
Bab 42
Belum sempat aku menyadari, aku sudah tinggal memakai bra saja di lorong masuk apartemennya dan bibir Paul memagut leherku. Aku terantuk di tangga bajunya lepas. Kami menghempaskan diri ke pintu kamar, ketika rokku terlempar. Aku terengah-engah oleh deru gaiirah ketika celana panjangnya dilempar ke salah satu sisi ranjang dan bungkus pelindung pusaka dari dompetnya dirobek terbuka.
Aku menggeliat-geliat di ranjangnya, mataku terpejam ketika memasuki saat-saat penuh kenikmatan menuju puncak kebahagiaan karena aku tahu sampai malam berakhir nanti aku akan menjalani pengalaman panjang paling intim yang telah lama tak kurasakan.
...****************...
Aku menatap langit-langit kamar Paul ketika suara dengkurnya yang berdesir. Seraya menarik selimut menutupi dadaku, aku berpikir apakah sebaiknya aku pulang saja.
Jelas pria ini tak bisa terangsang lagi untuk bangun dari tidurnya dan bercumbu lagi. Lagi pula, kurasa aku tak akan bisa memunculkan gairaahku kembali kalaupun mau. Paul tertidur saat ia tengah berusaha melakukannya, dan membuatku tak tertarik melakukannya lagi.
Aku berpikir apakah yang barusan ini adalah penyatuan yang hebat? Mungkin tidak, kalau dinilai dari betapa cepatnya ia lemas. Tapi masih untung, bisa saja tadi jauh lebih cepat daripada merebus telur setengah matang.
Aku mengeluh, menyorong Paul ke sisi lain ranjang lalu mulai memunguti pakaianku dan baru sadar kalau blusku tergantung di bawah tangga dan braaku di luar kamar mandi.
Aku membuka pintu kamarnya lalu mengintip keluar. Ketika aku sudah yakin tak ada orang lain di rumah, aku beringkat-jingkat ke bawah, mengambil blus dari birai tangga lalu meloncat cepat kembali ke kamarnya sambil mencomot pakaian penutup dadaaku dalam perjalanan menuju ke sana.
"Hei, kau."
Aku terlonjak mendengar suara itu sampai-sampai nyaris menjatuhkan blusku lagi, tapi untunglah aku masih bisa mencengkeramnya di depan dadaaku.
Suara tadi ternyata dari salah satu teman se-apartemen Paul.
"Selamat tidur, baby."
"Oh, iya," jawabku, berpikir apakah ia memperhatikan bahwa aku berdiri di puncak tangganya, yang tak menggunakan pakaian dalam bagian atas dan, oleh karena itu, tidak sedang berminat mengobrol.
"Ke mana saja semalam?" tanyanya.
"The Loft Longue." Aku mencengkeram blusku lebih erat untuk menutupi dadaku.
"Oh." Ia mengangguk. "Aku tidak suka ke sana."
"Oh, ya? Ya sudah. Aku harus pergi," ucapku mengakhirinya.
"Tidak masalah," katanya. "Sampai ketemu lagi... Liency, iya kan?"
"Jane," aku mengoreksi sambil mematung di depan pintu kamar Paul.
"Oh." Ia mengangguk. "Sampai ketemu, Narcy."
"Ya." Aku tersenyum sambil menutup pintu. Paul sudah berbalik posisi jadi menelungkup saat aku kembali, keseluruhan punggungnya yang atletis tampak, bokoongnya sama sekali tak tertutup selimut. Aku membungkukkan badan mendekat ke wajahnya yang beradu dengan bantal. Bibirnya yang lembut sedikit terbuka, pelupuk matanya bergerak-gerak seolah-olah ia sedang mengalami mimpi yang sibuk. Ia tampak ringkih, mirip anak-anak, hingga membuatku tersenyum. Aku merunduk dan mencium kepalanya dan membantu menyelimuti dirinya.
"Tak seperti yang kuharapkan," bisikku, rambutku tersapu ke wajahnya. "Sayangnya aku masih sangat menyukaimu." Ucapanku merupakan hal terakhir yang kuucapkan sebelum aku meninggalkannya.
...****************...
Ketika aku terbangun keesokan paginya di tempat tidurku sendiri, aku merasa galau. Fakta bahwa aku hampir melakukan hubungan intim dengan seseorang yang belum lama kukenal telah membuatku merasa tidak memuaskan. Jika kejadian itu menggairahkan dan sensasional, kupikir aku masih bisa mengatasi kekecewaan ini. Yang membuatku merasa hampir mati adalah kejadian itu berlangsung begitu cepat dan sama sekali tidak menyenangkan. Aku membayangkan wajah Paul yang sedang tertawa, dan merasakan gelombang cinta yang tulus.
Ponselku berdering Aku meraih ponsel tersebut dari sisi tempat tidurku dan melihat ada pesan masuk. Dari Paul.
"Maafkan sikapku tadi malam. Sejujurnya... aku khilaf.
Mengerikan. Bisakah kita mencoba lagi?"
Aku menutup SMS itu dan menelepon Julian.
"Pokoknya tidak bisa dikatakan," hanya itu yang dapat kukatakan.
"Tapi melakukan hal itu bukan segalanya, kan? Dangkal sekali jika kubiarkan hal ini membuatku tertekan, kan?"
Julian ragu-ragu dan aku sadar aku bertanya kepada orang yang salah. "Jadi, segala sesuatunya berjalan lancar sampai saat itu?"
"Iya .. Itu benar."
"Pendapatku begini, sebagian dari diriku mengagumi pria itu karena dia mengakui telah merusak suasana. Itu membutuhkan keberanian. Tentunya cukup berisiko jika menemuinya. Jika kau benar-benar menyukainya, maksudku kau harus memberinya kesempatan untuk menebus kesalahannya."
Aku puas dengan jawaban ini. Kencan ini memang bukan seperti dalam sebuah film, melainkan sesuatu yang masih membuatku ingin pergi dengan Paul.
"Bagaimana dengan Castello?" lanjut Julian. "Apakah
dia beruntung?"
"Aku belum tahu." jawabku, kemudian terdengar dentingan panci di dapur. "Oh, kurasa dia sudah bangun. Nanti akan kuceritakan padamu."
Sembari melangkahi pakaian, sepatu, dan bekas-bekas pembersih make-up tadi malam, aku meraih mantel tidur untuk menutupi piyama yang kukenakan. Setelah berbasa-basi dengan Julian dan membaca pesan permintaan maaf Paul, aku tidak lagi terlalu tertekan oleh fakta bahwa malam itu berakhir dengan diriku dalam pakaian tidurku dan wajah yang sudah dibersihkan, dan bukannya sarapan di tempat tidur setelah malam panjang yang penuh gairaah.
"Selamat pagi!" Aku memandang wajah Castello untuk mencari tanda-tanda keberhasilannya atau sebaliknya. Dengan usahanya tadi malam.
"Hei, Jane." sapa Castello, seperti yang selalu dilakukannya setiap pagi. "Mau roti?"
"Tidak. Aku harus tetap diet," ucapku.
Jika aku ingin tetap mempertahankan Paul, jadi aku pergi ke freezer untuk mengambil roti dietku. Kucoba untuk mengambil sepotong tapi roti itu beku, bahkan ketika aku mengangkat semuanya dan mencoba memotongnya dengan pisau mentega. Aku pun merasa seolah-olah memotong marmer. Sekian lama aku memotong, akhirnya aku berhasil memotongnya sedikit dan memasukkannya ke pemanggangan.
"Bagaimana tadi malam?"
Castello mengangkat bahunya, "Ya, begitulah."
"Maksudnya? Jangan membuatku penasaran, Cast!" ujarku.
Castello menyeringai dan memandang pemanggang, dan dari pemanggang tersebut terlihat aliran tipis asap hitam yang mengepul. Roti itu berada di dalam selama beberapa detik, tapi tampaknya roti tersebut telah membatu.
Aku menggelengkan kepala. "Cast, ini adalah kencan pertamamu untuk usia dua puluh delapan tahun. Jika kau pikir akan berhasil dengan kata-katamu itu tadi, kau benar-benar tidak beres."
Castello tidak menggubris omelanku. Dia mencoba mengalihkan topik pembicaraan di pagi ini. "Apa kau ingin yang lebih istimewa?"
"Menurutku, iya." Aku menganggukkan kepala dengan maksud menyetujuinya.
"Kalau begitu, bersiaplah. Ganti pakaianmu dengan cepat, dan aku akan membelikanmu sarapan," gegas Castello.
Aku langsung bergegas untuk menggantikan pakaian pajamasku dan tetap memakai mantel yang tadi kupakai. Kami berdua langsung keluar untuk mencari sarapan. Rasanya sudah berabad-abad Castello dan aku tidak makan di luar untuk sekadar sarapan, dan sekarang kami menikmati sekali rasanya. Kemudian aku dan Castello memesan menu sarapan seperti biasanya.
"Jika kau masih mencoba untuk membuatku mati penasaran, lebih baik aku pulang dan melanjutkan membaca novel romantis yang telah kubaca" kataku kepada Castello.
...****************...
Tbc
'