berbuat yang jauh dari kecerdasannya.
Ketiga, Castello juga mencoba memadankan baju barunya dengan baju lamanya.
Dengan segera, Castello di dorong kembali ke dalam fitting room dengan penjelasan dan perintah yang jelas.
"Hei, apa yang kau masukkan?" tanyaku saat Julian menjejalkan sesuatu ke dalam tasnya.
"Kaus singlet Castello," jawabnya.
Aku pun melirik tajam ke arah Julian. "Itu merupakan baju favoritnya."
Sementara Castello melihat penampilan barunya di pantulan cermin fitting room. "Sepertinya ini akan cocok untukku," ujar Castello seraya mengangkat baju terjelek yang pernah kulihat. Kami masih ditempat yang sama dengan melakukan pemilihan baju terbaik untuk Castello, lalu menyuruh Castello kembali memasuki fitting room untuk mencobai setelan baju, berharap ini akan berhasil.
Aku merebut baju itu dari tangannya dan menaruhnya kembali ke dalam rak dengan tatapan tajam. Castello melihat ekspresi dan perlakuanku bingung.
"Kenapa? Jelek?"
Aku hanya menggeleng.
"Warnanya terlalu terang, ya," ia menyimpulkan sendiri. "Baju itu pilihan ideal jika aku harus bergabung dengan tim penyelamat di pegunungan dan harus terlihat mencolok di tengah kegelapan."
"Ini bukan untuk ke pegunungan, tapi ini untuk terlihat menarik di mata lawan jenismu. Aku menyarankan yang ini saja." Aku mengulurkan kaus bergaris merek Polo Raph.
"Ini terlihat biasa saja. Kukira idenya adalah membuat koleksi bajuku berwarna-warni." Castello tersenyum geli.
Tiba-tiba Julian muncul dengan setumpuk pakian. "Ini semua untuk kau. Kali ini aku akan ikut denganmu masuk ke dalam fitting room itu. Ada fitting room khusus diujung sana."
Castello hanya bergumam dan menarik napasnya dalam.
"Jangan begitu, kau tetap boleh mengenakan celana dalammu," tegur Julian sambil menggandeng lengan Castello. "Ini untuk kebaikanmu ke depannya, Castello. Dan aku akan memastikan bentuk tubuhmu juga agar aku bisa menilai pantas atau tidak."
"Apa pentingnya kau mengetahui bentuk tubuhku?"
Julian tidak menanggapi karena sudah jelas apa yang ia katakan. "Selanjutnya kupasrahkan kau kepada sahabatku."
Erin tersenyum penuh simpati. "Castello, intinya sangatlah penting untuk mengetahui bentuk tubuh seseorang, baik pria maupun wanita, agar kita bisa membantu dalam tampilan yang prima. Misalnya saja seorang pria berkaki pendek lebih pantas memakai setelan satu warna untuk memberi kesan kaki yang lebih panjang."
"Kurasa itu bukanlah contoh yang tepat, Erin," ujarku. Castello memiliki tubuh tinggi jangkung di antara kebanyakan pria di tempat itu.
"Tentu saja," sahut Erin. "Kasusnya memang berbeda untuk masing-masing orang."
"Contoh lain, pria yang memiliki tubuh gendut," celetuk Julian.
"Betul. Mereka itu harus menghindari jas berkancing dobel atau baju atasan yang lebih ringan daripada bawahannya," jelas Erin.
"Sungguh aku tak tahu bahwa memilih baju itu serumit itu," gumam Castello yang masih dapat di dengar oleh mereka semua.
"Makanya kau perlu aku," cetus Julian seraya menggamit lengan Castello.
...****************...
tbc